Peringatan HUT ke-58 Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia menegaskan satu hal yang belum berubah: tuberkulosis masih menjadi pekerjaan besar yang membutuhkan gerak bersama. Di tengah jumlah pasien yang disebut telah mencapai 1.090.000 orang, pesan utamanya bukan sekadar seremoni, melainkan dorongan agar penemuan kasus dan pengobatan berjalan lebih cepat.
Di Klinik JRC PPTI, Jakarta Selatan, momentum ulang tahun itu diarahkan untuk menguatkan kembali kerja kolektif dalam eliminasi TB. PPTI menempatkan pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, kader, dan masyarakat dalam satu tujuan yang sama, yaitu mempercepat penanggulangan penyakit yang masih membayangi Indonesia.
Beban kasus yang belum ringan
Ketua Umum PPTI, Yani Yuhani Panigoro, mengingatkan bahwa organisasi ini sudah berdiri sejak 1968 dan terus mendampingi langkah pemerintah. Ia menyoroti besarnya beban TB di Indonesia yang masih sangat tinggi dan menuntut penanganan lebih serius.
Menurut Yani, salah satu tantangan utama TB adalah sifat penyakit ini yang kerap tidak menunjukkan gejala jelas. Banyak orang tidak menyadari bahwa dirinya terinfeksi dan baru mencari pertolongan ketika kondisi sudah memburuk.
“TB ini penyakit yang silent… pasien TB ini harus dicari,” ujarnya di Klinik JRC PPTI, Jakarta Selatan. Karena itu, pencarian kasus tidak bisa hanya mengandalkan satu pihak, melainkan harus melibatkan banyak unsur agar pasien ditemukan lebih cepat dan segera memulai pengobatan.
Edukasi dan pencarian kasus perlu satu arah
Selama ini, PPTI menggerakkan kader, yang sebagian besar merupakan ibu-ibu, untuk melakukan deteksi masyarakat terdampak TB di sejumlah puskesmas. Upaya itu menunjukkan bahwa penanganan TB tidak berhenti pada layanan kesehatan, tetapi juga membutuhkan kedekatan dengan warga di tingkat komunitas.
Namun, kerja di lapangan tidak selalu mudah karena masih ada penolakan dari masyarakat yang belum memahami penyakit ini dengan baik. Kondisi itu membuat edukasi menjadi bagian penting dari eliminasi TB, bukan sekadar pelengkap program.
Yani menilai edukasi tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri. Pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat, menurut dia, perlu turun bersama agar masyarakat semakin paham bahwa TB bisa dicegah, ditemukan lebih dini, dan disembuhkan.
Ia juga mengingatkan bahwa tanpa langkah yang lebih kuat sejak sekarang, penularan TB di Indonesia berisiko terus meningkat. Situasi ini sekaligus dapat menghambat target eliminasi Zero TB 2030 yang ingin dicapai.
Indonesia masih menempati beban besar di dunia
Ketua I Pengurus Pusat PPTI, Peggy Lukita, menyebut Indonesia berada di peringkat kedua dunia untuk beban kasus TB tertinggi setelah India. Posisi itu memperlihatkan bahwa TB bukan sekadar isu kesehatan biasa, tetapi tantangan besar bagi sistem penanggulangan penyakit di Indonesia.
Peggy berharap PPTI dapat terus membantu pemerintah menghadapi situasi tersebut. Ia juga menekankan agar masyarakat tidak malu memeriksakan diri ketika mengalami gejala yang mengarah pada TB.
Menurut dia, TB tidak hanya menyerang kelompok tertentu. Karena itu, siapa pun yang mengalami batuk berkepanjangan atau gejala serupa perlu segera datang ke fasilitas kesehatan untuk diperiksa.
“Kalau memang mereka kena TB, menyadarkan mereka bahwa mereka perlu pengobatan selama 6 bulan, dan itu bisa sembuh,” kata Peggy. Pesan itu menegaskan pentingnya kepatuhan menjalani terapi sampai tuntas agar pengobatan memberi hasil yang diharapkan.
Apresiasi untuk kader dan dukungan lintas pihak
Peringatan HUT ke-58 PPTI juga dirangkai dengan sejumlah kegiatan yang berlangsung mulai Mei hingga Juni 2026. Program itu mencakup kegiatan edukatif, promotif, dan pemberdayaan masyarakat untuk memperkuat gerakan eliminasi TB.
Dalam momentum tersebut, PPTI memberikan penghargaan kepada tokoh dan sejumlah organisasi yang dinilai peduli terhadap eliminasi TB. Penghargaan itu menjadi bentuk apresiasi atas dukungan panjang dari berbagai pihak dalam upaya pemberantasan penyakit tersebut.
PPTI juga memberi perhatian besar pada para kader yang selama ini berada di garis depan. Untuk menjaga semangat mereka, panitia menggelar lomba yel-yel kader dari Jakarta, Bogor, Tangerang Selatan, dan Depok sebagai bagian dari penguatan kekompakan.
Masdayani, perwakilan panitia, menegaskan bahwa perjuangan menuju Indonesia Bebas TB 2030 tidak dapat ditangani oleh satu pihak saja. Karena itu, momentum ulang tahun ini diharapkan memperkuat kepedulian, gotong royong, dan kerja bersama dalam mendukung eliminasi TB di Indonesia.
Source: www.beritasatu.com




