Banyak orang tua mengira gangguan pencernaan anak baru serius ketika keluhan terlihat jelas. Padahal, tanda awalnya sering muncul lebih dulu lewat hal-hal sederhana yang mudah terlewat di rumah.
Peringatan World Digestive Health Day atau WDHD 2026 kembali menegaskan bahwa kesehatan saluran cerna anak perlu dibaca sejak dini. Pesan utamanya adalah orang tua tidak seharusnya menunggu sampai masalah membesar sebelum mencari bantuan.
Tanda kecil yang perlu diamati
Dalam keseharian, gangguan pencernaan anak tidak selalu muncul sebagai sakit perut. Perubahan perilaku seperti anak menjadi kurang nafsu makan, lebih rewel, atau tampak tidak nyaman juga bisa menjadi sinyal awal.
Dokter Spesialis Anak Konsultan Subspesialis Gastrohepatologi Anak, Dr. dr. Ariani Dewi Widodo, Sp.A(K), FISQua, menjelaskan bahwa saluran cerna anak adalah sistem yang kompleks dan terus berkembang. Di dalamnya, keseimbangan mikrobiota usus memegang peran penting dalam penyerapan nutrisi dan kenyamanan anak.
Ketika keseimbangan itu terganggu sejak dini, dampaknya tidak berhenti pada keluhan perut saja. Kondisi tersebut dapat memicu gangguan pencernaan berulang dan ikut memengaruhi tumbuh kembang anak.
Cara sederhana membaca kondisi pencernaan
Untuk membantu orang tua mengenali kondisi pencernaan anak, diperkenalkan konsep Triple Signs sebagai indikator sederhana. Tiga tanda itu mencakup Golden Poop, frekuensi buang air besar yang teratur sesuai usia, dan rendahnya risiko gangguan saluran cerna.
Golden Poop merujuk pada warna dan konsistensi feses yang normal. Tandanya adalah warna kuning keemasan dengan tekstur yang tidak terlalu cair dan tidak terlalu keras.
Jika ketiga tanda tersebut tidak terpenuhi secara konsisten, orang tua dianjurkan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Langkah itu penting agar penanganan bisa dilakukan lebih tepat dan potensi dampak lanjutan bisa dicegah.
Dampaknya tidak hanya soal perut
Kesehatan saluran cerna anak berhubungan erat dengan kualitas hidup sehari-hari. Saat pencernaan terganggu, anak bisa lebih sulit makan, merasa tidak nyaman, dan aktivitasnya ikut terganggu.
Dr. Ariani menegaskan bahwa menjaga kesehatan saluran cerna sejak dini penting agar anak tetap nyaman dan aktif. Saluran cerna yang sehat membantu anak mencapai tumbuh kembang yang optimal.
Karena itu, gangguan yang terlihat ringan tetap perlu dibaca dengan cermat. Deteksi dini dan penanganan sejak awal menjadi kunci untuk mencegah dampak jangka panjang pada anak.
Edukasi dan dukungan untuk keluarga
Momentum WDHD 2026 yang jatuh setiap 29 Mei dimanfaatkan Danone Specialized Nutrition Indonesia untuk mengingatkan keluarga agar lebih peka terhadap sinyal pencernaan anak. Tahun ini, tema global “Chronic Diarrhea: Don’t Flush the Signs Away” menekankan bahwa keluhan yang tampak ringan tidak boleh langsung diabaikan.
Danone SN Indonesia menyebut terus menghadirkan inisiatif berbasis sains untuk mendukung kesehatan pencernaan anak Indonesia. Upaya itu mencakup edukasi, publikasi ilmiah, inovasi produk, dan dukungan digital.
Dr. Ray Wagiu Basrowi, Medical & Scientific Affairs Director Danone Indonesia, mengatakan kekhawatiran orang tua terhadap anak yang kurang nafsu makan, kurang nyaman, atau pertumbuhannya belum optimal sering kali berakar dari masalah pencernaan yang tidak disadari. Ia juga menyebut edukasi berbasis sains, inovasi digital seperti AI Poop Tracker, serta produk nutrisi dengan kandungan prebiotik pada rangkaian Bebelac.
Melalui rangkaian kegiatan WDHD 2026, harapannya semakin banyak orang tua memahami “bahasa” saluran cerna anak. Dengan begitu, keluarga bisa mengambil langkah yang tepat, termasuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan saat diperlukan, agar pencernaan yang sehat menjadi fondasi kuat bagi tumbuh kembang anak di masa depan.
Source: www.idntimes.com




