Taiwan dan Tarif Jadi Ujian Utama, Trump Bertemu Xi Di Tengah Tekanan Beijing

Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping di Beijing langsung menyita perhatian karena tiga isu besar ikut masuk ke meja pembicaraan sekaligus. Taiwan, tarif, dan ketegangan di Timur Tengah membuat kunjungan tiga hari itu sarat tekanan politik dan ekonomi bagi kedua negara.

Bagi Beijing, momen ini bukan sekadar agenda diplomatik biasa. China ingin memberi sinyal keras agar Washington mengurangi tekanan soal Taiwan sekaligus memberi kepastian terhadap hubungan dagang yang masih mudah goyah.

Taiwan jadi titik paling sensitif

Di antara semua topik, Taiwan hampir pasti menjadi pembahasan yang paling rawan. China tetap menganggap Taiwan sebagai wilayahnya, sementara pulau itu menjalankan pemerintahan sendiri secara de facto.

Amerika Serikat memang sudah lama memutus hubungan diplomatik resmi dengan Taiwan. Namun Washington masih memberi bantuan pertahanan berdasarkan Taiwan Relations Act 1979 dan terus memasok senjata serta memperkuat kerja sama militer dengan Taipei.

Langkah itu terus memicu kemarahan Beijing karena dipandang sebagai campur tangan dalam urusan dalam negeri China. Menteri Luar Negeri China Wang Yi bahkan menyebut Taiwan sebagai risiko terbesar dalam hubungan AS-China saat berbicara dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bulan lalu.

Kedutaan Besar China di Washington juga kembali menegaskan Taiwan sebagai salah satu dari empat garis merah yang tidak boleh dilanggar Amerika Serikat. Trump sendiri sebelumnya menyebut penjualan senjata AS ke Taiwan akan masuk dalam pembicaraan dengan Xi Jinping.

Pernyataan itu membuat perhatian tertuju pada paket penjualan senjata senilai 14 miliar dolar AS yang masih menunggu persetujuan akhir Gedung Putih. Posisi Trump dalam pembicaraan ini akan menjadi salah satu hal yang paling dipantau Beijing.

Tekanan Beijing pada penjualan senjata

Sejumlah pengamat menilai China akan mendorong Trump agar menahan, mengurangi, atau bahkan menghentikan penjualan senjata ke Taiwan. Analisis Crisis Group, William Yang, menilai Beijing ingin memengaruhi keputusan Trump sekaligus membuat pemerintah Taiwan kesulitan meminta tambahan anggaran pertahanan.

Dorongan itu sejalan dengan kepentingan China untuk menekan dukungan militer Washington kepada Taipei. Pada saat yang sama, Beijing juga berusaha menjaga ruang negosiasi agar hubungan dengan AS tidak makin memburuk di tengah tekanan geopolitik yang sudah tinggi.

Tarif dan sanksi belum turun dari meja

Selain Taiwan, persoalan dagang tetap menjadi agenda besar dalam pertemuan di Beijing. Hubungan ekonomi kedua negara masih dibayangi perang tarif yang dalam 18 bulan terakhir membuat kedua pihak saling menaikkan bea masuk impor hingga di atas 100 persen.

Memang sempat ada kesepakatan untuk menahan perang dagang selama satu tahun dalam pertemuan sebelumnya di Korea Selatan. Tetapi ketegangan belum benar-benar mereda, terutama karena Washington masih memberlakukan sejumlah sanksi baru terhadap perusahaan China.

Perusahaan-perusahaan itu dituduh membeli minyak Iran dan membantu pengembangan drone serta rudal Teheran. Di sisi lain, China ingin kepastian tentang arah kebijakan ekonomi AS hingga akhir masa jabatan Trump pada 2029.

Beijing juga berharap stabilitas hubungan dengan Washington bisa kembali terjaga. Bagi China, ketenangan di jalur dagang penting untuk membantu pertumbuhan ekonomi domestik yang masih membutuhkan ruang aman dari gejolak eksternal.

Bayang-bayang konflik Iran ikut membebani pertemuan

Di luar Taiwan dan tarif, perang Iran menambah lapisan tekanan pada dialog Xi dan Trump. China menilai konflik itu berdampak luas, termasuk pada pasokan energi yang sangat dibutuhkan banyak negara.

Selat Hormuz menjadi sorotan karena penutupannya akibat perang dapat memberi dampak besar pada pasokan energi global. China sendiri sangat bergantung pada impor minyak dari kawasan Timur Tengah, sehingga stabilitas jalur energi ikut menjadi kepentingan penting bagi Beijing.

Sejak konflik pecah, China terus menyerukan dialog dan gencatan senjata. Xi diperkirakan akan kembali mendorong solusi diplomatik saat bertemu Trump di Beijing.

Analis keamanan internasional Universitas Tsinghua, Jodie Wen, menilai dampak perang itu tidak berhenti di Timur Tengah. Menurutnya, konflik tersebut juga memukul Asia dan Amerika Serikat, sehingga dialog dinilai tetap menjadi jalan yang harus ditempuh.

Kunjungan ini menjadi lawatan pertama presiden AS ke China sejak 2017, ketika Trump masih berada di awal masa jabatan pertamanya. Dengan Taiwan, tarif, sanksi, dan konflik Iran berkumpul di satu meja, pertemuan di Beijing menjadi salah satu momen paling sensitif dalam hubungan kedua negara.

Source: www.suara.com

Baca Juga

Back to top button