Saat Harga Bitcoin Melemah, Saham Treasury Kripto Rontok $62 Miliar dan Dipaksa Bertahan

Gelombang penurunan Bitcoin kembali membuka rapuhnya strategi perusahaan publik yang selama ini agresif menimbun aset digital. Dalam beberapa pekan terakhir, nilai pasar gabungan saham perusahaan treasury Bitcoin yang terdilusi penuh menyusut sekitar $62 miliar, dari hampir $134 miliar di awal Oktober menjadi sekitar $72 miliar.

Tekanan itu muncul ketika Bitcoin turun sekitar 15% dan bergerak di sekitar $62.000, level terendah dalam empat bulan. Situasi ini membuat banyak pelaku pasar mempertanyakan seberapa lama model akumulasi kripto yang mengandalkan premi pasar masih bisa bertahan.

Model yang hidup dari premi pasar

Digital-asset treasury, atau DAT, dibangun dengan pola yang tampak sederhana. Perusahaan publik mendapat premi karena menimbun kripto, lalu memakai akses itu untuk menerbitkan saham, membeli lebih banyak token, dan mengulang langkah yang sama.

Model tersebut bekerja kuat saat harga aset terus naik. Namun ketika pasar melemah dan investor menjadi lebih selektif, mesin akumulasi itu kehilangan tenaga, apalagi setelah Bitcoin kehilangan sekitar separuh nilainya sejak puncak Oktober.

Hayden Hughes dari Tokenize Capital menilai kondisi pasar kini memaksa pilihan yang keras. Menurut dia, digital-asset treasuries harus memilih antara gagal bayar atau menjual aset, dan penjualan paksa itu meruntuhkan anggapan bahwa mereka akan selalu menjadi pembeli permanen.

Penjualan pertama yang mengubah suasana

Pelemahan terbaru juga diperburuk oleh langkah Strategy Inc. milik Michael Saylor yang mengumumkan penjualan Bitcoin pertamanya sejak 2022. Meski tekanan kali ini tidak seekstrem kejatuhan besar pada Oktober lalu, sinyal tersebut cukup untuk mengubah suasana pasar yang sebelumnya masih bertumpu pada keyakinan bahwa akumulasi akan terus berlanjut.

Di fase naik, strategi ini sempat memberi keuntungan besar bagi pendukung awal dan sponsor yang bisa memanfaatkan euforia investor di puncak siklus. Sebaliknya, investor ritel justru menanggung banyak kerugian ketika valuasi mulai runtuh.

Efek berantai ke Wall Street dan investor ritel

Akshat Vaidya dari Maelstrom mengatakan gabungan kepemilikan Bitcoin korporat dan digital-asset treasuries sudah melampaui 5% dari suplai. Ia menilai kondisi itu mempercepat adopsi di Wall Street, tetapi juga membuat volatilitas semakin terasa bagi investor ritel yang mengejar wrapper yang dianggap mudah.

Tekanan lain datang dari arus keluar miliaran dolar dari spot Bitcoin exchange-traded funds. Pada saat yang sama, ketegangan geopolitik mendorong dana mengalir ke aset aman tradisional, sementara banyak DAT yang lahir saat boom justru jatuh lebih dalam daripada Bitcoin.

Perusahaan kecil paling terjepit

Dampak paling berat terlihat pada perusahaan kecil yang meniru model Strategy tanpa skala, likuiditas, atau akses modal yang sama. Alih-alih terus mengakumulasi aset, mereka kini harus mencari cara baru untuk bertahan setelah premi harga saham menghilang.

Sejumlah emiten mulai mengandalkan langkah penyelamatan seperti reverse stock split, penerbitan surat utang preferen, penataan ulang pembiayaan, hingga menjual sebagian aset kripto yang sebelumnya dijanjikan untuk terus dikumpulkan. Nakamoto milik David Bailey, misalnya, mengumumkan reverse stock split 1-for-40 saat sahamnya anjlok hampir 100% dalam setahun.

Metaplanet dari Jepang, yang menjadi treasury Bitcoin terbesar ketiga di dunia, turun lebih dari 80% dari setahun lalu. Penurunan itu terjadi di tengah kekecewaan atas lambatnya progres penawaran saham preferen.

Tanda pasar sudah terlalu padat

Twenty One Capital juga mengalami perubahan kepemilikan setelah SoftBank Group menjual seluruh 26% sahamnya ke Tether. Saham perusahaan itu turun 84% dalam setahun, sementara ProCap Financial pekan ini mengumumkan penjualan 52 Bitcoin untuk membiayai pembelian kembali saham.

Carney Mak dari FXHB Asset Management mengatakan perusahaannya memasukkan Strategy ke portofolio sekitar dua tahun lalu sebagai ekspresi leverage atas pandangan mereka terhadap Bitcoin. Ia menyebut sebagian besar kepemilikan Strategy sempat menghasilkan keuntungan saat reli, tetapi sebagian kecil kini kembali rugi dan akan dijual pada kesempatan yang tepat untuk dipindahkan ke ide investasi yang dinilai lebih kuat.

Mak menilai pelajaran utamanya bukan sekadar apakah Bitcoin adalah pilihan yang tepat. Menurut dia, pasar treasury Bitcoin mungkin sudah terlalu padat saat semakin banyak perusahaan mencoba meniru pola Strategy, sehingga sebagian besar nilai kelangkaan sudah lebih dulu terserap.

Hayden Hughes melihat gambaran yang sama dari sisi yang lebih luas. Ia mengatakan air pasang yang surut memperlihatkan siapa yang selama ini berenang tanpa pakaian, dan jawabannya adalah DAT serta pemegang ekuitasnya.

Baca Juga

Back to top button