Dua aktivis yang masih ditahan Israel setelah rombongan Global Sumud Flotilla dicegat di perairan internasional kini menjadi pusat perhatian internasional. Dugaan penyiksaan terhadap keduanya, disertai perpanjangan penahanan oleh pengadilan di Ashkelon, memicu kecaman dari sejumlah pihak dan memperlebar sorotan atas penanganan Israel terhadap misi menuju Gaza.
Kedua aktivis itu adalah Saif Abu Keshek, warga Spanyol-Swedia keturunan Palestina, dan Thiago Avila, aktivis socio-environmental asal Brasil. Dari 175 aktivis yang ditahan, mereka menjadi dua nama terakhir yang belum dibebaskan.
Dua aktivis dengan rekam jejak panjang di gerakan solidaritas Palestina
Saif Abu Keshek dikenal berbasis di Barcelona dan telah lama aktif mengorganisir gerakan solidaritas Palestina di Eropa. Menurut situs Global Sumud Flotilla, ia sudah menjalankan aktivitas itu lebih dari 20 tahun.
Abu Keshek juga disebut memiliki tiga anak bersama istrinya, masing-masing berusia satu, empat, dan tujuh tahun. Sebelum bergabung dalam flotila tahun ini, ia disebut menjadi pengorganisir utama Global March to Gaza dan kini memimpin Global Coalition Against the Occupation in Palestine.
Thiago Avila berusia 38 tahun dan telah mendedikasikan diri untuk solidaritas dengan Palestina selama lebih dari 20 tahun. Ia memiliki seorang putri berusia satu setengah tahun bersama istrinya dan menjadi anggota Steering Committee Freedom Flotilla Coalition.
Keterlibatan Abu Keshek juga mewakili Intersindical Alternativa de Catalunya atau IAC. Ia turut duduk di General Secretariat of the Popular Conference for Palestinians Abroad serta di dewan European Trade Union Network for Justice in Palestine.
Avila sendiri bukan nama baru dalam misi Freedom Flotilla. Ia pernah menjadi salah satu koordinator misi Madleen dan kembali terlibat dalam pelayaran Global Sumud Flotilla.
Kesaksian soal perlakuan selama penahanan
Keduanya dilaporkan melakukan mogok makan selama ditahan, meski masih minum air. Organisasi hak asasi manusia dan pusat hukum Israel, Adalah, menyebut keduanya memberikan kesaksian yang mengarah pada kekerasan fisik dan posisi stres yang berkepanjangan.
Menurut Adalah, Abu Keshek diikat tangannya dan matanya ditutup, lalu dipaksa telungkup sejak penangkapan hingga pagi hari. Kondisi itu disebut menyebabkan memar di wajah dan tangannya.
Untuk Avila, Adalah mengatakan ia mengalami kekerasan ekstrem, diseret telungkup di lantai, dan dipukuli hingga dua kali pingsan. Dalam penahanan terbaru di Shikma Prison, kedutaan Brasil menyebut Avila melaporkan penyiksaan, pemukulan, dan perlakuan buruk.
Global Sumud Flotilla menambahkan bahwa pejabat kedutaan melihat bekas luka yang jelas di wajah Avila. Ia juga mengeluhkan nyeri hebat, terutama di bahu.
Penahanan yang berlanjut di pengadilan Ashkelon
Pada hari Minggu, pengadilan di Ashkelon menyetujui perpanjangan penahanan dua hari terhadap Abu Keshek dan Avila. Pihak Israel sebelumnya meminta perpanjangan penahanan selama empat hari.
Kasus ini menambah tekanan terhadap Israel setelah pemindahan para aktivis dari perairan internasional ke proses hukum di darat. Flotilla menilai tindakan itu, ditambah tuduhan penyiksaan dan ketiadaan proses hukum yang semestinya, merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional.
Misi laut yang memicu ketegangan baru
Global Sumud Flotilla berangkat dari Prancis, Spanyol, dan Italia pada 12 April dengan lebih dari 50 kapal. Misi itu bertujuan menembus blokade Israel atas Gaza dan membawa pasokan ke wilayah Palestina yang porak-poranda.
Gaza sendiri telah berada di bawah blokade laut, darat, dan udara Israel sejak 2005. Sejak 7 Oktober 2023, Israel juga memperketat kontrol atas arus keluar-masuk wilayah yang dihuni 2,3 juta orang itu.
Dari sisi diplomatik, persoalan ini ikut memantik reaksi keras. Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez menyampaikan pesan kepada Benjamin Netanyahu dan menegaskan Spanyol akan selalu melindungi warganya serta membela hukum internasional.
Turkiye juga menyebut tindakan Israel sebagai “act of piracy”. Di tengah sorotan itu, dua aktivis yang tersisa dalam penahanan kini menjadi simbol meningkatnya ketegangan seputar misi bantuan menuju Gaza.





