Serbuan mobil listrik asal China belum membuat posisi Astra International di pasar otomotif nasional bergeser jauh. Perusahaan ini masih menargetkan pangsa pasar di kisaran 50 persen dan menilai ruang pasar Indonesia masih cukup luas untuk menampung berbagai jenis kendaraan sekaligus.
Pandangan itu muncul karena Astra membaca perubahan pasar bukan sebagai perebutan satu teknologi dengan teknologi lain. Mobil listrik, hybrid, dan kendaraan bermesin konvensional dinilai masih punya tempat masing-masing, tergantung kebutuhan konsumen dan karakter wilayah.
Pasar Indonesia dinilai belum bergerak ke satu arah
Di tengah makin rapatnya persaingan antar merek, Astra tetap melihat peta permintaan otomotif nasional sebagai pasar yang berlapis. Tidak semua konsumen memiliki kebutuhan yang sama, sehingga pilihan kendaraan juga tidak bisa diseragamkan.
Direktur ASII Gidion menyebut posisi Astra di pasar domestik selama ini memang konsisten berada di sekitar 50 persen. Menurut dia, angka itu masih realistis dipertahankan meski kompetisi kini semakin ketat.
“Kalau kita lihat secara historis, market share Astra itu kurang lebih sekitar 50%, walaupun di tengah kompetisi yang sangat dekat,” ujar Gidion.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Astra tidak hanya mengandalkan kekuatan merek. Perseroan juga bertumpu pada jaringan bisnis yang luas agar tetap dekat dengan konsumen di berbagai daerah.
Kota besar dan luar kota punya kebutuhan berbeda
Astra melihat pola pembelian kendaraan di wilayah perkotaan besar berbeda dari daerah non-primer. Di Jabodetabek, kendaraan listrik dinilai lebih cepat diterima karena infrastruktur pendukung sudah tersedia dan konsumen lebih terbuka pada teknologi baru.
Perseroan menyebut serapan kendaraan listrik di wilayah Jabodetabek sudah menyumbang lebih dari 20 persen. Kondisi itu juga didorong oleh daya beli masyarakat perkotaan yang relatif lebih tinggi serta kemudahan akses ke fasilitas pengisian daya.
Sebaliknya, konsumen di non-major city masih sangat mempertimbangkan harga yang terjangkau dan fungsi kendaraan. Di wilayah ini, aspek affordability dan kegunaan harian menjadi penentu utama sebelum pembelian dilakukan.
“Kalau di kota besar, daya beli lebih tinggi, infrastruktur charging sudah ada, dan masyarakat lebih terbuka terhadap teknologi. Tapi di non-major city, pertimbangannya lebih ke affordability dan fungsi,” kata Gidion.
Karena itu, kendaraan hybrid dan mesin konvensional atau ICE masih dinilai penting di luar pusat kota. Astra membaca bahwa kebutuhan pasar tidak bisa diselesaikan hanya dengan satu jenis produk.
Strategi multi-pathway tetap dijalankan
Untuk menjawab kondisi pasar yang beragam itu, Astra menempuh strategi multi-pathway. Pendekatan ini memberi ruang bagi perusahaan untuk menawarkan BEV, hybrid, dan kendaraan konvensional secara bersamaan.
Strategi tersebut tidak hanya berhenti di lini produk. Astra juga mengandalkan ekosistem yang mencakup dealer, pembiayaan, dan layanan purna jual supaya konsumen lebih mudah memilih kendaraan yang sesuai kebutuhan.
“Dengan ekosistem yang luas, dealer, financing, dan after sales, kami mencoba menghadirkan produk yang paling sesuai dengan kebutuhan pasar,” ujar Gidion.
Melalui pendekatan ini, Astra tidak sekadar menjual mobil. Perusahaan juga membangun kemudahan sepanjang proses kepemilikan kendaraan agar pelanggan tetap merasa dekat dengan layanan yang dibutuhkan.
Persaingan baru belum mengubah dominasi lama
Masuknya pemain baru, termasuk dari China, memang membuat lanskap otomotif nasional semakin kompetitif. Namun, Astra menilai perubahan itu belum cukup untuk menggeser arah pasar Indonesia ke satu teknologi saja.
Bagi Astra, dominasi di pasar otomotif bukan hanya soal harga atau tren kendaraan terbaru. Kepercayaan konsumen, kemudahan akses distribusi, dan layanan yang tersebar luas tetap menjadi faktor yang menjaga posisi perusahaan.
Itulah sebabnya target mempertahankan pangsa pasar sekitar 50 persen masih menjadi pegangan utama. Astra melihat fondasi bisnis yang kuat akan membantu menjaga relevansi produknya di tengah perubahan preferensi konsumen.
Dengan pasar yang masih terbuka untuk berbagai pilihan teknologi, Astra menempatkan aksesibilitas, jaringan layanan, dan kesesuaian produk sebagai penopang utama. Di tengah gempuran mobil listrik China dan perubahan selera konsumen, perusahaan ini tetap membaca pasar sebagai arena yang masih memberi ruang bagi BEV, hybrid, dan ICE untuk berjalan berdampingan.