Pekerja H-1B Kian Terjepit, PHK di Meta dan Amazon Hanya Sisakan 60 Hari Untuk Bertahan di AS

Gelombang PHK di perusahaan teknologi besar kembali membuat ribuan pekerja H-1B berada dalam posisi paling rapuh. Begitu kehilangan pekerjaan, mereka tidak hanya kehilangan penghasilan, tetapi juga mulai menghitung mundur tenggat 60 hari untuk menemukan sponsor baru atau bersiap meninggalkan Amerika Serikat.

Tekanan ini paling keras dirasakan pekerja asal India, yang merupakan kelompok terbesar dalam program H-1B. Saat perusahaan seperti Meta, Amazon, dan Oracle memangkas tenaga kerja, banyak pemegang visa itu mendadak harus menyusun ulang masa depan yang selama ini dibangun bertahun-tahun di AS.

Aturan H-1B memberi ruang yang sangat sempit bagi pekerja asing yang terkena PHK. Mereka hanya punya 60 hari untuk mendapatkan sponsor kerja baru sebelum wajib keluar dari negara itu jika tidak berhasil.

Bagi banyak pekerja, tenggat itu datang saat hidup mereka sudah terlanjur tertanam di Amerika. Sebagian telah menunggu green card selama hampir satu dekade, memiliki anak yang lahir di AS, mencicil rumah, dan membangun keluarga yang sudah menetap penuh di sana.

Data dari US Citizenship and Immigration Services dan Department of Homeland Security menunjukkan warga India mencakup 283.772 dari 406.348 petisi H-1B yang disetujui pada FY25. Angka itu menunjukkan betapa besar ketergantungan mereka pada jalur visa kerja ini, sekaligus betapa besar risikonya ketika pasar kerja teknologi melemah.

Di saat yang sama, pasar kerja teknologi memang sedang tidak ramah. Menurut Layoffs.fyi, lebih dari 110.000 karyawan kehilangan pekerjaan di 144 perusahaan teknologi sepanjang 2026 sejauh ini, dan para ahli imigrasi memperkirakan ribuan di antaranya adalah pemegang H-1B, banyak yang berasal dari India.

Karena waktu sangat terbatas, sebagian pekerja mencoba bertahan lewat perubahan status ke visa pengunjung B-2. Jalur ini dapat memberi mereka waktu hingga enam bulan di AS sambil mencari sponsor baru atau menyiapkan langkah berikutnya.

Namun, opsi itu tidak lagi semudah dulu. Para ahli imigrasi menyebut otoritas AS kini lebih sering meminta dokumen tambahan dan lebih banyak menolak permohonan perubahan status dari H-1B ke B-2.

Pengacara imigrasi berbasis di AS, Rajiv Khanna, mengatakan timnya melihat lonjakan besar permintaan bukti tambahan dan Notice of Intent to Deny pada aplikasi perubahan status B-1/B-2 dari pekerja H-1B yang terkena PHK. Ia menyebut skala kasus yang sedang ditangani jauh melampaui yang pernah ia lihat sebelumnya.

Pakar imigrasi lain juga mengatakan kepada Economic Times bahwa permintaan bukti tambahan dan penolakan meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir. Akibatnya, jalur legal yang semula dianggap penyelamat justru menjadi ruang yang jauh lebih sulit diandalkan.

Sebagian pekerja lalu mulai melirik alternatif lain seperti visa pelajar F-1, visa O-1 untuk individu dengan kemampuan luar biasa, dan visa L-1 untuk perpindahan internal perusahaan. Tetapi masing-masing memiliki syarat tersendiri dan tidak selalu cocok bagi orang yang baru saja kehilangan pekerjaan.

Di luar AS, Kanada dan sejumlah negara Eropa ikut masuk dalam daftar rencana cadangan. Sejumlah pekerja bahkan mempertimbangkan pindah ke Kanada melalui program seperti Express Entry dan Global Talent Stream.

Kecemasan itu bertambah setelah Meta memulai putaran PHK global baru sebagai bagian dari restrukturisasi yang berfokus pada AI. Laporan menyebut karyawan di Singapura mulai menerima email PHK sejak pukul 04.00 waktu setempat pada Rabu, sementara pekerja di AS dan Eropa juga diperkirakan terdampak.

Jumlah pasti karyawan yang dipangkas belum jelas, dan belum ada konfirmasi berapa banyak pekerja India yang ikut terdampak. Dalam memo internal yang ditinjau Bloomberg, Head of People Meta Janelle Gale mengatakan perusahaan ingin tim yang lebih datar agar bisa bergerak lebih cepat dengan tanggung jawab yang lebih besar.

Menjelang PHK, karyawan dilaporkan didorong untuk bekerja dari rumah selama proses restrukturisasi berlangsung. Pada saat yang sama, Meta juga memindahkan hampir 7.000 karyawan ke tim yang berfokus pada AI, termasuk produk dan agen AI.

Pemangkasan itu terutama menyasar divisi engineering dan product saat CEO Mark Zuckerberg mendorong AI menjadi pusat strategi masa depan perusahaan. Meta juga dilaporkan diperkirakan menghabiskan lebih dari $100 miliar untuk investasi terkait AI tahun ini.

Perubahan arah bisnis seperti itu menambah lapisan ketidakpastian bagi pemegang H-1B. Bagi mereka, ancaman tidak hanya datang dari PHK, tetapi juga dari menyusutnya jenis pekerjaan yang selama ini menjadi jalur utama untuk tetap tinggal di AS.

CEO Boundless Immigration, Xiao Wang, mengatakan pekerja India pemegang H-1B merasakan tekanan paling berat karena backlog green card mereka sudah berlangsung selama puluhan tahun. Menurut dia, semakin banyak orang kini menyatakan ingin pulang ke negara asal atau pindah ke Kanada maupun Eropa dibandingkan periode mana pun dalam satu dekade terakhir.

Pengacara imigrasi Kevin J Andrews juga menilai banyak pekerja sekarang menghitung ulang apakah bertahan di AS masih masuk akal. Perhitungan itu muncul di tengah perubahan pasar kerja teknologi dan dampak AI terhadap pola perekrutan.

Dengan kondisi seperti ini, banyak pekerja India menghadapi pilihan yang sama-sama sulit. Mereka harus mencari sponsor baru dalam waktu singkat, menempuh jalur visa alternatif yang makin ketat, atau memulai hidup lagi di negara lain setelah bertahun-tahun membangun masa depan di Amerika.

Source: www.indiatoday.in

Baca Juga

Back to top button