Bagi banyak orang, daging tetap bisa masuk menu harian selama jumlahnya tidak berlebihan dan pengolahannya tidak sembarangan. Yang sering luput justru bukan pada frekuensi makan, melainkan pada ukuran porsi, jenis daging yang dipilih, dan lauk pendamping di piring.
Rosemary Trout, ahli kuliner dan food science dari Drexel University, menjelaskan bahwa daging masih punya nilai gizi yang penting. Daging merupakan sumber protein lengkap yang mengandung asam amino esensial, vitamin B12, zat besi, dan zinc.
Protein hewani juga cenderung lebih mudah diserap tubuh dibandingkan protein nabati. Tidak heran jika banyak orang merasa lebih kenyang dan lebih bertenaga setelah makan menu berbahan daging.
Porsi kecil lebih aman untuk kebiasaan harian
Meski begitu, jumlah yang terlalu banyak tetap bukan pilihan yang baik. Daging mengandung lemak dan kolesterol, sehingga konsumsi berlebihan dapat meningkatkan risiko gangguan metabolisme dan kenaikan berat badan.
Lauren Manaker, ahli gizi, menilai daging masih boleh dimakan setiap hari selama porsinya tepat. Ia menekankan bahwa menu pendamping juga perlu dijaga agar asupan tidak bertumpu pada protein hewani saja.
Pedoman Dietary Guidelines for Americans menyarankan total konsumsi daging, unggas, dan telur sekitar 26 ons per minggu. Sementara itu, American Cancer Society menyebut satu porsi daging idealnya hanya sekitar 3 hingga 4 ons.
Ukuran itu sering terasa kecil jika dibandingkan dengan sajian keluarga, terutama pada menu seperti sate atau rendang. Karena itu, pengaturan jumlah makan menjadi penting agar tubuh tidak bekerja terlalu berat saat mencerna lemak berlebih.
Jenis daging dan cara masak ikut menentukan
Selain porsi, jenis daging juga memengaruhi dampaknya bagi tubuh. Trout menilai bacon, sosis, nugget, dan daging olahan kemasan termasuk makanan tinggi proses yang biasanya mengandung tambahan garam, gula, lemak, dan bahan pengawet.
Produk ultra processed seperti itu tidak disarankan untuk dikonsumsi rutin setiap hari. Daging segar lebih dianjurkan karena kandungan tambahannya lebih sedikit dan rasa alaminya masih bisa dinikmati dengan bumbu sederhana.
Cara memasak juga punya pengaruh besar terhadap kualitas hidangan. Jika stok daging masih banyak di rumah, pilihan seperti direbus, dipanggang, atau ditumis dengan sedikit minyak lebih baik daripada mengolahnya menjadi makanan bersantan atau gorengan.
Potongan daging yang lebih ramping juga lebih disarankan. Tenderloin atau has dalam menjadi contoh bagian rendah lemak yang membantu menekan asupan lemak jenuh tanpa harus menghilangkan daging dari menu harian.
Lauk pendamping jangan sampai tertinggal
Keseimbangan menu tidak berhenti pada dagingnya saja. Lauk pendamping justru membantu menambah serat dan mikronutrien penting agar isi piring tidak terlalu berat di protein hewani.
Lauren Manaker menyebut sayuran segar sebagai pelengkap yang disarankan karena membantu memenuhi serat harian. Asupan serat yang cukup juga mendukung pencernaan lebih lancar dan membuat tubuh tidak terasa terlalu berat setelah makan daging.
Menu juga bisa dibuat lebih seimbang dengan memadukan daging dan protein nabati seperti tempe, tahu, atau kacang-kacangan. Kombinasi ini membantu tubuh mendapat nutrisi yang lebih lengkap sekaligus menjaga konsumsi lemak tetap terkontrol.
Air putih yang cukup juga ikut berperan dalam kebiasaan makan daging. Sebaliknya, pengurangan minuman manis membantu menjaga keseimbangan metabolisme dan menekan penumpukan kalori berlebih.
Dengan porsi yang dijaga, pilihan daging yang lebih segar, teknik masak yang lebih ringan, dan lauk pendamping yang tepat, daging masih bisa menjadi bagian dari pola makan harian. Kuncinya ada pada cara menyusun menu agar manfaat gizinya tetap didapat tanpa membuat tubuh terbebani.
Source: www.beautynesia.id




