Flairene Candrea Dipulangkan Saat Persiapan Asian Games Belum Tuntas, Pelatnas Renang Dibubarkan Karena Efisiensi Anggaran

Keputusan efisiensi anggaran membuat persiapan Flairene Candrea menuju Asian Games terganggu dari sisi yang paling dasar, bukan hanya urusan jadwal latihan. Program pemusatan latihan nasional renang yang diikutinya dibubarkan secara mendadak, sehingga atlet peraih emas SEA Games Vietnam 2021 itu harus kembali pulang sementara.

Situasi itu muncul ketika persiapan menuju Asian Games Aichi-Nagoya pada September belum tuntas. Flairene menyampaikan kabar tersebut di sela Kejurnas Akuatik Indonesia di Stadion Akuatik GBK dan menggambarkan kondisi yang dialami para atlet sebagai sesuatu yang datang begitu cepat.

Latihan yang baru dimulai langsung terhenti

Flairene menjelaskan bahwa pelatnas itu sebenarnya baru berjalan singkat. Ia masuk pelatnas pada 5 Maret, lalu dikeluarkan lagi pada April, sehingga masa latihan bersama hanya berlangsung sekitar sebulan.

Penghentian itu membuat program yang baru dibangun tidak sempat berjalan stabil. Bagi atlet, situasi seperti ini tidak hanya memutus latihan terpusat, tetapi juga mengganggu ritme persiapan yang biasanya dijaga lewat pengawasan dan dukungan pelatnas.

Dampak langsung terasa pada tempat tinggal atlet

Pembubaran pelatnas ikut memengaruhi akomodasi yang sebelumnya dipakai para atlet. Flairene menyebut fasilitas tempat tinggal tidak lagi tersedia setelah keputusan efisiensi anggaran dijalankan.

Ia juga mengatakan para atlet hanya diberi waktu dua hari setelah pemberitahuan untuk melakukan check out dari hotel. “Jujur pas dikeluarkan itu sedih banget ya. Kok bisa kita dikeluarkan,” kata Flairene, yang menunjukkan betapa mengejutkannya keputusan tersebut bagi para atlet.

Tekanan mental ikut meningkat

Perubahan mendadak itu tidak berhenti pada urusan logistik. Para atlet juga harus menyesuaikan diri dengan ketidakpastian soal kelanjutan program latihan nasional.

Bagi atlet yang selama ini bergantung pada fasilitas pelatnas, pembubaran mendadak berarti harus memikirkan ulang tempat tinggal, pola latihan, serta kesiapan mental dalam waktu singkat. Kondisi seperti itu membuat beban persiapan menuju ajang besar terasa lebih berat.

Ada peluang pelatnas dibentuk lagi

Meski pelatnas dibubarkan, Flairene mendapat informasi bahwa program itu kemungkinan akan dihidupkan kembali setelah Kejurnas selesai. Namun, skema yang disiapkan disebut tidak akan sama seperti sebelumnya.

Kuota atlet kabarnya akan dipangkas dan seleksi akan dibuat lebih ketat. Artinya, efisiensi anggaran tidak hanya berdampak pada berhentinya latihan, tetapi juga pada komposisi skuad yang nantinya dipersiapkan untuk Asian Games.

Dalam skema baru itu, atlet yang dinilai punya peluang terbesar masuk tim Asian Games disebut akan diprioritaskan. Flairene sendiri mengaku tidak mengetahui rincian teknis di balik pembubaran tersebut, tetapi memahami bahwa keputusan itu berkaitan dengan kondisi keuangan organisasi.

Kejurnas jadi ruang untuk tetap terlihat

Di tengah situasi yang belum memberi kepastian, Flairene memilih tetap fokus pada Kejurnas Akuatik Indonesia. Ajang ini menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa dirinya masih layak dipertimbangkan jika pelatnas kembali dibentuk.

Ia menilai hasil di Kejurnas penting untuk memperkuat posisinya di hadapan tim seleksi. “Harus menunjukkan di Kejurnas ini bisa tampil baik dan bisa perform bagus,” ujarnya.

Sikap itu memperlihatkan bahwa para atlet tetap mencari ruang untuk membuktikan kemampuan, meski dukungan program sedang terganggu. Dalam kondisi seperti ini, performa di arena kompetisi menjadi salah satu cara paling nyata untuk menjaga peluang tetap hidup.

Flairene berharap pembinaan nasional bisa kembali berjalan dengan lebih pasti agar persiapan menuju Asian Games tidak terus terhambat. Kepastian program, fasilitas, dan dukungan organisasi dinilai penting untuk menjaga latihan tetap terarah di tengah persaingan memperebutkan tempat di tim nasional.

Baca Juga

Back to top button