Di Nuuk, penolakan terhadap kehadiran diplomatik Amerika Serikat muncul dengan suara keras dari jalanan. Ratusan warga Greenland berkumpul dan mengirim pesan langsung bahwa mereka tidak menerima pembukaan konsulat AS di wilayah mereka.
Aksi itu berlangsung di depan pos diplomatik AS yang baru dibuka. Para demonstran meneriakkan seruan penolakan dan membawa spanduk yang menolak kehadiran Amerika Serikat di Greenland.
Isu yang melampaui urusan diplomatik
Bagi banyak warga, pembukaan konsulat tidak dipandang sebagai langkah administratif biasa. Mereka melihatnya sebagai simbol dari ambisi politik yang lebih besar di pulau Arktik tersebut.
Pimpinan protes, Aqqalukkuluk Fontain, menegaskan bahwa pemerintah Greenland sudah menyampaikan sikap tegas kepada Donald Trump dan pemerintahannya. Ia mengatakan Greenland tidak untuk dijual, sebuah pernyataan yang memperlihatkan bahwa persoalan ini menyentuh ranah kedaulatan dan harga diri politik.
Pesan jalanan yang berlawanan dengan acara peresmian
Saat resepsi pembukaan berlangsung, suasana di luar gedung justru memperlihatkan penolakan terbuka. Spanduk bertuliskan “Kami tidak menginginkan uang Anda” menjadi salah satu penanda kuat bahwa protes warga tidak hanya diarahkan pada konsulat, tetapi juga pada makna politik di baliknya.
Para demonstran juga menyerukan “Pulanglah, AS!” sebagai bentuk penolakan terhadap kehadiran Amerika Serikat yang diperluas. Di tengah acara seremonial, suara dari jalanan membuat pembukaan itu tidak terasa seperti peristiwa diplomatik yang mulus.
Greenland dan Arktik yang makin strategis
Konsulat yang ditingkatkan itu menjadi bagian dari upaya Amerika Serikat memperluas kehadiran diplomatik dan strategis di Greenland. Wilayah tersebut memiliki posisi penting di kawasan Arktik, yang kini semakin strategis secara global.
Duta Besar AS untuk Denmark, Kenneth Howery, meresmikan plakat dalam acara pembukaan tersebut. Ia menyampaikan harapan agar kemitraan dengan Greenland bisa semakin dalam dan menegaskan pentingnya Arktik bagi Amerika Serikat.
Howery juga menyebut bahwa AS akan tetap menjadi tetangga dan mendampingi Greenland dalam masa depan apa pun yang dipilihnya sebagai sekutu dan mitra. Dalam pernyataannya, ia menambahkan bahwa Amerika Serikat telah menyingkirkan opsi penggunaan kekerasan.
Sikap dingin dari level politik
Penolakan tidak hanya datang dari massa di luar gedung. Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen tidak hadir dalam resepsi pembukaan konsulat, dan sejumlah pejabat lain juga memilih absen.
Anggota parlemen Greenland pun tidak menerima undangan ke acara itu. Mereka menyebut iklim politik yang melibatkan Greenland sebagai alasan utama, yang menunjukkan bahwa ketegangan dengan Washington juga terasa di lingkar pemerintahan.
Kehadiran yang terbatas dari para pejabat membuat pembukaan konsulat berlangsung tanpa dukungan politik yang hangat. Situasi itu mempertegas jarak yang masih lebar antara Greenland dan Amerika Serikat di tengah meningkatnya perhatian terhadap pulau Arktik tersebut.
Bayang-bayang Trump masih membentuk suasana
Minat Donald Trump terhadap Greenland tetap menjadi latar yang kuat dalam situasi ini. Bagi sebagian warga, konsulat yang diperkuat dianggap selaras dengan strategi yang lebih luas untuk memperkokoh posisi AS di wilayah itu.
Video yang beredar di media sosial memperlihatkan suasana protes yang keras dan langsung. Seruan massa, poster penolakan, dan kehadiran ratusan orang membuat pesan warga Nuuk terdengar jauh lebih keras daripada pidato diplomatik di dalam resepsi.
Source: www.viva.co.id




