Geopolitik Timur Tengah Memanas, Dolar Makin Perkasa dan Rupiah Terancam Tembus Rp18.000

Tekanan terhadap rupiah belum menunjukkan tanda mereda ketika dolar Amerika Serikat diperkirakan kembali melaju dalam sepekan ke depan. Di saat yang sama, emas ikut berada di jalur rentan karena pasar masih dipengaruhi kombinasi penguatan dolar, suku bunga tinggi, dan ketegangan geopolitik.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai situasi ini berpotensi membuat pasar bergerak defensif. Menurut dia, penguatan dolar biasanya menekan mata uang negara berkembang sekaligus memberi beban pada komoditas berharga seperti emas.

Geopolitik jadi pemicu utama

Salah satu faktor yang disebut mendorong penguatan dolar adalah memanasnya kembali situasi di Timur Tengah. Ibrahim menyoroti serangan Amerika Serikat terhadap radar-radar Iran di Selat Hormuz, terutama di Pulau Qeshm dan Goruk.

Ia juga menilai gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran belum tentu bertahan lama. Kondisi kedua pihak disebut masih rapuh, terlebih Amerika mengaku pangkalan udaranya di Timur Tengah mengalami kerusakan berat.

Ketegangan kawasan itu masih diperburuk oleh serangan Israel yang terus berlangsung terhadap Libanon dan Jalur Gaza. Ibrahim menyebut Hizbullah di Libanon Selatan juga terus terdesak, sementara Israel disebut telah menguasai sekitar 35% wilayah Libanon Selatan.

Rupiah berpotensi bergerak lebih lebar

Dalam pandangannya, rupiah berpeluang diperdagangkan di kisaran Rp17.950 sampai Rp18.250 per dolar AS. Rentang itu menunjukkan pasar masih menghadapi tekanan yang belum hilang karena sentimen global tetap berat.

Ibrahim bahkan memperingatkan rupiah dapat terdorong ke Rp19.000 per dolar AS menjelang akhir Juni. Risiko tersebut muncul bila gejolak geopolitik dan spekulasi suku bunga The Fed terus berlanjut.

Tekanan pada rupiah juga dipengaruhi perburuan aset aman. Saat ketidakpastian meningkat, investor cenderung memilih dolar AS, sehingga mata uang negara berkembang lebih mudah tertekan.

Minyak ikut menguat, pasar makin waspada

Selain dolar, harga minyak mentah juga berpeluang naik seiring memanasnya situasi geopolitik. Ibrahim menilai penguatan minyak dan dolar AS bisa berjalan bersamaan karena pasar bereaksi terhadap risiko yang meningkat di Timur Tengah.

Kondisi seperti itu biasanya membuat investor mengurangi aset berisiko. Dalam situasi tersebut, dolar AS kerap menjadi tujuan utama, sementara rupiah berada di sisi yang lebih lemah.

Kombinasi minyak yang naik dan dolar yang menguat juga menambah beban bagi pasar keuangan. Bagi pelaku pasar domestik, pergerakan dua variabel ini sering dibaca sebagai sinyal bahwa tekanan belum selesai.

Emas ikut berada di bawah tekanan

Penguatan indeks dolar juga diperkirakan menekan emas dunia. Ibrahim menjelaskan bahwa kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat yang kemungkinan mempertahankan suku bunga tinggi ikut membuat emas melemah.

Ia menyebut, jika suku bunga tetap tinggi dan bahkan naik lagi sebesar 25 basis poin di kuartal keempat, dolar AS akan kembali kuat. “Ini yang membuat dolar kembali lagi mengalami penguatan sehingga berdampak terhadap penurunan harga emas dunia,” ujarnya.

Pelemahan emas dunia biasanya ikut menekan harga logam mulia di pasar domestik. Karena itu, arah dolar AS dalam waktu dekat akan sangat menentukan pergerakan emas dan instrumen sejenis.

Dengan rupiah yang masih bergerak dekat area Rp18.000 per dolar AS, pasar tampak belum menemukan penyeimbang yang kuat. Selama risiko geopolitik dan ekspektasi suku bunga Amerika belum mereda, volatilitas rupiah berpotensi tetap tinggi, sementara emas belum berada dalam posisi nyaman.

Source: mediaindonesia.com

Baca Juga

Back to top button