Data Pabrik China Dorong Tembaga Rebound, April Menjadi Bulan Terkuat Tahun Ini

Reli tembaga memasuki April dengan napas yang lebih panjang setelah data manufaktur China menunjukkan ekspansi yang lebih cepat dari perkiraan. Kabar itu mendorong harga tembaga di London Metal Exchange naik dan mengakhiri penurunan selama lima hari berturut-turut.

Pada Kamis, 30 April 2026, harga tembaga acuan tiga bulan di LME naik 0,9 persen menjadi 13.119,50 dolar AS per metrik ton pada pukul 09.35 GMT. Sepanjang April 2026, logam industri ini sudah menguat 6,2 persen dan mencatat kinerja bulanan terbaik sepanjang tahun ini.

Sinyal dari pabrik China

Pasar membaca data manufaktur China sebagai tanda bahwa permintaan terhadap logam industri masih cukup tahan. Aktivitas pabrik di negara itu tumbuh pada laju tercepat sejak akhir 2020, dengan lonjakan pesanan baru menjadi salah satu pendorong utamanya.

Bagi tembaga, kabar ini penting karena China adalah konsumen terbesar di dunia. Ketika produksi pabrik menguat, ekspektasi terhadap kebutuhan bahan baku ikut naik dan langsung tercermin pada sentimen pasar.

Dorongan itu juga diperkuat oleh penurunan stok tembaga di Shanghai Futures Exchange. Persediaan di bursa tersebut turun 4,6 persen menjadi 192.025 ton dibandingkan pekan lalu.

Harga naik, tetapi pasar belum sepenuhnya tenang

Meski data China memberi dukungan, reli tembaga masih dibayangi kekhawatiran geopolitik. Investor tetap mencermati potensi eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat-Israel melawan Iran.

Kondisi itu membuat arah harga tidak hanya bergantung pada sinyal permintaan, tetapi juga pada perubahan sentimen risiko global. Dalam pasar komoditas, ketegangan semacam ini dapat memicu pergerakan cepat dan membuat pelaku pasar lebih berhati-hati.

Di sisi lain, prospek permintaan masih dipandang positif. Analis CRU Craig Lang memperkirakan permintaan tembaga olahan di China tumbuh 2,8 persen tahun ini.

Lang menilai pertumbuhan itu ditopang oleh investasi jaringan listrik dan terbatasnya ketersediaan skrap. Namun, ia juga menilai kenaikan harga tembaga belakangan ini lebih banyak digerakkan oleh investasi dana.

Menurut Lang, stok bursa global kini berada pada level tertinggi sejak awal 2000-an. Ia melihat kondisi itu masih memberi tekanan pada ruang kenaikan harga, dan memperkirakan tembaga bisa turun menuju 11.000 dolar AS pada akhir tahun sebelum pulih lagi dalam jangka menengah.

Logam dasar lain ikut bergerak

Pergerakan tidak hanya terjadi pada tembaga. Nikel naik 1 persen menjadi 19.465 dolar AS per ton dan berada di jalur kenaikan bulanan 13,6 persen.

Kenaikan nikel didorong pengetatan kuota produksi tambang di Indonesia dan kendala pasokan sulfur yang dihadapi perusahaan pemurnian. Sucden Financial menilai harga nikel yang mendekati 20.000 dolar AS per ton dapat membuka peluang persetujuan atau reaktivasi pasokan tambahan.

Sementara itu, aluminium turun 0,2 persen menjadi 3.482,50 dolar AS, seng naik 1,2 persen menjadi 3.354,50 dolar AS, timah menguat 1,5 persen ke 49.410 dolar AS, dan timbal naik tipis 0,3 persen menjadi 1.954,50 dolar AS. Gerak serentak di pasar logam industri itu menunjukkan bahwa data ekonomi China, kondisi pasokan, dan risiko geopolitik masih menjadi penentu utama arah harga.

Baca Juga

Back to top button