Banyak orang masih mengira peci dan kopiah adalah benda yang sama karena sama-sama dipakai pria muslim sebagai penutup kepala. Padahal, keduanya punya ciri yang berbeda dan tidak selalu hadir dalam konteks yang sama.
Perbedaan itu terlihat dari bahan, bentuk, fungsi, sebaran penggunaan, sampai harga. Karena itu, mengenali keduanya membantu saat memilih penutup kepala yang sesuai untuk salat, pengajian, acara formal, atau kegiatan adat.
Bahan menjadi pembeda yang paling mudah dikenali
Peci tradisional Indonesia biasanya dibuat dari kain rajut, songket, wol, hingga poliester. Pilihan bahan yang beragam membuat peci hadir dalam lebih banyak model dan gaya.
Kopiah cenderung memakai bahan yang lebih premium, seperti wol yang awet dan kuat, lalu dipadukan dengan kapas atau sutra yang terasa lembut. Karena bahan yang digunakan lebih terbatas, variasi model kopiah biasanya tidak sebanyak peci.
Bentuk keduanya juga tidak serupa
Secara fisik, peci umumnya berbentuk membulat dengan bagian atas datar. Pada beberapa jenis, bentuknya bisa mengikuti kontur kepala, tergantung bahan yang dipakai.
Kopiah atau songkok biasanya terlihat lebih tinggi dan meruncing seperti kerucut atau silinder. Bagian tepinya sedikit melengkung ke dalam, dan sisi kopiah sering dihiasi bordiran bermotif.
Konteks pemakaian ikut membedakan
Peci dan kopiah sama-sama dipakai untuk ibadah dan kegiatan sosial. Namun, peci juga sering berfungsi sebagai simbol atau identitas tradisi tertentu di sebuah daerah.
Karena peran budayanya itu, peci kerap muncul dalam upacara adat dan cocok dipakai di acara non-formal. Kopiah lebih sering terlihat dalam acara formal atau kenegaraan, selain untuk salat, terutama di kalangan masyarakat Melayu.
Sebarannya tidak sama luas
Peci memiliki penyebaran yang cukup luas di berbagai wilayah, termasuk Timur Tengah, Asia Selatan, Eropa, hingga Asia Timur. Di banyak tempat itu, peci tidak hanya dipandang sebagai simbol religius, tetapi juga bagian dari identitas budaya.
Sebaliknya, kopiah lebih terkonsentrasi di Asia Tenggara, khususnya pada masyarakat Melayu. Karena itu, kopiah dari Indonesia maupun Malaysia relatif jarang ditemui di banyak negara lain.
Harga sering menjadi petunjuk awal
Walau bukan patokan utama, harga kerap membantu orang awam membedakan keduanya. Secara umum, peci cenderung lebih murah daripada kopiah, selama kopiah yang dibandingkan bukan barang KW atau abal-abal.
Peci kebanyakan dijual di bawah Rp60 ribuan. Sementara itu, kopiah berkualitas biasanya berada di atas Rp70 ribu, dan kopiah bermotif bisa menembus lebih dari Rp100 ribuan.
Perbedaan harga ini berkaitan erat dengan material yang dipakai. Bahan yang lebih premium pada kopiah membuat nilainya cenderung lebih tinggi dibanding peci yang hadir dengan pilihan bahan lebih beragam.
Dalam praktiknya, keduanya tetap sama-sama berfungsi sebagai pelengkap penampilan pria muslim. Bedanya, peci dan kopiah membawa karakter bahan, bentuk, dan konteks budaya yang berbeda sehingga tidak tepat jika disamakan begitu saja.
Source: www.idntimes.com




