Minat terhadap Daihatsu Rocky Hybrid terlihat cukup kuat, tetapi jalur pengirimannya belum mampu mengejar jumlah pesanan. Dari total sekitar 750 unit yang dipesan, baru sekitar 400 unit yang sudah sampai ke tangan konsumen, sehingga masih ada sekitar 350 pembeli yang menunggu giliran.
Kondisi itu membuat Rocky Hybrid tampak menjanjikan di pasar, meski distribusinya masih berjalan bertahap. Tantangan utamanya bukan pada permintaan, melainkan pada suplai unit yang belum bisa bergerak cepat.
Impor dari Jepang masih jadi penentu
Salah satu faktor yang memperlambat pengiriman adalah status Rocky Hybrid yang masih diimpor langsung dari Jepang. Karena belum dirakit di dalam negeri, Daihatsu belum leluasa mempercepat ketersediaan unit sesuai kebutuhan pasar.
Persiapan untuk merakitnya secara lokal juga disebut memerlukan waktu yang tidak singkat. Akibatnya, alur distribusi berjalan pelan dan tidak bisa menyaingi model baru lain yang biasanya langsung mencatat volume besar setelah meluncur.
Teknologi e-Smart jadi pembeda
Di tengah persaingan SUV kompak yang ketat, Rocky Hybrid tetap punya nilai jual yang cukup khas. Model ini memakai teknologi series hybrid dengan sistem e-Smart yang menempatkan motor listrik sebagai penggerak roda.
Mesin bensin 1.200 cc pada mobil ini berfungsi sebagai generator untuk mengisi daya baterai. Rocky Hybrid juga memakai baterai berkapasitas 0,74 kWh yang disebut lebih kecil daripada mobil listrik murni, tetapi masih lebih besar dibanding baterai pada mobil hybrid biasa.
Karakter itu membuat Rocky Hybrid berbeda dari banyak model HEV lain. Sistemnya juga tidak sama dengan Toyota Hybrid System yang memakai paralel hybrid, sehingga identitas teknologinya terasa lebih menonjol di pasar elektrifikasi.
Pasar SUV kompak masih memberi ruang
Daihatsu melihat Rocky tetap punya tempat karena posisinya sebagai SUV kompak. Citra Rocky sebagai salah satu model entry level yang kuat di kelasnya ikut menjaga minat konsumen, meski pasar mobil ramah lingkungan kini semakin ramai.
Sorotan publik memang banyak mengarah ke mobil listrik, sementara berbagai merek lain juga terus menambah model elektrifikasi di segmen MPV dan hatchback. Di situ, Rocky Hybrid bergerak di ceruk yang berbeda karena menawarkan hybrid di kelas yang belum terlalu padat pesaing.
Angka pesanan belum menembus 1.000 unit
Sejak masuk 2025, total pesanan Rocky Hybrid masih berada di bawah 1.000 unit. Angka 750 unit menunjukkan model ini punya peminat, tetapi belum melaju setinggi ekspektasi untuk mobil baru dengan teknologi hybrid.
Meski begitu, jumlah itu tetap menunjukkan adanya pasar yang mau menerima pendekatan hybrid dari Daihatsu. Permintaan yang muncul juga menegaskan bahwa Rocky Hybrid tidak sekadar menarik di atas kertas, melainkan benar-benar mendapatkan respons dari konsumen.
Arah strategi Daihatsu masih mengandalkan hybrid
Daihatsu belum merinci perluasan teknologi e-Smart ke model lain. Rencana itu memang ada, tetapi belum ada kepastian apakah akan segera dijalankan atau masih menunggu waktu yang tepat.
Di tengah tren mobil listrik yang terus berkembang, Daihatsu tampaknya masih memilih fokus pada lini hybrid. Rocky Hybrid menjadi contoh paling jelas dari arah tersebut, sekaligus menunjukkan bahwa tantangan berikutnya ada pada mempercepat distribusi agar sisa pesanan bisa segera terpenuhi.
Source: ridertua.com




