Rupiah Tertekan, Daihatsu Pilih Menahan Harga Mobil Demi Pembeli Pertama

Bagi pembeli mobil pertama, kabar yang paling penting bukan hanya rupiah yang melemah, tetapi apakah harga kendaraan ikut naik. Di tengah tekanan kurs yang sempat menyentuh Rp 17.677 per dolar AS pada perdagangan Jumat pagi, PT Astra Daihatsu Motor memilih tidak langsung membebankan kondisi itu ke konsumen.

Langkah tersebut membuat Daihatsu tetap menahan harga jual kendaraannya untuk sementara. Perusahaan menilai ruang di struktur biaya internal dan rantai pasok masih bisa dimanfaatkan agar harga di pasar tidak berubah lebih dulu.

Menjaga harga di tengah tekanan kurs

Marketing Director dan Corporate Communication Director PT ADM, Sri Agung Handayani, menegaskan bahwa perusahaan tetap harus memastikan keberlanjutan industri berjalan. Karena itu, penyesuaian yang dilakukan diarahkan ke langkah internal, bukan langsung ke harga jual kendaraan.

Pendekatan itu juga menunjukkan sikap hati-hati Daihatsu dalam membaca pergerakan rupiah. Perusahaan tidak ingin tekanan biaya berpindah terlalu cepat ke konsumen, terutama saat kondisi kurs belum menunjukkan stabilitas yang meyakinkan.

Efisiensi dan lokalisasi jadi tumpuan

Untuk menahan dampak pelemahan rupiah, Daihatsu menjalankan restrukturisasi biaya dan efisiensi di lini perakitan. Perusahaan juga berdiskusi dengan seluruh rantai pasok untuk mencari solusi pengembangan lokalisasi pada sejumlah komponen impor.

Langkah ini menjadi penting karena kandungan lokal berbagai model Daihatsu di pasar nasional sudah lebih dari 80 persen. Komposisi tersebut membantu memberi bantalan ketika rupiah bergerak di luar level yang nyaman bagi industri otomotif.

Daihatsu juga masih mempertimbangkan apakah depresiasi rupiah akan terus berlanjut. Karena itu, perusahaan memilih tidak tergesa-gesa mengambil keputusan yang nantinya langsung dirasakan oleh pembeli.

Harga belum berubah selama empat bulan

Di tengah kondisi nilai tukar yang melemah, Daihatsu memastikan belum ada penyesuaian harga jual pada produknya. Agung menyebut selama empat bulan sejauh ini, tidak ada kenaikan harga pada produk-produk Daihatsu.

Situasi itu menunjukkan bahwa perusahaan masih berupaya menahan dampak kurs agar tidak masuk ke daftar harga. Namun, tekanan semacam ini tetap berisiko bila pelemahan rupiah berlangsung terlalu lama.

Komponen impor masih memiliki porsi dalam proses produksi otomotif. Jika tekanan kurs terus berlanjut, biaya pada akhirnya tetap bisa terdorong naik meski perusahaan sudah mengupayakan berbagai penahan.

Fokus pada pembeli mobil pertama

Kebijakan menahan harga juga berkaitan erat dengan pasar yang dibidik Daihatsu. Merek asal Jepang itu dikenal kuat di segmen pembeli mobil pertama, sehingga harga menjadi faktor yang sangat menentukan.

Agung mengatakan Daihatsu memahami kebutuhan segmen tersebut dengan jelas. Karena itu, setiap langkah penyesuaian dilakukan sangat hati-hati agar tidak mengganggu konsumen yang baru pertama kali membeli mobil.

Dalam konteks itu, perusahaan lebih memilih menata ulang struktur biaya dan rantai pasok ketimbang segera menambah beban harga. Di pasar yang sensitif terhadap nominal, kestabilan harga tetap menjadi salah satu kunci menjaga daya tarik produk.

Selama rupiah belum stabil, kombinasi efisiensi, lokalisasi, dan penguatan rantai pasok tampaknya masih akan menjadi penopang utama Daihatsu. Perusahaan ingin menjaga keseimbangan antara tekanan bisnis dan daya beli konsumen tanpa mengubah harga terlalu cepat.

Source: www.liputan6.com

Baca Juga

Back to top button