Tekanan Dolar AS Dan Geopolitik Makin Menjepit Rupiah, Level Rp18.000 Jadi Ambang Terdekat

Tekanan terhadap rupiah belum menunjukkan tanda mereda, dan arah pergerakan mata uang domestik dalam waktu dekat masih dipandang rawan. Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai level Rp 18.000 menjadi ambang yang paling dekat untuk diuji pasar, sebelum kemungkinan pelemahan berlanjut ke Rp 22.000.

Pelemahan itu disebut masih digerakkan oleh faktor eksternal yang kuat. Ketidakpastian geopolitik global belum reda, sementara dolar Amerika Serikat terus menguat dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dalam kondisi seperti ini, ruang pemulihan rupiah dinilai semakin sempit. Ibrahim melihat tekanan dari luar masih menjadi penentu utama, sehingga pergerakan rupiah dalam jangka pendek cenderung sulit lepas dari sentimen global yang belum bersahabat.

Rp 18.000 jadi level yang paling dekat

Ibrahim menilai pasar perlu mencermati Rp 18.000 sebagai level terdekat yang berpotensi ditembus. Jika batas itu jebol, ia melihat peluang pelemahan lanjutan ke Rp 22.000 akan semakin terbuka.

Ia bahkan menyebut peluang tersebut cukup besar pada perdagangan bulan Mei ini. “Dalam perdagangan di bulan Mei ini kemungkinan besar Rp 18 ribu akan tembus. Saya kalau seandainya Rp 18 ribu tembus di bulan Mei ini ada kemungkinan besar rupiah itu akan menembus level Rp 22 ribu,” ujarnya kepada wartawan, Jumat (15/5/2026).

Pandangan itu membuat Rp 22.000 bukan sekadar angka jauh di depan. Level tersebut dipahami sebagai kelanjutan dari tekanan yang sudah lebih dulu membayangi rupiah, bukan lonjakan mendadak yang berdiri sendiri.

Respons kebijakan jadi penentu

Di tengah tekanan itu, Ibrahim menilai pemerintah dan Bank Indonesia memegang peran penting untuk menahan pelemahan. Salah satu langkah yang dinilai paling mungkin adalah kenaikan BI Rate.

Ia memperkirakan suku bunga acuan dapat dinaikkan antara 25 basis poin hingga 50 basis poin. Tujuannya adalah menjaga stabilitas rupiah ketika tekanan dari pasar global masih berlangsung.

Namun, opsi itu membawa konsekuensi lain. Kenaikan BI Rate berpotensi menekan daya beli masyarakat dan membuat laju pertumbuhan ekonomi melambat.

Dilema menjaga rupiah dan konsumsi

Menurut Ibrahim, Bank Indonesia berada dalam posisi yang tidak mudah. Jika suku bunga dipertahankan, rupiah berisiko terus tertekan, tetapi jika dinaikkan, konsumsi dan aktivitas ekonomi bisa ikut melambat.

“Memang ya dalam kondisi saat ini sangat sulit Bank Indonesia apakah tetap mempertahankan suku bunga atau menaikkan suku bunga. Tapi ada kemungkinan besar dalam bulan Mei ini pertemuan Bank Sentral Indonesia akan menaikkan suku bunga tujuannya adalah untuk menestabilkan mata uang rupiah,” imbuhnya.

Pernyataan itu menegaskan bahwa keputusan kebijakan moneter akan sangat menentukan arah rupiah berikutnya. Pasar kini menunggu langkah otoritas moneter di tengah tekanan eksternal yang belum memberi banyak ruang napas.

Fundamental domestik masih memberi penyangga

Meski tekanan dari luar masih dominan, Ibrahim tetap melihat adanya penopang dari dalam negeri. Ia menyebut fundamental ekonomi Indonesia cukup baik karena sekitar 90 persen obligasi dibeli oleh investor domestik.

Kondisi itu memberi bantalan bagi pasar keuangan ketika gejolak global meningkat. Tetapi bantalan tersebut belum cukup untuk sepenuhnya menghapus tekanan dari penguatan dolar AS dan ketidakpastian geopolitik dunia.

Dengan situasi seperti ini, arah rupiah akan sangat bergantung pada seberapa lama tekanan eksternal bertahan. Di saat yang sama, respons kebijakan domestik akan menjadi pembeda apakah rupiah hanya mendekati Rp 18.000 atau terus bergerak ke area Rp 22.000.

Source: www.suara.com

Baca Juga

Back to top button