Chelsea akhirnya mengambil keputusan besar dengan melepas Liam Rosenior dari kursi pelatih setelah rangkaian hasil buruk membuat situasi tim makin sulit dikendalikan. Pemecatan itu menutup periode singkat yang sempat terlihat menjanjikan, sebelum performa The Blues turun tajam di berbagai ajang.
Keputusan klub London Barat itu muncul setelah statistik Chelsea menunjukkan penurunan yang konsisten, bukan sekadar satu kekalahan yang kebetulan. Dari awal yang sempat memberi harapan, tim justru kehilangan ketajaman, daya tahan, dan kestabilan permainan pada saat tekanan mulai meningkat.
Awal yang sempat membuat optimistis
Rosenior sebenarnya memulai tugasnya dengan cukup baik. Chelsea sempat meraih empat kemenangan beruntun di Liga Inggris, masing-masing atas Brentford, Crystal Palace, West Ham, dan Wolves.
Dalam sembilan laga pertama di semua kompetisi, Chelsea bahkan mencatat tujuh kemenangan. Satu-satunya kekalahan pada fase tersebut datang saat melawan Arsenal di semifinal Carabao Cup, sementara kekalahan pertama di Liga Inggris baru muncul pada pertandingan ketujuh di bawah asuhannya.
Hasil itu sempat membangun kesan bahwa proyek baru Chelsea berjalan ke arah yang tepat. Namun, fondasi permainan yang terlihat stabil ternyata belum cukup kuat ketika jadwal mulai padat dan lawan yang dihadapi semakin berat.
Titik balik setelah laga melawan Leeds
Perubahan paling mencolok terjadi setelah hasil imbang 2-2 kontra Leeds United pada 10 Februari. Sejak laga itu, Chelsea hanya mampu meraih satu kemenangan dari sembilan pertandingan liga berikutnya dan hanya mengumpulkan lima poin.
Rangkaian hasil tersebut langsung menggerus posisi Chelsea di klasemen. Di saat yang sama, tekanan kepada Rosenior meningkat karena tim kehilangan konsistensi dalam menyerang maupun bertahan.
Situasi itu juga terlihat dari performa beberapa pertandingan terakhir. Dalam delapan laga terakhir, Chelsea hanya menang sekali, dan kemenangan tersebut datang saat menghancurkan Port Vale 7-0 di FA Cup.
Lebih jauh lagi, dalam tujuh pertandingan terakhir, kemenangan atas Port Vale menjadi satu-satunya laga ketika Chelsea mampu mencetak gol. Catatan itu memperlihatkan betapa tumpulnya lini depan The Blues saat memasuki periode paling genting.
Catatan liga yang paling mengkhawatirkan
Di Liga Inggris, masalah Chelsea bahkan terlihat lebih buruk. Mereka menelan lima kekalahan beruntun tanpa mencetak gol, sesuatu yang terakhir kali terjadi pada 1912.
Selama rentetan itu, gawang Chelsea kebobolan 11 kali. Angka tersebut menegaskan rapuhnya keseimbangan tim, terutama ketika lawan berhasil menekan dan organisasi permainan gagal bertahan dengan rapi.
Secara keseluruhan, Rosenior memimpin Chelsea dalam 23 pertandingan di semua kompetisi dengan hasil 11 kemenangan, dua imbang, dan 10 kekalahan. Persentase kemenangan 47,8 persen tetap dinilai belum cukup karena penurunan paling tajam justru muncul pada momen-momen penting.
Kegagalan di tiga ajang berbeda
Masalah Chelsea tidak berhenti di kompetisi domestik. Di Liga Champions, mereka tersingkir dari Paris Saint-Germain pada babak 16 besar dengan agregat 8-2, termasuk kekalahan 3-0 pada leg kedua.
Di Carabao Cup, langkah Chelsea terhenti di semifinal setelah kalah dua leg dari Arsenal. Sementara itu, di FA Cup mereka memang mencapai semifinal, tetapi jalur yang ditempuh dinilai belum benar-benar menguji kekuatan tim menghadapi lawan-lawan besar.
Kekalahan 3-0 dari Brighton kemudian disebut sebagai titik terendah yang mempercepat akhir masa kerja Rosenior. Hasil itu kembali menegaskan dua persoalan utama Chelsea, yakni serangan yang mandek dan pertahanan yang mudah ditembus.
Pengakuan Rosenior dan situasi ruang ganti
Rosenior sendiri mengakui performa Chelsea tidak bisa diterima. Ia menyoroti kurangnya intensitas, semangat, dan profesionalisme sebagai faktor yang memperburuk keadaan tim.
Ia juga meminta para pemain melakukan introspeksi atas kontribusi mereka di lapangan. Pernyataan itu memberi gambaran bahwa situasi di ruang ganti tidak berjalan mulus ketika hasil mulai menurun.
Seiring performa terus merosot, wibawa Rosenior di tim ikut tergerus. Sejumlah keputusan taktis mulai dipertanyakan, sementara komunikasi dengan para pemain juga disebut tidak berjalan optimal pada saat Chelsea sangat membutuhkan ketenangan.
Kini Chelsea harus kembali mencari arah baru di tengah situasi yang tidak stabil. Klub menunjuk pelatih interim hingga akhir musim sembari menyiapkan evaluasi lanjutan, sementara statistik yang ditinggalkan Rosenior menjadi pengingat betapa cepatnya kejatuhan The Blues terjadi.
Source: www.beritasatu.com