Lonjakan mobil listrik di Timur Tengah kini tidak lagi bertumpu pada satu pasar utama. Arab Saudi muncul sebagai penggerak baru, sementara peta persaingan merek berubah cepat dan membuat Tesla tersisih oleh laju BYD yang jauh lebih agresif.
Perubahan itu terlihat dari pertumbuhan penjualan kendaraan listrik di kawasan yang naik 40 persen pada 2025 dan mencapai sekitar 75.000 unit. Arab Saudi dan Qatar bersama-sama menyumbang sekitar 45 persen permintaan, sedangkan Uni Emirat Arab yang selama ini paling dominan mulai kehilangan cengkeramannya.
Arab Saudi mengubah arah pasar
Di Arab Saudi, mobil listrik tidak dipandang hanya sebagai pilihan konsumen baru. Pemerintah menempatkannya sebagai bagian dari strategi Vision 2030, dengan target emisi karbon nol bersih pada 2060.
Riyadh juga dibidik memiliki 30 persen kendaraan listrik pada 2030. Target itu dipasang untuk membantu memangkas emisi ibu kota sebesar 50 persen.
Dorongan tersebut tidak berhenti di kebijakan. Investasi manufaktur lokal ikut memperkuat posisi kerajaan itu dalam rantai pasok kendaraan listrik regional.
Joseph Salem dari Arthur D. Little Middle East menyebut fasilitas Lucid dan Ceer di King Abdullah Economic City sebagai bagian penting dari akselerasi pasar kendaraan listrik di Arab Saudi. Lucid Motors kini memperluas fasilitas AMP-2 dengan target kapasitas 150.000 unit kendaraan rakitan penuh per tahun.
Produksi lokal ikut mengejar permintaan
Ceer, merek kendaraan listrik lokal hasil kerja sama Public Investment Fund dan Foxconn, juga membangun pabrik seluas 1 juta meter persegi. Pabrik itu ditargetkan mampu memproduksi hingga 240.000 kendaraan per tahun.
Peluncuran Ceer ditargetkan pada akhir 2026. Jika berjalan sesuai rencana, pasokan lokal akan bertambah seiring naiknya minat pasar.
Dari sisi perilaku pasar, Arab Saudi dan Qatar juga bergerak ke arah yang berbeda dari UEA. Safak Yucel dari Georgetown McDonough menilai pasar kendaraan listrik UEA masih didominasi kendaraan premium.
Sementara itu, Arab Saudi dan Qatar justru mulai mengarah ke segmen massal. Arah ini dinilai berpotensi memperluas adopsi kendaraan listrik di kawasan Teluk.
Tesla tertekan, BYD mengambil ruang
Pergeseran pasar juga terlihat dari siapa yang paling banyak menjual kendaraan listrik di kawasan ini. IEA mencatat, ketika penjualan mobil listrik mulai naik di Timur Tengah pada 2020, Tesla menyumbang sekitar separuh penjualan regional.
Kini posisinya berubah drastis. Pangsa Tesla turun menjadi sekitar 15 persen, sementara BYD yang masuk pasar kawasan pada 2022 tumbuh cepat dan kini menguasai sekitar 60 persen penjualan kendaraan listrik regional.
Menurut Salem, daya tarik kendaraan listrik di Arab Saudi ikut didorong oleh turunnya harga baterai global dan masuknya mobil listrik China yang lebih kompetitif. Kombinasi itu membuat pasar lebih terbuka bagi merek baru dan menekan dominasi lama.
Infrastruktur masih jadi ujian terbesar
Meski pertumbuhannya cepat, hambatan di lapangan masih belum hilang. Ketersediaan stasiun pengisian, performa kendaraan di panas ekstrem, dan nilai jual kembali masih menjadi faktor yang memengaruhi minat pembeli.
Karena itu, perluasan jaringan pengisian daya menjadi penentu penting berikutnya. ADNOC Distribution di UEA memperluas jaringan pengisian cepat dan supercepat menjadi 400 titik pada awal 2026.
Di Arab Saudi, usaha patungan Eviq menargetkan pemasangan 5.000 pengisi daya cepat pada 2030 untuk mendukung perjalanan antarkota. Al-Fatayerji menegaskan bahwa adopsi kendaraan listrik bergantung pada pembangunan ekosistem lengkap, bukan hanya pada penjualan kendaraan.
Populasi muda di kawasan ini juga disebut lebih siap mencoba teknologi baru. Dalam pandangan para pelaku industri, kombinasi kebijakan, investasi, dan infrastruktur inilah yang membuat Arab Saudi kini berada di garis depan perubahan pasar kendaraan listrik Timur Tengah.
Source: voi.id