Proyek Legok Nangka kini memasuki tahap yang menentukan bagi masa depan pengelolaan sampah di Jawa Barat. Fasilitas Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah Regional itu disiapkan untuk mengolah 2.131 ton sampah per hari dan mengubahnya menjadi listrik.
Skema ini juga menandai masuknya sektor persampahan ke dalam portofolio penjaminan PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia atau PT PII. Untuk proyek kerja sama pemerintah dan badan usaha ini, penjaminan diberikan agar kepastian investasi lebih kuat dan minat dari swasta, investor, serta lembaga pembiayaan internasional semakin besar.
Komitmen tersebut ditegaskan melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan PT Jabar Environmental Solution atau JES sebagai badan usaha pelaksana di Indramayu. Pada saat yang sama, PT PII dan PT JES juga meneken Perjanjian Penjaminan, sementara Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyerahkan Perjanjian Regres kepada PT PII.
Pelaksana Tugas Direktur Utama PT PII, Andre Permana, menyebut proyek Legok Nangka sebagai langkah penting dalam pengembangan infrastruktur pengelolaan sampah berkelanjutan di Indonesia. Ia menegaskan bahwa penjaminan pemerintah diperlukan untuk memperkuat kelayakan proyek dan menjaga struktur pendanaannya tetap menarik.
Dengan teknologi waste-to-energy, fasilitas ini ditargetkan mampu menekan volume sampah hingga 85 persen. Dari proses yang sama, listrik yang dihasilkan diproyeksikan mencapai 40,79 megawatt.
Layanan untuk Enam Daerah
Legok Nangka tidak hanya disiapkan untuk satu wilayah, melainkan melayani enam daerah sekaligus. Daerah itu adalah Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Garut, dan Kabupaten Sumedang.
Skema layanan regional ini membuat fasilitas tersebut diposisikan sebagai penghubung pengelolaan sampah lintas wilayah. Dengan kapasitas besar dan cakupan layanan yang luas, Legok Nangka dipandang sebagai model fasilitas terintegrasi bagi Jawa Barat.
Dukungan terhadap proyek ini juga datang dari pemerintah pusat melalui fasilitas Viability Gap Fund atau VGF dan Project Development Facility atau PDF dari Kementerian Keuangan. Dukungan itu dipakai untuk membantu penyiapan proyek, pendampingan transaksi, dan meningkatkan daya tarik investasi.
Tekanan Sampah dan Harapan Jangka Panjang
Gubernur Dedi Mulyadi menyebut TPPASR Legok Nangka diharapkan menjadi solusi jangka panjang atas persoalan sampah di Jawa Barat. Ia menilai kebutuhan itu semakin mendesak, terutama di Bandung Raya dan wilayah sekitar yang menghadapi kenaikan volume sampah setiap tahun.
Dedi juga mengapresiasi peran PT PII karena penjaminan pemerintah dinilai memberi landasan kuat agar proyek berjalan sesuai komitmen. Dalam pengelolaan sampah regional, kehadiran fasilitas ini diharapkan dapat menekan beban tempat pembuangan akhir sekaligus memperbaiki layanan pengelolaan sampah.
Selain mengurangi timbunan, proyek ini juga diarahkan memberi dampak lingkungan yang lebih luas. Pengolahan sampah menjadi energi diharapkan membantu menurunkan emisi gas rumah kaca dan memperbaiki kualitas lingkungan hidup di daerah layanan.
Dengan skema pembiayaan yang melibatkan badan usaha, dukungan pemerintah, serta penjaminan dari PT PII, Legok Nangka menjadi salah satu proyek yang dipantau dalam dorongan membangun infrastruktur persampahan yang lebih modern di Jawa Barat. Fasilitas ini juga ditempatkan sebagai contoh kerja sama yang menggabungkan pengurangan sampah, produksi listrik, dan penguatan layanan publik dalam satu sistem terpadu.
Source: mediaindonesia.com