Di tengah kenaikan Harapan Lama Sekolah di banyak wilayah, Situbondo justru terlihat semakin sulit menjaga posisinya. Nilai HLS kabupaten ini memang terus bertambah, tetapi laju pertumbuhannya tidak cukup cepat untuk mempertahankan peringkat di tengah persaingan yang makin rapat.
Pada akhir 2025, HLS Situbondo mencapai 13,21 tahun. Angka itu masih berada di atas rata-rata periode seluruh sebesar 12,83 tahun, namun selisih tipis di antara daerah-daerah lain membuat posisi Situbondo tidak lagi aman.
Selama 16 tahun pengamatan, Situbondo tidak pernah mencatat penurunan pada indikator ini. Dari posisi awal 11,5 tahun, kenaikannya sudah mencapai 14,87 persen, tetapi rata-rata pertumbuhan tahunannya hanya 0,93 persen.
Perlambatan paling terasa muncul dalam beberapa tahun terakhir. Rata-rata pertumbuhan Situbondo turun dari 0,091 persen pada lima tahun terakhir menjadi 0,076 persen pada tiga tahun terakhir.
Kenaikan tetap ada, tetapi ritmenya melemah
Lonjakan terbesar justru terjadi pada 2012, ketika HLS Situbondo naik 0,66 tahun atau 5,72 persen dibanding tahun sebelumnya. Setelah titik itu, tambahan angkanya mengecil dan pada hampir separuh periode pengamatan, kenaikannya hanya 0,01 tahun per tahun.
Kondisi tersebut membuat pencapaian HLS Situbondo terlihat stabil, tetapi tidak agresif. Saat daerah lain melaju lebih cepat, kenaikan yang kecil membuat jarak antarkabupaten semakin mudah berubah.
Dampaknya terlihat jelas di Pulau Jawa. Dalam lima tahun terakhir, peringkat Situbondo turun bertahap dari posisi 54 pada 2020 menjadi 64 pada 2025.
Tren serupa juga muncul di tingkat nasional. Situbondo bergerak dari peringkat 196 pada 2020 menjadi 252 pada 2025, meski nilai HLS-nya tetap berada pada level yang relatif tinggi.
Persaingan makin ketat di sekitar nilai 13,21 tahun
Posisi Situbondo berada di kelompok nilai yang sangat berdekatan dengan sejumlah daerah lain. Kabupaten Kutai Timur dan Kabupaten Bekasi sama-sama mencatat 13,22 tahun pada 2025, sedangkan Kabupaten Sragen, Supiori, dan Sumedang berada di angka 13,21 tahun.
Meski selisih nilainya nyaris tidak terlihat, laju pertumbuhan masing-masing daerah berbeda cukup jauh. Kutai Timur tumbuh 1,54 persen dalam setahun terakhir dengan tambahan 0,2 tahun, Bekasi naik 0,3 persen, dan Sragen melaju 2,17 persen dengan tambahan 0,28 tahun.
Perbandingan ini menunjukkan bahwa HLS yang serupa tidak otomatis menghasilkan posisi yang sama. Di sejumlah wilayah, pertumbuhan yang lebih cepat langsung memberi dorongan pada peringkat.
Pulau Jawa jadi arena yang paling rapat
Di Pulau Jawa, ruang gerak Situbondo terlihat semakin sempit. Kabupaten Bekasi hanya satu tingkat di atas Situbondo, sementara Sragen dan Sumedang sama-sama berada di peringkat 64 Pulau Jawa.
Kepadatan persaingan itu membuat setiap kenaikan kecil sangat menentukan. Situbondo masih mencatat tren naik, tetapi kenaikannya belum cukup kuat untuk menahan penurunan posisi ketika wilayah lain bergerak lebih cepat.
Gambaran yang sama juga tampak jika dibandingkan dengan Supiori. Daerah itu memiliki HLS yang sama, yakni 13,21 tahun, tetapi berada di peringkat 11 di Pulau Papua.
Perbedaan tersebut menegaskan bahwa nilai yang setara belum tentu memberi hasil peringkat yang sama antarpulau. Bagi Situbondo, tantangan utamanya kini bukan lagi mempertahankan tren naik semata, melainkan mempercepat laju agar tidak terus tersisih dalam persaingan indikator pendidikan di Pulau Jawa dan secara nasional.
Source: databoks.katadata.co.id




