Babak Pertama Dundalk Terbuang, 25 Menit Usai Jeda Hancurkan Peluang Poin di Dalymount Park

Dundalk pulang dari Dalymount Park bukan hanya dengan kekalahan 1-3 dari Bohemians, tetapi juga dengan peringatan keras soal rapuhnya konsentrasi mereka. Ciaran Kilduff menilai timnya sebenarnya sudah menunjukkan cukup banyak hal positif untuk menang, sebelum 25 menit awal babak kedua menghapus semua modal yang sempat dibangun.

Kekalahan itu terasa berat karena Dundalk sempat mendominasi jalannya laga pada babak pertama. Mereka mencetak gol yang bagus, menciptakan peluang lain, dan mampu menahan Bohemians tanpa ancaman berarti, sehingga peluang untuk membawa pulang hasil positif masih terbuka lebar saat jeda.

Namun, semuanya berubah begitu babak kedua dimulai. Kilduff melihat ada periode sekitar 25 menit ketika timnya kehilangan kendali penuh, dan menurutnya justru di situlah pertandingan benar-benar lepas dari genggaman.

“We showed in the first half we had the team to win that game of football but in the second half it didn’t look like it,” kata Kilduff. Baginya, masalah utama bukan pada kualitas awal permainan, melainkan pada hilangnya standar permainan setelah turun minum.

Pola yang kembali muncul

Kilduff juga menyoroti bahwa situasi seperti ini bukan kali pertama terjadi. Ia melihat adanya pola ketika Dundalk menurun di fase penting dan langsung dihukum lawan saat fokus mereka berkurang.

Ia menegaskan bahwa kerja keras sepanjang 90 menit tidak akan berarti jika level permainan turun hanya dalam beberapa menit krusial. “You don’t get any points at half-time. They only come at full time,” ujarnya.

Sorotan itu menjadi semakin tajam karena Dundalk sedang berada dalam tekanan klasemen. Kekalahan ini membuat mereka kini berjarak enam poin dari zona play-off degradasi, sehingga kehilangan momentum seperti ini bisa berdampak lebih besar di pekan-pekan berikutnya.

Gol pembuka dan kartu merah jadi titik rusak

Momen yang paling merusak datang lewat gol pertama Bohemians. Kilduff menggambarkannya sebagai kegagalan membersihkan bola dari area sendiri, lalu bola memantul dan berakhir di gawang Dundalk.

Situasi kemudian memburuk ketika Rob Cornwall menerima kartu merah setelah melanggar Ross Tierney. Dari insiden itu, Bohemians mendapat penalti dan Dundalk makin sulit menemukan jalan untuk bangkit.

“The first goal is a calamity of trying to clear the ball from your box, it bobbles and ends up in your net. The second goal is a red card and a penalty and that was all that she really wrote from there,” ucap Kilduff. Setelah dua momen itu, pertandingan praktis bergerak ke arah yang sudah sulit dibalikkan.

Masih ada ruang untuk melihat konteks yang lebih luas

Meski kecewa dengan hasil akhir, Kilduff meminta timnya tetap melihat situasi secara proporsional. Ia mengingatkan bahwa Dundalk adalah tim promosi yang masih berusaha beradaptasi dan bertahan sebaik mungkin di kasta tertinggi.

“We need a bit of perspective as well. We’re the newly promoted team and we’re holding our own to the best of our ability. We’ve been competitive in that game tonight even though the result has gone the other way,” tuturnya. Pandangan itu menunjukkan bahwa performa babak pertama tetap dianggap layak diapresiasi, meski hasil akhirnya tidak sesuai harapan.

Kilduff juga membela Enda Minogue di bawah mistar, meski Dundalk sudah kebobolan 16 kali dalam 10 pertandingan. Menurutnya, persoalan utama bukan terletak pada kiper, melainkan pada kegagalan tim mempertahankan level permainan di fase yang menentukan.

Bagi Kilduff, 25 menit awal babak kedua menjadi bagian yang paling sulit diterima karena datang setelah 45 menit permainan yang kuat. “We had 45 minutes of really good stuff and then 25 minutes of absolute nothing. That’s very disheartening,” katanya. Dundalk kini dituntut memperbaiki konsentrasi agar pola penurunan seperti ini tidak terus berulang saat tekanan klasemen semakin besar.

Baca Juga

Back to top button