Banderol Bekas Terlihat Ringan, Empat dari Lima Motor Ini Diam-Diam Boros Dipakai

Di pasar motor bekas, angka murah di iklan sering membuat pembeli cepat tergoda. Namun pada beberapa model yang terkenal bertenaga atau lahir di era efisiensi belum jadi prioritas, biaya harian justru bisa lebih menyakitkan daripada harga belinya.

Kondisi itu membuat sebagian motor bekas terlihat menarik saat transaksi, tetapi berubah jadi beban ketika dipakai rutin. Bahan bakar yang cepat habis dan perawatan yang tidak ringan sering menjadi alasan kenapa sejumlah pemilik akhirnya menyesal setelah motor dibawa pulang.

Skutik lama yang murah, tapi boros dipakai

Yamaha Mio karburator termasuk nama yang paling sering disebut ketika membahas motor bekas dengan biaya pakai tinggi. Skutik generasi awal ini memang pernah sangat populer, tetapi konsumsi bensinnya dikenal tinggi karena lahir pada masa efisiensi bahan bakar belum menjadi fokus utama pabrikan.

Di kalangan mekanik dan pencinta kecepatan, Mio karbu masih punya daya tarik tersendiri. Material silinder bawaannya disebut tebal, sehingga motor ini disebut memungkinkan dipasangi piston hingga 63 mm dari ukuran standar pabrikan yang berada di kisaran 50-an mm.

Herdi Nofriadi dari channel YouTube HND Garage menilai motor ini wajar disebut sangat boros, bukan hanya dari sisi bensin, tetapi juga perawatan. Di pasar bekas, Yamaha Mio karbu rata-rata dipasarkan mulai sekitar Rp 3 jutaan hingga Rp 12 jutaan, tergantung kondisi dan orisinalitas.

Mesin 2-tak yang masih dicari, tapi bikin dompet cepat turun

Kawasaki Ninja 150 varian 2-tak tetap punya penggemar kuat karena suara khas, akselerasi instan, dan citra sporty yang sulit digantikan. Mesin 2-tak dengan teknologi katup Super KIPS membuat tarikan terasa cepat dan spontan, tetapi konsekuensinya adalah frekuensi mampir ke SPBU yang ikut meningkat.

Herdi menggambarkan karakter motor ini sebagai tarikan yang ringan dan “nampol”, namun keuangan ikut terasa “was-wus” karena pengeluaran cepat terkuras. Harga bekas Kawasaki Ninja 150R dan 150RR masih cukup tinggi, berkisar dari Rp 23.000.000 hingga menembus Rp 50.000.000 untuk unit terawat.

Nama besar lain yang sering memancing minat adalah Kawasaki Ninja 250 4-tak generasi karburator. Motor sport fairing dua silinder ini kini bisa ditemukan dari kisaran belasan juta, bahkan sekitar Rp 14,8 juta hingga Rp 30 jutaan, sehingga terlihat semakin menggoda bagi pencari motor besar dengan dana terbatas.

Masalahnya, sistem pengabutan masih mengandalkan dua karburator konvensional untuk dua silinder 125 cc. Herdi menyebut sensasinya seperti menghidupi dua motor karburator sekaligus dalam satu waktu, sehingga konsumsi BBM-nya tetap perlu dipikirkan serius untuk pemakaian harian.

Kelas hobi yang harga jualnya fluktuatif

Yamaha RX-King berada di jalur yang berbeda karena sudah lama bergeser dari kendaraan fungsional menjadi barang hobi dan investasi. Unit yang dirawat baik dengan komponen orisinal kini bisa dihargai sangat tinggi di pasar, sehingga daya tariknya tidak lagi hanya soal transportasi.

Di balik status ikonik itu, mesin 2-tak 135 cc milik RX-King dikenal sangat boros bensin sekaligus oli samping. Biaya ini kerap bertambah karena banyak pemilik melakukan modifikasi performa, mengganti knalpot racing, atau merestorasi total motor.

Di pasar online, harga RX-King sangat fluktuatif, mulai dari sekitar Rp 13,8 juta hingga Rp 88 juta untuk unit istimewa. Karena karakter dan posisinya di pasar, motor ini jelas bukan pilihan yang pas bagi pembeli yang menempatkan efisiensi pengeluaran bulanan sebagai prioritas utama.

Moge klasik yang menawan, tapi tidak ramah konsumsi

Honda CB400 Super Four menjadi contoh lain bahwa mesin besar dan tampilan gagah tidak selalu sejalan dengan biaya pakai yang ringan. Moge klasik 400 cc ini menarik perhatian lewat desain kekar dan raungan empat silinder segaris yang khas.

Sumber utama keborosannya ada pada empat karburator vakum yang menyuplai empat silinder sekaligus. Dalam gambaran sederhana, karakter ini terasa seperti membawa empat motor yang bekerja bersamaan dalam urusan asupan bahan bakar.

Herdi menyebut satu karburator vakum di skutik saja sudah sering dikeluhkan boros, apalagi jika ada empat yang berbaris untuk mesin 400 cc. Di marketplace, beberapa unit Honda CB400 Super Four terpantau dijual di kisaran Rp 59 jutaan, meski harganya kerap sulit ditebak.

Empat nama besar itu menunjukkan pola yang sama: harga beli yang terlihat menarik tidak selalu berarti motor tersebut hemat dipakai. Bagi pembeli yang mengincar kendaraan operasional, konsumsi bensin dan biaya rawat tetap perlu dihitung sejak awal agar tidak berubah menjadi penyesalan setelah motor masuk garasi.

Source: www.suara.com

Baca Juga

Back to top button