Kabar pulihnya seorang dokter Amerika Serikat dari Ebola di Berlin memberi sedikit kelegaan di tengah wabah yang justru masih membesar di Republik Demokratik Kongo. Namun, kondisi lapangan di Afrika tengah dan timur belum menunjukkan tanda mereda, karena jumlah kasus di DRC terus naik dan penularan sudah mencapai Uganda.
Dokter itu dirawat di rumah sakit umum Charite, Berlin, setelah tes memastikan ia terinfeksi virus Bundibugyo, salah satu strain Ebola yang langka. Rumah sakit menyatakan pasien tersebut kini dalam kondisi baik dan sudah diperbolehkan keluar dari karantina setelah lebih dari dua minggu menjalani perawatan.
Dalam laporan media, pria itu diidentifikasi sebagai Peter Stafford, 39 tahun. Ia bekerja sebagai ahli bedah untuk sebuah kelompok misi Kristen di DRC dan diduga tertular saat mengoperasi pasien Ebola di wilayah timur negara itu.
Sebelum wabah di sana resmi dinyatakan pada 15 Mei, Stafford sudah lebih dulu terpapar risiko di lapangan. Ia kemudian diterbangkan dari Uganda ke Berlin dengan pesawat khusus dan dibawa ke Charite dengan pengamanan ketat.
Istri dan empat anaknya yang tidak menunjukkan gejala juga ikut tiba di Berlin tak lama setelah itu. Mereka sempat dikategorikan sebagai kontak berisiko tinggi dan menjalani karantina di bagian terpisah.
Stafford menyebut perawatannya mencakup terapi eksperimental yang sedang diuji untuk jenis virus ini. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada tim medis dan menegaskan pikirannya tetap bersama warga Kongo yang tidak memiliki akses ke perawatan serupa.
Direktur Departemen Penyakit Infeksi dan Perawatan Intensif Charite, Leif Erik Sander, menyebut pemulihan pasien itu sebagai keberhasilan terapi yang signifikan. Rumah sakit juga menyatakan pembatasan isolasi bagi istri dan anak-anaknya dicabut pada Sabtu.
Di sisi lain, Organisasi Kesehatan Dunia menilai wabah ini belum terkendali. Lembaga itu menyebut penyebaran sudah bergerak dari timur DRC ke negara tetangga Uganda.
Pemerintah DRC pada Sabtu menaikkan total kasus Ebola menjadi 488, dari 452 kasus yang diumumkan beberapa hari sebelumnya. Dari jumlah itu, 86 orang dilaporkan meninggal dunia.
Uganda juga mengonfirmasi 19 kasus dan dua kematian. Negara itu menutup sebagian besar perbatasan baratnya dengan DRC untuk menekan penularan lintas batas, meski langkah tersebut mengganggu pedagang yang bergantung pada jalur perbatasan untuk usaha mereka.
Kasus yang menimpa Stafford juga menyorot strain Bundibugyo, jenis Ebola langka yang terkait dengan wabah di kawasan tersebut. Saat ini tiga vaksin sedang diteliti dan dipercepat untuk uji klinis, tetapi belum ada vaksin yang disetujui untuk strain ini.
Kondisi itu membuat penanganan wabah masih bertumpu pada deteksi cepat, perawatan medis, dan pencegahan yang ketat. CDC Amerika Serikat bahkan memperingatkan bahwa skala wabah bisa membesar dan berpotensi menjadi epidemi Ebola terbesar yang pernah tercatat, menyaingi wabah Afrika Barat pada 2014-2016.





