Di tengah tekanan ekonomi global yang belum mereda, 12 provinsi memilih merapatkan barisan ketimbang berjalan sendiri-sendiri. Forum Kerja Sama Daerah Mitra Praja Utama di Semarang menjadi ruang untuk mencari cara menjaga pertumbuhan ekonomi, memperkuat ketahanan daerah, dan sekaligus menopang ketahanan nasional.
Pilihan itu muncul karena banyak daerah kini menghadapi keterbatasan fiskal dan situasi luar negeri yang tidak menentu. Dalam kondisi seperti ini, kolaborasi antardaerah dinilai lebih penting dibanding persaingan yang hanya mengandalkan kekuatan masing-masing wilayah.
Jawa Tengah Jadi Titik Kumpul
Jawa Tengah berperan sebagai tuan rumah sekaligus salah satu motor utama forum tersebut. Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menilai tekanan fiskal menuntut pejabat publik lebih kreatif dalam membangun sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Ia menekankan bahwa setiap provinsi memiliki keunggulan komparatif dan kearifan lokal yang berbeda. Karena itu, forum ini harus menjadi ruang saling melengkapi, bukan saling membandingkan.
Basis Ekonomi yang Luas
Anggota forum Mitra Praja Utama terdiri dari DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Lampung, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku Utara, dan Kepulauan Riau. Komposisi ini membuat kerja sama yang dibangun memiliki basis ekonomi yang luas dan beragam.
Daerah-daerah itu memegang peran besar dalam penopang ekonomi nasional melalui sektor pangan, industri, investasi, perdagangan, dan pariwisata. Karena itu, kerja sendiri-sendiri dianggap tidak lagi memadai saat ketidakpastian global terus menekan.
Agenda yang Disorot Pemerintah Pusat
Pemerintah pusat melihat forum ini sebagai langkah strategis untuk mendukung agenda pembangunan nasional. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, melalui Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus, menyampaikan apresiasi kepada seluruh anggota MPU atas peran mereka dalam menguatkan sinergi antardaerah.
Wiyagus juga berterima kasih kepada Jawa Tengah yang memfasilitasi pertemuan tersebut. Ia menyebut Mendagri secara khusus meminta dua wakil menteri hadir ke Jawa Tengah untuk agenda itu.
Pangan, Energi, dan Sinkronisasi Kebijakan
Pertemuan ini tidak hanya berbicara tentang semangat kolaborasi, tetapi juga membahas langkah yang lebih teknis. Agenda rapat kerja mencakup evaluasi enam fokus rencana aksi MPU, penguatan pengawasan energi dan pangan lintas wilayah, serta sinkronisasi kebijakan pusat dan daerah.
Pemerintah pusat menilai agenda tersebut relevan dan visioner di tengah dinamika global serta tantangan pembangunan nasional. Wiyagus menilai forum seperti ini penting agar kebijakan antardaerah bergerak searah dan potensi tiap wilayah lebih cepat menjadi kekuatan ekonomi nyata.
Ekonomi Indonesia Dinilai Tetap Tahan Tekanan
Di tengah tekanan dari luar negeri, pemerintah pusat menilai ekonomi Indonesia masih menunjukkan daya tahan yang cukup kuat. Badan Pusat Statistik mencatat inflasi nasional year on year pada April 2026 terkendali di angka 2,42 persen, sedangkan pertumbuhan ekonomi nasional triwulan I 2026 mencapai 5,61 persen.
Pulau Jawa masih menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi nasional dengan kontribusi 57,24 persen. Di bawahnya ada Sumatera sebesar 22,09 persen dan Bali-Nusa Tenggara sebesar 2,80 persen.
Wiyagus menyebut capaian itu menunjukkan ekonomi Indonesia tetap tahan banting di tengah tekanan global. Karena itu, kerja sama lintas provinsi dinilai menjadi langkah penting agar ketahanan tersebut tetap terjaga.
Keunggulan yang Saling Menguatkan
Masing-masing provinsi dalam forum ini membawa kekuatan yang berbeda. DKI Jakarta tercatat memiliki kapasitas Pendapatan Asli Daerah sebesar 80,71 persen, disusul Banten 74,32 persen, Jawa Tengah 68,21 persen, Jawa Barat 64,81 persen, dan Jawa Timur 63,21 persen.
Di sektor ekonomi, Jawa Barat dan Banten unggul pada manufaktur dan investasi. Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Lampung menjadi penopang pangan serta industri pengolahan, sementara Jakarta tetap menjadi pusat perdagangan dan jasa keuangan nasional.
Bali, DI Yogyakarta, dan NTB mengandalkan pariwisata internasional serta ekonomi kreatif sebagai penggerak utama. Wiyagus menegaskan bahwa integrasi seluruh potensi itu lewat kerja sama konkret lintas daerah akan menjadi kekuatan besar bagi ketahanan ekonomi dan ketahanan nasional Indonesia.
Source: mettanews.id