Dominasi Tak Berbuah Gol, PSIM Kembali Kehilangan Poin Penuh Di Kandangnya

PSIM Yogyakarta harus pulang dengan tangan hampa setelah gagal menembus pertahanan Persita Tangerang pada laga pekan ke-30 Super League 2025/2026 di Stadion Sultan Agung, Bantul. Kekalahan 0-1 itu kembali menegaskan satu persoalan yang belum tuntas musim ini, yakni tumpulnya lini depan saat peluang sudah tercipta.

Di hadapan pendukung sendiri, PSIM sebenarnya lebih sering memegang kendali permainan. Namun, penguasaan bola itu tidak berubah menjadi gol, sementara Persita justru memaksimalkan kesempatan pertama mereka untuk menentukan hasil pertandingan.

Persita hanya butuh satu momen

Gol cepat Persita menjadi pembeda utama dalam laga ini. Kesempatan awal yang mereka dapat langsung berbuah gol pembuka, lalu keunggulan itu bertahan sampai akhir pertandingan.

Setelah unggul, Persita tidak lagi bermain terbuka. Tim tamu memilih menurunkan garis pertahanan dan menutup ruang dengan blok rendah, sehingga PSIM dipaksa mengalirkan bola dari banyak sisi tanpa banyak ruang untuk menusuk ke area berbahaya.

Dominasi PSIM tidak berujung ancaman efektif

PSIM mencoba membangun serangan secara bertahap dan sempat beberapa kali masuk ke area lawan. Meski begitu, aliran serangan mereka kerap terhenti di sepertiga akhir lapangan saat pertahanan Persita menjaga ruang dengan rapat.

Situasi itu membuat PSIM terlihat lebih dominan dalam penguasaan bola, tetapi tidak cukup tajam dalam penyelesaian. Beberapa peluang memang hadir, namun tidak ada yang bisa dikonversi menjadi gol penyeimbang.

Van Gastel menyoroti masalah yang berulang

Pelatih PSIM Yogyakarta, Jean Paul Van Gastel, menilai masalah timnya kembali muncul dalam bentuk yang sama. Ia menegaskan bahwa penyelesaian akhir masih menjadi pekerjaan rumah utama yang belum juga selesai dari satu laga ke laga lain.

“Kami kebobolan di menit-menit awal dari peluang pertama Persita. Kemudian mereka bermain dengan low block dan sulit ditembus meski sebenarnya kami bisa menciptakan beberapa peluang,” kata Van Gastel.

Ia juga menjelaskan bahwa PSIM sudah berusaha meningkatkan tekanan setelah tertinggal. Namun, upaya itu tetap tidak cukup karena para pemain depan kembali gagal memanfaatkan peluang yang tersedia.

“Selalu dapat kesulitan dalam penyelesaian akhir dari peluang yang ada. Ini yang jadi masalah,” ucapnya.

Momentum sempat terbuka, lalu hilang begitu saja

Di tengah tekanan yang terus datang, PSIM sempat mendapat angin segar lewat aksi Cahya Supriadi. Kiper muda itu melakukan penyelamatan penting saat Persita mendapatkan penalti, sehingga harapan tuan rumah untuk mengejar ketertinggalan belum sepenuhnya padam.

Momen itu sempat menghidupkan suasana pertandingan bagi PSIM. Tetapi setelah peluang tersebut terlewat, tim tuan rumah tetap tidak mampu menemukan gol penyama hingga pertandingan selesai.

Tren negatif kandang makin terasa

Kekalahan dari Persita memperpanjang catatan tanpa kemenangan PSIM menjadi tujuh laga beruntun. Dalam lima pertandingan terakhir, Laskar Mataram juga menelan empat kekalahan, tanda bahwa performa mereka belum stabil.

Catatan itu terasa lebih mengkhawatirkan karena problem yang sama terus muncul di kandang sendiri. PSIM belum mampu menjadikan dukungan publik Bantul sebagai dorongan untuk mengamankan poin penuh.

Di klasemen sementara, PSIM tertahan di peringkat ke-11 dengan 39 poin. Posisi itu masih memberi ruang untuk memperbaiki situasi, tetapi hasil di kandang menunjukkan bahwa pembenahan di sektor penyerangan tidak bisa lagi ditunda.

Efektivitas menjadi pembeda di laga ini

Pertandingan melawan Persita memperlihatkan perbedaan mencolok antara dua tim. Persita tidak banyak menciptakan peluang, tetapi sangat efektif ketika kesempatan datang.

PSIM sebaliknya tampil lebih sering menguasai bola dan mengatur serangan, tetapi gagal mengubahnya menjadi ancaman yang benar-benar menentukan. Di laga seperti ini, efektivitas kembali menjadi faktor yang membedakan hasil akhir.

Bagi PSIM, persoalan utama kini jelas ada pada ketajaman penyelesaian. Selama masalah itu belum teratasi, dominasi permainan akan tetap sulit berubah menjadi kemenangan, terutama saat menghadapi lawan yang disiplin bertahan rapat.

Baca Juga

Back to top button