Tekanan di pasar logam mulia belum mereda, dan perak Antam ikut terseret lebih dalam ketika emas Antam kembali melemah di pasar domestik. Pelemahan serentak ini membuat arah harga logam mulia tampak kompak berada di zona merah.
Di laman Logam Mulia, perak Antam turun Rp 2.350 menjadi Rp 48.650 per gram dari sebelumnya Rp 51.000 per gram. Penurunan itu memperlihatkan bahwa perak masih bergerak sangat dekat dengan sentimen emas, baik di pasar lokal maupun global.
Emas dan buyback sama-sama terkoreksi
Di sisi emas, harga Antam turun Rp 24.000 menjadi Rp 2,765 juta per gram dari sebelumnya Rp 2,789 juta. Pada waktu yang sama, harga pembelian kembali atau buyback juga turun Rp 25.000 menjadi Rp 2,569 juta.
Pergerakan itu menunjukkan tekanan tidak hanya terjadi pada harga jual, tetapi juga pada nilai yang diterima pemilik emas saat melepas kembali logam mulia. Kondisi tersebut menandakan sentimen negatif di pasar domestik masih terasa jelas.
Perak ikut terbawa arah emas
Meski koreksi harga perak terlihat lebih besar secara persentase daripada emas, arah pergerakannya tetap mengikuti pola yang sama. Saat emas tertekan, perak Antam cenderung ikut melemah dan menambah tekanan di pasar logam mulia.
Di tengah kondisi itu, perak batangan Antam ukuran 250 gram dipasarkan seharga Rp 12.562.500. Sementara itu, perak batangan 500 gram dijual sekitar Rp 24,325 juta, tetapi stok untuk kedua produk tersebut masih kosong.
Tekanan juga datang dari pasar global
Pelemahan tidak hanya terjadi di dalam negeri. Di pasar internasional, harga perak spot turun 4,1% menjadi US$ 74,53 per ons setelah sempat menyentuh posisi terendah dalam sekitar dua pekan.
Logam mulia lain juga bergerak searah. Platinum turun 2,2% menjadi US$ 1.936,10 per ons, sedangkan paladium terkoreksi 4,2% menjadi US$ 1.359,26 per ons.
Faktor yang membebani sentimen
Analis Marex Edward Meir menyebut kenaikan suku bunga riil di berbagai negara menjadi salah satu tekanan utama bagi emas. Ia juga menilai penguatan dolar AS ikut memperberat sentimen di pasar logam mulia.
“Kami melihat kenaikan suku bunga riil di banyak negara dan itu sangat membebani emas. Dolar AS juga lebih kuat dan itu menjadi sentimen negatif,” ujarnya kepada Reuters.
Selama tekanan pada emas dan logam mulia global belum reda, pergerakan perak Antam masih akan sangat peka terhadap perubahan sentimen pasar. Kondisi itu membuat harga perak berpeluang tetap mengikuti arah emas dalam waktu dekat.
Source: www.beritasatu.com




