PT Astra International Tbk masih memasang target mempertahankan pangsa pasar otomotif nasional di kisaran 50 persen. Target itu tetap dipasang meski persaingan di pasar kendaraan listrik semakin padat dengan masuknya merek-merek asal China dan Korea Selatan.
Di tengah tekanan baru tersebut, Astra membaca pasar Indonesia sebagai pasar yang belum bergeser penuh ke elektrifikasi. Kondisi itu membuat ruang untuk kendaraan konvensional, hybrid, dan listrik murni masih sama-sama terbuka.
Pasar belum sepenuhnya berubah
Direktur Astra Gidion Hasan menyebut sekitar 75 persen pasar otomotif saat ini masih dikuasai kendaraan bermesin konvensional. Angka itu menunjukkan bahwa kebutuhan konsumen belum seragam dan peralihan menuju kendaraan listrik belum merata.
Bagi banyak pengguna, faktor keandalan, mobilitas, dan fungsi kendaraan masih menjadi pertimbangan utama. Karena itu, mesin konvensional tetap dipandang relevan di banyak wilayah dan untuk berbagai kebutuhan kerja.
EV naik, tetapi belum menyebar merata
Astra melihat pertumbuhan kendaraan listrik memang terjadi, terutama di Jabodetabek. Gidion mengatakan kontribusi EV di wilayah itu sudah berada di atas 10 persen, namun penyebarannya belum luas ke banyak daerah lain.
Kondisi tersebut membuat pasar kendaraan listrik masih terkonsentrasi di wilayah yang punya infrastruktur pengisian daya lebih siap dan daya beli lebih kuat. Akibatnya, kenaikan EV belum otomatis mengubah struktur pasar secara nasional.
Hybrid dinilai lebih mudah masuk ke daerah
Di luar Jakarta, Astra menilai kendaraan hybrid justru punya peluang penerimaan yang lebih besar. Konsumen di banyak daerah disebut lebih memperhatikan efisiensi, harga yang terjangkau, dan kemudahan penggunaan saat memilih kendaraan.
Posisi itu membuat hybrid menjadi pilihan transisi yang dianggap lebih praktis bagi sebagian konsumen. Teknologi ini memberi jalan tengah bagi mereka yang mulai tertarik pada elektrifikasi, tetapi belum siap beralih penuh ke kendaraan listrik murni.
Strategi yang tidak bergantung pada satu jalur
Presiden Direktur Astra Rudy menegaskan bahwa karakter pasar di setiap wilayah berbeda dan tidak bisa disamaratakan. Kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung dinilai lebih siap menerima kendaraan listrik karena infrastruktur dan daya beli masyarakat lebih mendukung.
Sebaliknya, wilayah semi-urban masih sangat sensitif terhadap harga dan fungsi kendaraan dalam aktivitas harian. Atas dasar itu, Astra memilih strategi multi-pathway dengan menghadirkan BEV, HEV, dan ICE sekaligus untuk menjangkau kebutuhan konsumen yang beragam.
Langkah tersebut juga menunjukkan bahwa Astra tidak menempatkan seluruh strategi pada satu jenis teknologi. Perusahaan berusaha menjaga keseimbangan antara pasar yang sudah siap elektrifikasi dan pasar yang masih membutuhkan kendaraan konvensional.
Tekanan dari pemain baru tetap diperhitungkan
Masuknya produsen otomotif global dari China dan Korea Selatan menambah sengit persaingan, terutama di segmen kendaraan listrik yang sedang tumbuh. Keberadaan mereka membawa teknologi baru sekaligus memperketat kompetisi di pasar nasional.
Meski begitu, Astra menilai tekanan itu belum tentu langsung menggerus basis pasar yang sudah terbentuk. Jaringan distribusi yang luas dan portofolio produk yang beragam masih menjadi penopang utama untuk menjaga posisi perusahaan.
Dengan ekosistem yang sudah hadir di banyak wilayah Indonesia, Astra melihat peluang mempertahankan pangsa pasar sekitar 50 persen tetap terbuka. Pandangan itu bertumpu pada pasar otomotif nasional yang masih berada dalam masa transisi, sehingga mesin konvensional, hybrid, dan EV masih sama-sama memiliki ruang.





