Rupiah Masih Tertekan Di Atas Rp17.400, BI Andalkan Intervensi Berlapis Untuk Redam Gejolak

Bank Indonesia menegaskan masih akan aktif di pasar keuangan ketika rupiah bergerak di sekitar Rp17.400 per dolar AS. Sikap itu diambil untuk menjaga agar nilai tukar tetap stabil dan bergerak sejalan dengan fundamental ekonomi domestik.

Pada perdagangan Selasa pagi, rupiah berada di level Rp17.410 per dolar AS. Mata uang Garuda melemah 17 poin atau 0,10 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya, sehingga tekanan terhadap rupiah kembali menjadi perhatian pasar.

Tekanan tidak hanya dialami rupiah

Bank sentral melihat pelemahan rupiah sebagai bagian dari tekanan yang juga menimpa banyak mata uang negara berkembang. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G Hutapea, menyebut gejolak itu terjadi sejak konflik di Timur Tengah pecah.

Dalam perbandingan yang disampaikan BI, Philippine peso melemah 6,58 persen, Thailand baht 5,04 persen, India rupee 4,32 persen, Chile peso 4,24 persen, rupiah 3,65 persen, dan Korea won 2,29 persen. Data itu menunjukkan tekanan pada emerging market berlangsung merata dan belum mereda.

Sentimen eksternal masih mendominasi pergerakan pasar valuta asing. Ketidakpastian global yang meningkat akibat eskalasi konflik geopolitik membuat tekanan pada rupiah tetap terasa, meski pelemahannya tidak terjadi sendirian.

Dolar AS masih jadi penekan utama

Di sisi lain, sejumlah analis menilai penguatan dolar AS juga ikut menekan mata uang Asia, termasuk rupiah. Lukman Leong dari DOO Financial Futures memperkirakan pelemahan rupiah masih mungkin terjadi, tetapi terbatas karena pasar menunggu rilis data produk domestik bruto kuartal I Indonesia.

Ibrahim Assuaibi juga menilai indeks dolar AS menjadi faktor utama yang menekan mata uang Asia. Ia mengaitkannya dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait upaya pembebasan kapal di Selat Hormuz di tengah ketegangan yang masih meningkat di Timur Tengah dan Eropa Timur.

BI siapkan langkah berlapis

Untuk meredam gejolak, BI mengoptimalkan intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi Non-Deliverable Forward atau NDF di pasar offshore. Bank sentral juga menggunakan transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward atau DNDF di pasar domestik.

Selain itu, BI ikut membeli Surat Berharga Negara di pasar sekunder. Langkah-langkah ini ditempuh agar mekanisme pasar tetap berjalan baik dan tekanan terhadap rupiah tidak berkembang lebih jauh.

Erwin menegaskan BI akan terus hadir di pasar selama tekanan masih berlangsung. BI juga berkomitmen mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai nilai fundamentalnya.

Dengan tekanan eksternal yang masih kuat, kehadiran bank sentral di pasar diperkirakan tetap menjadi penopang penting bagi rupiah. Pelaku pasar pun masih mencermati arah penguatan dolar AS dan perkembangan ketidakpastian global yang belum menunjukkan tanda mereda.

Source: www.cnnindonesia.com
Exit mobile version