BMRI Paling Tertekan Saat Big Banks Loyo, Asing Masih Rajin Lepas Saham Bank Besar

Penutupan perdagangan di Bursa Efek Indonesia pada Senin memperlihatkan tekanan yang masih kuat pada saham-saham bank besar. Empat emiten utama sektor ini bergerak melemah, dengan PT Bank Mandiri Tbk atau BMRI menjadi yang paling dalam terkoreksi dan paling besar mendapat tekanan jual bersih asing.

Pola itu menunjukkan bahwa minat investor terhadap big banks belum kembali stabil sepenuhnya. Di saat sebagian pelaku pasar masih memilih keluar, hanya BBNI yang mencatat arus beli bersih asing di tengah pelemahan sektor perbankan besar.

BMRI menjadi pusat tekanan

BMRI menutup perdagangan dengan penurunan 2,22 persen ke level Rp 4.400 per saham. Pada saat yang sama, saham ini membukukan jual bersih asing terbesar di kelompok big banks, mencapai Rp 678,51 miliar.

Tekanan tersebut membuat BMRI menonjol di antara saham bank besar lainnya. Kondisi ini juga memberi sinyal bahwa respons pasar terhadap saham tersebut masih sangat dipengaruhi oleh pergerakan dana asing.

BBCA dan BBRI ikut berada di zona merah

Selain BMRI, PT Bank Central Asia Tbk atau BBCA juga ditutup melemah. Saham bank swasta terbesar itu terkoreksi 1,24 persen ke posisi Rp 5.975, disertai net sell asing senilai Rp 896,04 miliar.

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk atau BBRI bergerak lebih ringan, tetapi tetap berada di jalur penurunan. Sahamnya turun 0,65 persen ke level Rp 3.050, dengan jual bersih asing sebesar Rp 200,25 miliar.

Jika dilihat dari pergerakan harian, ketiganya sama-sama menunjukkan tekanan yang searah. Meski persentase penurunannya berbeda, BBCA, BBRI, dan BMRI sama-sama ditinggalkan investor asing pada perdagangan hari itu.

BBNI bergerak berbeda dari tiga bank besar lain

Di tengah pelemahan serentak bank-bank besar, PT Bank Negara Indonesia Tbk atau BBNI tampil sedikit berbeda. Sahamnya tetap terkoreksi 1,33 persen ke Rp 3.720, tetapi justru mencatat pembelian bersih asing sebesar Rp 17,99 miliar.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa arus dana asing belum sepenuhnya keluar dari sektor perbankan besar. Namun, pembelian bersih itu belum cukup kuat mengangkat harga BBNI ke area positif pada penutupan perdagangan.

Sentimen yang masih membayangi pasar

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menilai tekanan pada saham big banks belum benar-benar mereda. Ia menyebut volatilitas nilai tukar rupiah, pengumuman indeks MSCI, dan rilis laporan kinerja kuartal I-2026 masih menjadi faktor yang membebani pergerakan saham-saham tersebut.

Menurut Wafi, pasar cenderung menunggu kepastian dari sejumlah sentimen itu sebelum kembali agresif. Ia juga menilai ruang rebound singkat masih mungkin muncul bila hasil kinerja emiten besar menunjukkan kekuatan yang konsisten.

Wafi mengatakan, “BMRI sudah buktikan kinerja kuat, dan kalau BBCA serta BBRI rilis angka serupa, bisa jadi pemicu rebound singkat.” Ia menambahkan bahwa dari sisi valuasi, BBNI sudah berada di bawah nilai bukunya.

Pergerakan masih cenderung menyamping

Untuk pekan ini, Wafi memperkirakan saham big banks masih bergerak sideways dengan ruang pemulihan yang terbatas. Kondisi itu membuat investor perlu lebih selektif dalam membaca momentum masuk ke sektor perbankan besar.

Dalam pandangannya, akumulasi bertahap masih bisa menjadi strategi yang layak dipertimbangkan. BMRI dan BBNI disebut sebagai pilihan utama karena dinilai punya valuasi yang lebih menarik serta sudah menunjukkan sinyal kinerja yang solid.

Dengan tekanan asing yang masih besar dan sentimen pasar yang belum sepenuhnya pulih, arah saham bank besar masih bergantung pada respons investor terhadap kabar fundamental berikutnya. Perdagangan Senin menjadi penegasan bahwa sektor ini belum lepas dari fase sensitif terhadap perubahan sentimen pasar.

Baca Juga

Back to top button