Operasi pencarian masih terus dikerahkan di tambang batu bara Liushenyu, Shanxi, setelah ledakan gas memicu salah satu bencana tambang paling mematikan di China dalam 17 tahun terakhir. Sedikitnya 90 orang tewas, sementara jumlah korban masih berpotensi berubah karena tim penyelamat belum menuntaskan penyisiran di bawah tanah.
Saat insiden terjadi, 247 pekerja berada di bawah tanah pada pukul 7.29 malam waktu setempat, Jumat. Hingga Sabtu sore, proses evakuasi dan pencarian masih berlangsung dengan dukungan 755 petugas darurat dan medis di lokasi.
Xinhua menyebut 123 orang telah dibawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan. Dari jumlah itu, empat orang dilaporkan dalam kondisi kritis atau berat, sementara CCTV melaporkan 33 korban yang dirawat sudah kembali ke rumah pada Sabtu pukul 2 siang.
Di area tambang, para penyelamat berhelm terlihat membawa tandu, dengan ambulans berjajar di latar belakang. Gambaran itu menunjukkan operasi penyelamatan berjalan dalam tekanan besar ketika otoritas masih menelusuri para pekerja yang belum ditemukan.
Seorang pekerja tambang yang selamat dan turut terluka, Wang Yong, mengatakan kepada CCTV bahwa ia mendengar “puff of smoke” dan mencium bau sulfur. Ia juga melihat sejumlah orang tercekik asap sebelum akhirnya pingsan.
Pada tahap awal, media pemerintah hanya melaporkan empat korban tewas dan puluhan orang terjebak setelah kadar karbon monoksida di tambang melampaui batas. Gas itu sangat beracun dan tidak berbau, sehingga membahayakan pekerja yang masih berada di bawah tanah.
Seiring waktu berjalan, jumlah korban tewas melonjak tajam. Beberapa pekerja yang terjebak disebut berada dalam kondisi kritis pada fase awal pencarian.
Xi Jinping menyerukan pengerahan upaya penuh untuk merawat para korban luka dan meminta penyelidikan menyeluruh atas insiden tersebut. Ia juga menekankan agar semua wilayah dan departemen mengambil pelajaran dari kecelakaan ini serta tetap waspada terhadap keselamatan kerja.
Xinhua menyebut seorang pihak yang bertanggung jawab atas perusahaan yang terkait ledakan itu telah ditempatkan di bawah pengawasan sesuai hukum. Langkah tersebut menandai mulai bergeraknya penanganan kasus ini di ranah hukum.
Shanxi dikenal sebagai salah satu provinsi termiskin di China sekaligus pusat pertambangan batu bara negara itu. Meski keselamatan tambang di China membaik dalam beberapa dekade terakhir, kecelakaan masih kerap terjadi karena protokol yang longgar dan aturan yang sering tidak jelas.
Ledakan di Liushenyu kini tercatat sebagai bencana tambang terburuk di China sejak 2009, ketika 108 orang tewas dalam ledakan tambang di Heilongjiang, timur laut China. Pada 2023, runtuhnya tambang batu bara terbuka di Mongolia Dalam juga menewaskan 53 orang, menegaskan bahwa risiko besar di sektor ini belum hilang.





