Dari Dipandang Remeh Menjadi Sejarah, Maroko Mengguncang Qatar dan Dunia Arab

Yang paling diingat dari Maroko di Qatar bukan sekadar angka di papan skor, melainkan cara mereka mematahkan prediksi. Tim yang semula tidak banyak dijagokan itu justru melaju sampai semifinal dan mengubah cara dunia memandang sepak bola Afrika serta dunia Arab.

Perjalanan tersebut terasa istimewa karena Maroko membangun keberhasilannya dengan fondasi yang cepat dan rapi. Walid Regragui baru mengambil alih tim tiga bulan sebelum turnamen dimulai, lalu berhasil menyatukan pemain-pemain bintang yang berkarier di Eropa bersama talenta muda dari Akademi Mohammed VI menjadi satu kesatuan yang solid.

Awal yang tidak memberi banyak harapan

Maroko datang ke Grup F dengan tantangan besar. Mereka satu grup dengan Kroasia, Belgia, dan Kanada, sehingga banyak pihak melihat mereka bukan sebagai kandidat kuat untuk melangkah jauh.

Namun, hasil di lapangan segera mengubah pandangan itu. Mereka membuka perjalanan dengan menahan Kroasia 0-0, sebuah hasil yang menunjukkan ketahanan dan disiplin sejak laga pertama.

Momentum itu berlanjut saat menghadapi Belgia. Maroko menang 2-0 dan hasil itu memicu euforia besar di dunia Arab, dari Mesir hingga Uni Emirat Arab.

Setelah itu, kemenangan 2-1 atas Kanada memastikan Maroko finis sebagai pemuncak grup. Hasil tersebut juga mengingatkan publik pada pencapaian Maroko pada 1986, meski kali ini langkah mereka belum berhenti di fase grup.

Spanyol tumbang lewat adu penalti

Di babak 16 besar, Maroko berhadapan dengan Spanyol, juara dunia 2010. Pertandingan berjalan keras selama 120 menit, tetapi kedua tim tidak mampu mencetak gol.

Adu penalti kemudian menjadi panggung Yassine Bounou. Kiper Maroko itu menggagalkan eksekusi Carlos Soler dan Sergio Busquets, sementara tendangan Pablo Sarabia lebih dulu membentur tiang.

Achraf Hakimi lalu menuntaskan drama dengan tendangan Panenka. Kemenangan itu membuat Maroko mencatat sejarah sebagai negara Arab pertama yang lolos ke perempat final Piala Dunia.

Euforia dari hasil tersebut menjalar luas ke berbagai kota di dunia Arab. Burj Khalifa bahkan diterangi warna-warna Maroko sebagai simbol persatuan dan kebanggaan bersama.

Langkah yang membawa Afrika ke semifinal

Portugal menjadi lawan berikutnya, dan Maroko tetap tampil tanpa rasa gentar. Walid Regragui bahkan memberi pesan tegas kepada para pemainnya bahwa mereka lebih baik dari lawan dan harus membuktikannya di lapangan.

Pada menit ke-42, Youssef En-Nesyri menjawab tantangan itu. Ia melompat tinggi dan mencetak sundulan yang menjadi gol penentu kemenangan.

Hasil itu membawa Maroko ke semifinal dan sekaligus menorehkan sejarah baru bagi Afrika. Untuk pertama kalinya, sebuah tim dari benua itu menembus empat besar Piala Dunia.

Selepas pertandingan, Sofiane Boufal menari bersama ibunya di lapangan. Momen itu memperlihatkan sisi emosional dari perjalanan Maroko yang tidak hanya diwarnai kemenangan, tetapi juga kebanggaan keluarga dan makna yang lebih luas dari sepak bola.

Warisan yang tertinggal di Qatar

Langkah Maroko akhirnya dihentikan Prancis di semifinal dengan kekalahan 2-0. Cedera ikut memengaruhi kondisi tim, tetapi capaian mereka tetap menempatkan Maroko di jajaran cerita terbesar dalam sejarah Piala Dunia.

Dari Qatar, Maroko pulang bukan sebagai tim kejutan biasa. Mereka meninggalkan warisan sebagai simbol kebangkitan yang melampaui batas olahraga dan memperoleh penghormatan dari banyak pihak di seluruh dunia.

Source: www.goal.com

Baca Juga

Back to top button