Di tengah upaya memperkuat ekonomi produktif, BRI mencatat penyaluran Kredit Usaha Rakyat senilai Rp65,95 triliun hingga April 2026. Dari total itu, sektor pertanian muncul sebagai penerima terbesar dengan porsi Rp27,95 triliun atau 42,38 persen.
Arah pembiayaan tersebut menunjukkan bahwa KUR masih menjadi salah satu instrumen penting untuk menjaga denyut usaha di sektor pangan. Penyaluran yang besar ke petani dan nelayan juga memperlihatkan fokus BRI pada sektor yang langsung terkait dengan ketahanan pangan nasional.
Pertanian jadi penopang terbesar
Porsi pembiayaan ke pertanian tidak hanya besar, tetapi juga menjadi yang paling dominan dibanding sektor lain. Melalui penyaluran itu, sekitar 558 ribu petani dan 23 ribu nelayan telah menerima manfaat pembiayaan sampai April 2026.
Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa dana KUR BRI lebih banyak mengalir ke sektor produksi. Selain pertanian, pembiayaan juga diarahkan ke perikanan dan industri pengolahan sebagai bagian dari penguatan ekonomi riil.
Mendukung swasembada pangan
Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menyebut kontribusi pembiayaan itu sejalan dengan dukungan terhadap program Asta Cita ke-2 Pemerintah. Program tersebut menekankan kemandirian bangsa melalui swasembada pangan.
BRI memosisikan KUR sebagai sarana memperluas akses permodalan bagi usaha mikro dan sektor produktif. Dengan begitu, pembiayaan tidak hanya menambah modal kerja, tetapi juga mendorong produktivitas dan perputaran ekonomi di berbagai wilayah.
Banyak debitur naik kelas
Selain jumlah penyaluran yang besar, BRI juga mencatat efek lanjutan pada perkembangan usaha penerima. Sebanyak 307 ribu debitur tercatat naik kelas, atau 31,96 persen dari target 962 ribu debitur.
Capaian itu menunjukkan bahwa penyaluran KUR tidak berhenti pada pemberian dana. BRI menilai perluasan akses permodalan bisa membantu pelaku usaha memperbesar skala bisnis dan meningkatkan kapasitas usahanya.
Jangkauan ke rumah tangga makin luas
Dari sisi akses, KUR BRI juga makin dekat dengan rumah tangga. Hingga April 2026, sekitar 19 dari setiap 100 rumah tangga telah mengakses fasilitas KUR BRI.
Angka itu naik dibanding 18 rumah tangga pada 2025 dan 17 rumah tangga pada 2024. Pergerakan ini menunjukkan jangkauan pembiayaan BRI terus melebar dari waktu ke waktu.
Tetap jaga kualitas kredit
Di tengah ekspansi penyaluran, BRI tetap menekankan kehati-hatian. Transparansi dan akuntabilitas menjadi perhatian karena KUR bersumber dari dana perbankan yang dihimpun dari masyarakat.
Karena itu, kualitas kredit harus tetap terjaga meski penyaluran terus bertumbuh. BRI menempatkan keseimbangan antara perluasan pembiayaan dan pengelolaan risiko sebagai bagian dari strategi penyaluran.
Pola penyaluran yang besar ke pertanian, perikanan, dan industri pengolahan menegaskan arah pembiayaan yang dekat dengan ekonomi kerakyatan. Di tengah kebutuhan menjaga pasokan pangan, akses modal untuk petani dan nelayan tetap menjadi bagian penting dari rantai produksi nasional.





