Di tengah derasnya jawaban cepat dari internet dan mesin AI, Pertamedika IHC bersama Suara.com membuka ruang kerja sama untuk memperkuat edukasi kesehatan yang lebih tepercaya. Kebutuhan ini menguat karena masyarakat kini semakin sering mencari penjelasan medis secara instan, sementara konten keliru tetap mudah beredar.
Pertemuan kedua pihak di kantor Suara.com, Jakarta Barat, menyoroti pentingnya informasi kesehatan yang valid, cepat diakses, dan tetap memiliki otoritas. Dalam situasi ketika hoaks bisa menyebar secepat konten digital lain, kehadiran sumber yang terverifikasi menjadi semakin penting.
Hoaks kesehatan masih jadi masalah besar
Pemimpin Redaksi Suara.com, Suwarjono, menilai hoaks kesehatan masih meresahkan publik. Ia menekankan bahwa masyarakat membutuhkan penjelasan dari pakar dan dokter yang kompeten agar tidak tersesat oleh informasi yang keliru.
Suwarjono juga melihat banyak orang ingin jawaban instan saat menghadapi persoalan kesehatan. Karena itu, media menurutnya perlu menghadirkan informasi yang terverifikasi dan mudah diakses pembaca.
Jaringan rumah sakit BUMN jadi kekuatan edukasi
Dari sisi Pertamedika IHC, Manager Corcom & Media Relation Pertaonan Doly Pane mengatakan Indonesia masih menghadapi hoaks di banyak bidang, termasuk kesehatan. Ia menilai tantangan itu semakin berat karena wilayah Indonesia sangat luas dan edukasi publik tidak bisa hanya mengandalkan satu saluran.
Doly menyoroti 36 rumah sakit BUMN yang tersebar di berbagai daerah sebagai modal penting untuk memperluas edukasi kesehatan. Jaringan itu, menurut dia, dapat dilibatkan lebih aktif bersama media agar dokter yang kredibel lebih mudah hadir sebagai narasumber.
Ia menyebut sebaran rumah sakit yang sudah ada di sejumlah daerah, termasuk Kediri, Palembang, Makassar, dan Balikpapan. Dengan dukungan media, informasi kesehatan diharapkan bisa lebih dekat dengan masyarakat yang membutuhkan jawaban cepat dan terpercaya.
AI mempercepat arus informasi, validasi tetap wajib
Wakil Pemimpin Redaksi Suara.com, Reza Gunadha, menegaskan pentingnya otoritas dalam informasi kesehatan. Ia menilai edukasi publik harus tetap bersumber dari narasumber yang berwenang secara keilmuan agar tidak memunculkan salah paham.
Reza menjelaskan, masih banyak masyarakat yang belum mudah mengakses layanan telemedicine seperti Halodoc dan Alodokter. Kondisi itu membuat sebagian orang beralih ke Google dan media sosial, meski kredibilitas sumber yang muncul tidak selalu jelas.
Ia juga menyoroti mesin AI yang kerap muncul di hasil pencarian dan menyajikan jawaban tanpa mengacu pada penjelasan dari narasumber berkompeten. Karena itu, Reza menilai perlu lebih banyak konten kesehatan yang otoritatif agar publik tidak bergantung pada jawaban yang belum terverifikasi.
“Jadi sudah saatnya kita banjiri AI dengan edukasi,” kata Reza. Ia menambahkan, artikel kesehatan yang kuat dari sisi otoritas dapat membantu memperkecil ruang bagi hoaks.
Teknologi boleh membantu, manusia tetap menentukan
Direktur Utama RS PELNI, dr. Laili Fathiyah, mengatakan AI bisa dipakai sebagai langkah awal untuk mencari penjelasan. Namun, informasi dari AI tidak boleh diterima mentah-mentah dan tetap harus divalidasi dokter yang kompeten.
dr. Laili menilai perkembangan AI tidak bisa dihindari dalam layanan kesehatan. Meski begitu, ia menegaskan bahwa empati dan sentuhan manusia dari tenaga kesehatan tetap menjadi unsur penting yang tidak tergantikan.
Dalam pertemuan itu, Pertamedika IHC dan Suara.com juga membahas strategi edukasi agar masyarakat tidak selalu memilih berobat ke luar negeri. Rumah sakit di Indonesia dinilai memiliki layanan yang tidak kalah premium dan dapat diperkuat melalui komunikasi publik yang tepat.
Kolaborasi media dan rumah sakit BUMN ini dinilai relevan di tengah arus konten digital yang bergerak sangat cepat. Di saat publik harus memilah antara hoaks, jawaban mesin, dan penjelasan dokter, kebutuhan atas informasi kesehatan yang akurat dan mudah dipahami justru semakin mendesak.
Source: www.suara.com




