Washington Ambil Alih Penjualan Minyak Venezuela, Trump Sebut 100 Juta Barel Sudah Dilepas

Klaim Donald Trump soal penjualan 100 juta barel minyak Venezuela menempatkan Washington di pusat baru tata kelola energi negara itu. Dalam pernyataannya di sebuah forum di Florida, Trump menyebut minyak tersebut sudah dikirim ke Texas untuk diproses sebelum masuk pasar.

Pernyataan itu tidak hanya menyorot volume minyak yang disebut telah dijual, tetapi juga arah kontrol atas seluruh aliran energi Venezuela. Trump mengatakan jumlah tersebut baru awal dan menambahkan bahwa pasokan dengan volume serupa akan segera menyusul.

Di saat yang sama, ia menegaskan hubungan Washington dengan Venezuela berada dalam kondisi yang sangat baik. Ucapan itu memperkuat kesan bahwa pemerintah Amerika Serikat kini memegang peran lebih besar dalam pengelolaan minyak Venezuela.

Menteri energi Amerika Serikat juga menyatakan pemerintah berencana menangani langsung penjualan seluruh produksi minyak Venezuela. Dengan skema seperti itu, minyak dari negara tersebut tidak lagi bergerak bebas tanpa pengawasan penuh dari Washington.

Kendali itu juga mencakup pendapatan dari sektor minyak. Dalam penjelasan yang beredar, dana dari penjualan minyak Venezuela akan dikelola melalui rekening yang berada di bawah kendali Washington.

Trump sendiri sebelumnya menyinggung potensi pendapatan besar dari pengelolaan minyak Venezuela. Ia menyebut nilainya dapat mencapai ratusan miliar dolar dan mendorong perusahaan energi Amerika Serikat untuk menanamkan investasi besar di negara tersebut.

Dengan pengaturan semacam ini, minyak Venezuela diperlakukan sebagai aset strategis, bukan sekadar komoditas ekspor. Arah penjualan, distribusi, dan pendapatannya kini dikaitkan langsung dengan pengaruh Washington atas pasar energi global.

Namun, langkah itu juga memunculkan penolakan dari Rusia. Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menilai upaya Amerika Serikat yang memaksa perusahaan Rusia keluar dari Venezuela sebagai bentuk diskriminasi.

Lavrov juga menyoroti pembatasan kerja sama minyak Venezuela dengan sejumlah negara, termasuk Rusia, China, Iran, Korea Utara, dan Kuba. Menurut dia, pembatasan tersebut menunjukkan adanya tekanan politik dalam sektor energi global.

Di tengah tarik-menarik itu, minyak Venezuela kembali berubah menjadi isu geopolitik yang lebih luas. Persoalannya tidak lagi hanya soal berapa banyak minyak yang diproduksi dan dijual, tetapi juga siapa yang mengendalikan jalur pasokan dan pendapatannya.

Source: www.beritasatu.com

Baca Juga

Back to top button