Dari Rumah, Usaha Sampingan Ini Menjadi Penopang Saat Penghasilan Utama Tak Pasti

Bagi banyak orang, usaha sampingan dari rumah kini bukan lagi sekadar tambahan pemasukan. Dalam situasi ketika penghasilan utama naik turun, langkah ini bisa menjadi penyangga agar kebutuhan harian tetap terpenuhi.

Perubahan itu makin terasa ketika pekerjaan berbasis offline ikut terpukul. Pameran seni, pertunjukan, dan acara musik sempat lumpuh akibat pandemi Covid-19, sehingga banyak orang kehilangan sumber pendapatan dalam waktu singkat.

Berangkat dari kemampuan yang sudah ada

Gracesyera, content creator yang juga ibu rumah tangga, mengalami langsung tekanan tersebut. Penghasilan keluarganya sempat nyaris nol saat pameran seni rupa dan acara musik yang menjadi sumber nafkah dirinya dan suami banyak dibatalkan.

Ia kemudian mulai membuat konten sederhana dari rumah. Konten yang dibuat berisi ulasan produk yang memang dipakai sehari-hari, lalu perlahan menarik perhatian brand dan menghasilkan fee.

Modal yang dipakai juga tidak besar. Ia mengandalkan bekal lama seperti pengetahuan desain komunikasi visual, kemampuan visual, editing, scripting, dan pemahaman soal personal branding.

Tidak harus menunggu serba siap

Banyak orang menunda memulai karena merasa belum punya peralatan lengkap atau belum cukup ahli. Gracesyera justru melihat pola pikir itu sering membuat peluang terlewat begitu saja.

Ia memulai dari aktivitas biasa bersama anak-anak. Proses produksinya dibuat sederhana dan tidak menuntut tampilan yang terlalu estetik.

Pendekatan seperti ini selaras dengan perubahan cara audiens menikmati konten di media sosial. Konten yang natural dan dekat dengan keseharian dinilai lebih mudah diterima karena terasa lebih jujur dan relevan.

Ia merekam momen harian lalu menyusunnya menjadi cerita yang tetap punya nilai. Cara itu membuat proses produksi lebih ringan dan membantu menjaga konsistensi tanpa pencitraan berlebihan.

Bidang yang dekat dengan hidup lebih mudah dijalankan

Konsistensi sering terganggu ketika bidang yang dipilih terlalu jauh dari kehidupan sendiri. Karena itu, menemukan niche yang dekat dengan pengalaman pribadi menjadi langkah penting dalam membangun usaha sampingan.

Gracesyera sempat mencoba beberapa tema konten sebelum akhirnya fokus pada parenting dan pendidikan. Tema itu lebih dekat dengan aktivitas hariannya sehingga lebih mudah dijalankan tanpa beban.

Ia juga berbagi pengalaman soal fase postpartum dan keseharian mendampingi anak belajar. Kedekatan emosional itu membantu audiens merasa lebih terhubung dan membuat ciri khasnya lebih mudah dikenali.

Seiring waktu, aktivitas tersebut berkembang melampaui target awal untuk menambah penghasilan. Dunia content creator membawanya ke public speaking, penulisan jurnal kegiatan anak, kelas pendidikan kontekstual, hingga ikut membuat buku tentang pendidikan.

Tambahan pemasukan juga menuntut disiplin

Meski membantu keuangan, usaha sampingan tidak otomatis membuat kondisi lebih aman. Tantangan baru justru muncul saat pendapatan mulai masuk dan harus dipisahkan dengan rapi dari kebutuhan pribadi.

Chrisna Fernand merasakan hal itu ketika menjalankan usaha lain di luar seni rupa. Ia mengakui masih sering memakai penghasilan warung untuk membeli cat atau kebutuhan lain di luar operasional usaha.

Chrisna membuka Kedai Pomintos di Bantul setelah menjual lukisan sekitar Rp20 jutaan. Usaha itu dibangun sebagai kafe sekaligus ruang berkumpul komunitas kreatif, sesuai kebiasaannya yang senang bersosialisasi dan membuat ruang kumpul bagi seniman serta aktivis.

Pengalaman Chrisna menunjukkan bahwa keberanian memulai saja tidak cukup. Usaha sampingan juga menuntut disiplin dalam memisahkan modal, pengeluaran pribadi, dan biaya lain agar keuangan tidak cepat bocor.

Bagi Chrisna, usaha sampingan bukan hanya penopang jangka pendek. Ia melihatnya sebagai jalan untuk membangun beberapa sumber pendapatan agar di masa depan tetap bisa melukis tanpa terus dibayangi kebutuhan hidup sehari-hari.

Model usaha seperti ini juga memberi dampak sosial. Di Kedai Pomintos, ia membuka ruang bagi teman-teman yang hobi memasak untuk berjualan tanpa harus punya tempat sendiri.

Baca Juga

Back to top button