Tekanan impor baja murah asal China kembali menjadi sorotan setelah PT Krakatau Osaka Steel atau KOS menghentikan operasionalnya di Indonesia. Penutupan itu memunculkan kekhawatiran bahwa industri baja nasional sedang memasuki fase yang lebih berat dan tidak berhenti pada satu perusahaan saja.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira Adhinegara, menilai kasus KOS menunjukkan bahwa industri baja dalam negeri berada di bawah tekanan serius. Ia melihat kondisi ini sebagai tanda awal deindustrialisasi yang bisa makin dalam jika perlindungan perdagangan tidak segera diperkuat.
Ancaman berantai di sektor baja
Bhima menilai penutupan KOS harus dibaca sebagai peringatan bagi produsen baja lain. Menurut dia, tanpa langkah tegas dari pemerintah, perusahaan baja domestik akan semakin sulit bertahan menghadapi serbuan produk impor berharga sangat rendah.
Ia bahkan mengingatkan bahwa penutupan bisa berulang jika situasi dibiarkan. “Kalau tidak ya tinggal tunggu giliran perusahaan baja apa lagi yang akan tutup,” kata Bhima kepada Suara.com.
KOS sendiri telah memutuskan menghentikan operasional di Indonesia dan melakukan PHK terhadap 200 pekerja pada Juni mendatang. Langkah itu memperkuat sinyal bahwa tekanan di industri baja tidak lagi sebatas perlambatan bisnis biasa.
Impor murah dari China menekan pasar lokal
Salah satu sumber utama tekanan datang dari banjir impor baja murah, terutama dari China. Bhima menjelaskan bahwa skala produksi China yang sangat besar membuat limpahan ekspornya mampu menekan harga sekaligus merebut pangsa pasar produsen dalam negeri.
Ia menyebut produksi baja China mencapai sekitar 1 miliar ton dalam setahun. Dalam ukuran sebesar itu, ekspor hanya 2 persen ke Indonesia saja, menurut dia, sudah melampaui kapasitas produksi nasional.
Harga baja China yang jauh lebih murah membuat ruang gerak produsen lokal menyempit. Dampaknya terlihat pada utilisasi pabrik yang menurun dan pada akhirnya mengganggu keberlanjutan usaha industri baja di dalam negeri.
Bukan kasus tunggal
Bhima menolak melihat penutupan KOS sebagai kejadian terpisah. Ia menyebut sebelumnya pabrik Metal Steel Group milik Ispat Indo di Surabaya juga tutup pada Oktober 2025, sehingga KOS menjadi korban berikutnya dari tekanan yang sama.
Rangkaian penutupan itu, menurut dia, menunjukkan bahwa masalah yang dihadapi industri baja sudah bergerak lebih jauh dari sekadar kondisi pasar yang lesu. Akar persoalannya mengarah pada krisis struktural akibat derasnya impor baja murah asal China.
Ia juga menilai tekanan tersebut berkaitan dengan pelemahan ekonomi global dan domestik, terutama di sektor baja. Dalam pasar yang dipenuhi produk impor murah, produsen lokal semakin berat mempertahankan operasi.
Utilisasi rendah dan dorongan anti-dumping
Bhima menyoroti tingkat utilisasi industri baja nasional yang saat ini disebut hanya sekitar 52 persen. Angka itu jauh di bawah tingkat ideal sekitar 80 persen yang dibutuhkan agar industri tetap efisien dan bisnisnya berkelanjutan.
Ia juga merujuk temuan Komite Anti-Dumping Indonesia (KADI) terkait dugaan dumping baja China. Dalam temuan itu, selisih harga disebut berada pada kisaran 5,9 persen hingga 55,6 persen lebih murah.
Menurut Bhima, temuan tersebut seharusnya cukup kuat untuk mendorong pemerintah bergerak cepat. Ia menilai reformasi regulasi perlu dilakukan agar bea masuk anti-dumping bisa segera diterapkan.
Bhima menegaskan kebijakan anti-dumping harus dijalankan dari hulu hingga hilir supaya daya saing industri baja nasional tidak terus tergerus. Tanpa langkah itu, penutupan seperti yang dialami Krakatau Osaka Steel berisiko kembali terjadi pada perusahaan baja lain di Indonesia.
Source: www.suara.com




