Krisis iklim tidak lagi bisa dipandang sebagai isu jauh di masa depan. Wakil Ketua DPRD Jawa Timur, Sri Wahyuni, menekankan bahwa respons terhadap persoalan lingkungan harus dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 dengan tema #NowForClimate menjadi pengingat bahwa aksi nyata jauh lebih penting daripada seremoni. Sri menilai momentum itu seharusnya mendorong masyarakat untuk ikut bergerak, bukan hanya berhenti pada ucapan kepedulian.
Ancaman lingkungan makin kompleks
Sri melihat tantangan lingkungan saat ini berkembang semakin rumit. Perubahan iklim, pencemaran, dan menurunnya keanekaragaman hayati disebutnya sebagai ancaman nyata yang perlu dijawab bersama.
Ia juga menilai dunia sedang menghadapi triple planetary crisis yang mencakup perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi. Karena itu, penanganannya tidak bisa dibebankan kepada pemerintah saja.
Menurut politisi Partai Demokrat itu, Hari Lingkungan Hidup Sedunia harus dibaca sebagai momen refleksi sekaligus aksi. Kepedulian terhadap bumi, kata dia, perlu terlihat dalam kebiasaan harian, bukan hanya dalam pembicaraan.
Peran Jawa Timur dinilai penting
Sri menilai Jawa Timur memiliki posisi strategis dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. Sebagai salah satu provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia, keterlibatan warga disebutnya bisa memberi dampak yang besar.
Ia mengapresiasi langkah Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup yang mengangkat tema #NowForClimate. Menurutnya, tema tersebut sejalan dengan kebutuhan kolaborasi lintas sektor untuk menghadapi krisis iklim global.
Dalam pandangannya, upaya menjaga lingkungan akan lebih kuat jika pemerintah daerah dan masyarakat bergerak bersama. Karena itu, peringatan lingkungan tidak boleh berhenti sebagai agenda simbolik.
Langkah yang bisa dimulai dari hal sederhana
Sri mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Timur serta pemerintah kabupaten dan kota memperkuat program penghijauan, pengelolaan sampah, konservasi sumber daya alam, dan edukasi lingkungan sejak usia dini. Langkah itu dinilai penting agar kesadaran lingkungan tumbuh lebih luas di masyarakat.
Di saat yang sama, ia menekankan bahwa peran warga juga bisa dimulai dari kebiasaan kecil yang sering diabaikan. Mengurangi plastik sekali pakai, memilah sampah, menanam pohon, dan menghemat energi disebut sebagai tindakan nyata yang bisa membantu pengendalian perubahan iklim.
Sri menegaskan bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Jika kebiasaan baik itu dilakukan terus-menerus, dampaknya bisa besar bagi masa depan bumi dan kualitas hidup masyarakat.
Ia berharap Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 menjadi pengingat bahwa pembangunan dan pelestarian lingkungan harus berjalan seiring. Bagi Sri, bergerak sekarang berarti menyiapkan investasi terbaik untuk masa depan.
Source: lingkaran.net




