Spektrum Seluler Dipacu ke 712 MHz, Komdigi Siapkan 700 MHz dan 2,6 GHz untuk 5G

Dorongan terbesar bagi jaringan seluler nasional kini datang dari tambahan spektrum baru yang sedang disiapkan Komdigi. Dengan masuknya pita 700 MHz dan 2,6 GHz, total bandwidth layanan bergerak seluler Indonesia diproyeksikan naik dari 452 MHz menjadi 712 MHz.

Kenaikan itu dianggap penting karena kebutuhan data terus meningkat, baik dari jaringan 4G maupun layanan berbasis 5G. Komdigi menilai perlu ada ruang lebih besar agar operator tidak kewalahan menghadapi lalu lintas data yang semakin padat.

Selama ini, layanan bergerak seluler di Indonesia bertumpu pada lima pita frekuensi, yaitu 800 MHz, 900 MHz, 1.800 MHz, 2,1 GHz, dan 2,3 GHz. Kelima pita itu dipakai tiga operator seluler untuk menopang trafik data 4G yang terus naik.

Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Komdigi, Wayan Toni Supriyanto, menegaskan bahwa kebutuhan layanan digital sudah tidak bisa dilihat dari sisi 4G saja. Permintaan 5G ikut tumbuh seiring percepatan transformasi digital di berbagai sektor.

Fokus pada 2,6 GHz dan perluasan 5G

Di antara dua pita baru yang disiapkan, seleksi 2,6 GHz masih berjalan dan dibarengi kewajiban pengembangan layanan 5G. Pemenang seleksi nantinya harus memperluas jangkauan mobile broadband berbasis 5G.

Komdigi menetapkan cakupan minimal 50% populasi pada tahun keempat masa berlaku Izin Pita Frekuensi Radio. Aturan ini menunjukkan bahwa penambahan spektrum tidak hanya ditujukan untuk menambah kapasitas, tetapi juga untuk mendorong pemerataan layanan.

Dorongan pemerataan itu menjadi relevan karena kebutuhan akses cepat tidak lagi hanya terkonsentrasi di kota besar. Pemerintah ingin jaringan 5G berkembang lebih luas dan lebih terstruktur lewat kewajiban cakupan populasi tersebut.

Spektrum bukan satu-satunya pekerjaan rumah

Komdigi juga melihat percepatan 5G tidak cukup hanya mengandalkan tambahan frekuensi radio. Pemerintah ikut mendorong penurunan biaya regulasi bagi penyelenggara telekomunikasi sambil tetap menjaga pemerataan infrastruktur jaringan.

Pada saat yang sama, penguatan jaringan tulang punggung berbasis serat optik terus digenjot, baik di darat maupun melalui kabel bawah laut. Upaya ini dijalankan lewat koordinasi dengan penyelenggara telekomunikasi, kementerian dan lembaga terkait, serta pemerintah daerah.

Koordinasi tersebut mencakup penyelesaian persoalan akses perlintasan atau right of way, perizinan titik pendaratan kabel atau landing point, dan penerapan keterbukaan akses atau open access. Pemerintah menilai hambatan-hambatan itu perlu diselesaikan agar pembangunan jaringan bisa lebih cepat dan efisien.

Pita 1,4 GHz ikut masuk ekosistem broadband

Selain spektrum seluler, Komdigi menyoroti pemanfaatan layanan 5G untuk Broadband Wireless Access melalui jaringan pita lebar tetap pada pita frekuensi 1,4 GHz. Pita ini memiliki bandwidth 80 MHz dan dinilai ikut memperkuat ekosistem internet berkecepatan tinggi.

Seleksi pita 1,4 GHz disebut sudah rampung pada 2025, dan pemenangnya mulai menyediakan layanan komersial kepada masyarakat pada 2026. Kehadiran pita ini memberi lapisan dukungan tambahan bagi pengembangan akses broadband di luar jaringan seluler murni.

Efisiensi infrastruktur dipacu

Pemerintah juga mendorong efisiensi nasional dalam pemanfaatan infrastruktur pasif seperti menara, tiang, dan gorong-gorong atau ducting. Langkah ini dilakukan bersama kementerian dalam negeri dan pemerintah daerah agar kualitas layanan digital bisa meningkat lebih merata.

Dengan penambahan 700 MHz dan 2,6 GHz, pemerintah menempatkan penguatan spektrum sebagai fondasi utama untuk memperbesar kapasitas seluler nasional. Di sisi lain, pembangunan infrastruktur pendukung tetap dipacu agar perluasan layanan digital berjalan lebih cepat sekaligus menjangkau lebih banyak wilayah.

Source: teknologi.bisnis.com

Baca Juga

Back to top button