Bagi calon jemaah, salah memahami istilah haji bukan sekadar soal istilah yang terdengar mirip. Kekeliruan itu dapat berujung pada salah langkah saat manasik, bahkan memengaruhi sah tidaknya ibadah.
Karena itu, mengenali istilah yang dipakai dalam haji menjadi bagian penting sebelum berangkat ke Baitullah. Dalam fikih, ada istilah yang menentukan rukun, ada yang masuk wajib haji, dan ada pula yang berkaitan dengan dam, waktu, tempat, serta tata cara pelaksanaan.
Istilah yang menentukan sah ibadah
Rukun haji menjadi inti amalan yang tidak boleh ditinggalkan. Dalam penjelasan fikih mazhab Syafi’i, rukun haji ada lima, yaitu ihram, wuquf, thawaf, sa’i, dan tahallul.
Ihram berarti niat untuk menjalankan ibadah haji atau umrah. Wuquf berarti berdiam di Arafah, thawaf berarti mengelilingi Ka’bah tujuh kali, sa’i berarti bergerak dari Bukit Safa ke Bukit Marwah tujuh kali, dan tahallul berarti kondisi setelah mengakhiri larangan ihram dengan mencukur rambut.
Jika salah satu rukun ditinggalkan, haji tidak sah atau harus diulang. Karena itu, jemaah perlu membedakan mana amalan inti dan mana amalan pelengkap sebelum menjalankan rangkaian ibadah.
Yang wajib dilakukan, tetapi berbeda dampaknya
Selain rukun, ada wajib haji yang juga harus dikerjakan. Bedanya, jika wajib haji tidak dilakukan, ibadah tetap sah, tetapi jemaah terkena dam.
Dam berarti mengalirkan darah dengan menyembelih ternak, seperti kambing, unta, atau sapi, untuk memenuhi kebutuhan manasik. Istilah ini penting dipahami agar jemaah tidak menyamakan kewajiban yang membuat ibadah batal dengan kewajiban yang menimbulkan dam.
Waktu, tempat, dan batas pelaksanaan
Haji merupakan rukun Islam kelima dan diwajibkan bagi umat Islam yang mampu. Kemampuan itu mencakup kondisi fisik dan materi, sementara Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya.
Di sini, istilah istitha’ah menjadi sangat penting karena merujuk pada kemampuan ekonomi, fisik, dan mental untuk menunaikan haji. Ada pula istilah badal, yakni menggantikan orang lain untuk berhaji atau umrah.
Miqat juga perlu dicermati sejak awal. Miqat zamani menunjukkan batas waktu pelaksanaan haji, sedangkan miqat makani menunjukkan batas tempat untuk memulai ihram haji atau umrah.
Beberapa penanda waktu lain ikut digunakan dalam manasik. Hari Tarwiyah jatuh pada 8 Zulhijah, Hari Arafah pada 9 Zulhijah, dan hari tasyrik pada 11, 12, serta 13 Zulhijah.
Tahapan di Tanah Suci yang sering tertukar
Di antara istilah yang paling sering membuat bingung adalah jenis thawaf. Thawaf ifadah merupakan salah satu rukun haji, thawaf qudum dilakukan sebagai penghormatan saat pertama kali masuk Masjidil Haram, sedangkan thawaf wada’ dikerjakan sebelum meninggalkan Makkah.
Wukuf dilakukan di Arafah mulai tergelincirnya matahari pada 9 Zulhijah hingga terbit pada 10 Zulhijah. Momen ini menjadi bagian utama dalam rangkaian haji dan tidak bisa dipisahkan dari pemahaman manasik secara keseluruhan.
Ada pula istilah mabit, yaitu bermalam atau beristirahat, serta lempar jumrah yang dilakukan dengan melempar batu ke dinding jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah pada hari tasyrik. Sementara itu, nafar berarti keberangkatan jemaah haji meninggalkan Mina di hari tasyrik.
Jenis haji dan gerakan khusus saat manasik
Dalam pelaksanaan haji, terdapat tiga jenis yang sering tertukar, yaitu haji tamattu’, haji ifrad, dan haji qiran. Haji tamattu’ didahului umrah, haji ifrad dilakukan tanpa umrah, sedangkan haji qiran menggabungkan haji dan umrah dalam satu niat dan satu pengerjaan sekaligus.
Selain itu, ada gerakan manasik yang juga perlu dikenali. Idhtiba’ adalah cara mengenakan selendang ihram dengan meletakkan kedua ujung ihram di atas pundak kiri dan bagian tengah di bawah ketiak kanan.
Raml adalah lari-lari kecil yang disunnahkan bagi laki-laki saat melewati dua pilar hijau di tempat sa’i. Talbiyah juga harus dipahami karena dibaca sejak mulai ihram hingga menjelang thawaf atau saat melempar jumrah.
Ka’bah sendiri menjadi kiblat umat Islam dalam salat, sehingga istilah ini kerap muncul dalam pembahasan manasik. Dengan memahami perbedaan tiap istilah, jemaah bisa menjalani ibadah haji dengan lebih tertib dan sesuai ketentuan.
Source: www.idntimes.com




