Di Grand Indonesia, ruang budaya berubah menjadi panggung yang lebih dekat dengan anak muda melalui rangkaian Road to Pagelaran Sabang Merauke. Selama dua hari, publik disuguhi tiga agenda yang dibuka untuk umum, sementara ribuan peserta muda membawa tradisi ke bentuk pertunjukan yang lebih segar dan relevan.
Format ini menjadi bagian dari jalur menuju Semangat menuju Pagelaran Sabang Merauke – Hanya Indonesia yang Punya. Sejak awal digulirkan, rangkaian ini tidak hanya menyiapkan pertunjukan utama, tetapi juga membangun proses kreatif yang memberi ruang bagi peserta dari berbagai daerah.
Ajang yang membuka banyak pintu bagi generasi muda
Salah satu ruang terbesar dalam rangkaian ini datang dari iForte National Dance Competition “Inspirasi Diri”. Kompetisi itu ditujukan bagi pelajar SMA/K dan mahasiswa dengan tema nusantara, lalu diikuti 710 grup tari dari 227 kota/kabupaten di seluruh Indonesia.
Para peserta menggunakan lagu tema yang sama, yaitu “Inspirasi Diri”, tetapi menampilkannya lewat koreografi yang berbeda-beda. Dari sini terlihat bahwa satu karya dapat melahirkan banyak tafsir artistik, mulai dari gerak, konsep panggung, hingga visual pertunjukan.
Keterlibatan besar tersebut menunjukkan bahwa minat anak muda terhadap budaya Indonesia tidak berdiri sendiri. Minat itu tumbuh ketika tersedia wadah yang jelas, ruang tampil yang terbuka, dan tantangan kreatif yang memberi kesempatan untuk berekspresi.
Final yang mempertemukan peserta terbaik dari banyak kota
Grand Final iForte National Dance Competition “Inspirasi Diri” dijadwalkan berlangsung pada 25 April 2026 di Grand Indonesia, Jakarta. Sebanyak 30 grup terbaik lolos dari proses kurasi offline di 13 kota, yaitu Yogyakarta, Jember, Surabaya, Batam, Makassar, Balikpapan, Jakarta, Semarang, Pekanbaru, Palembang, Medan, Padang, dan Bandung.
Peta seleksi itu menunjukkan bahwa prosesnya tidak bertumpu pada satu wilayah saja. Jalur ini memperlihatkan bahwa gerakan budaya yang dibangun menjangkau banyak daerah dan tidak berhenti di pusat-pusat kota besar.
Di sisi penilaian, kompetisi ini melibatkan Cinta Laura Kiehl, Harashta Zahra, Rusmedie Agus, Dian Bokir, dan Pulung Jati. Kehadiran para juri menambah perhatian pada kualitas penampilan sekaligus proses kreatif yang telah dibangun sejak tahap penyisihan.
Parade dan audisi ikut menghidupkan ruang publik
Selain kompetisi tari, rangkaian Road to Pagelaran Sabang Merauke juga memuat Grand Final “The Audition” Pagelaran Sabang Merauke dan Parade “Inspirasi Diri”. Keduanya hadir sebagai bagian dari format yang mendorong partisipasi tidak berhenti pada penonton semata.
Dengan jalur yang dibuat berlapis, anak muda dapat masuk sebagai penari, kreator, atau bagian dari ruang publik yang ikut merayakan budaya. Pola ini membuat budaya tampil bukan hanya sebagai tontonan, tetapi juga sebagai pengalaman yang melibatkan banyak peran.
Puncak rangkaian itu berlangsung pada 25–26 April 2026. Selama periode tersebut, tiga agenda utama yang dibuka untuk umum memberi kesempatan kepada publik untuk melihat langsung proses menuju panggung utama Pagelaran Sabang Merauke.
Budaya ditempatkan sebagai ruang aktualisasi
Dalam konferensi pers Road to Pagelaran Sabang Merauke – Hanya Indonesia yang Punya 2026 di Main Atrium Grand Indonesia East Mall, Jumat, 25 April 2026, President Director & CEO iForte Aming Santoso menekankan pentingnya menyediakan wadah yang sesuai bagi minat generasi muda terhadap budaya Indonesia. Ia juga menegaskan perlunya mendorong masyarakat, terutama anak muda, agar semakin mengenal, mencintai, dan merasa memiliki budaya Indonesia.
Dukungan terhadap penyelenggaraan ini juga disampaikan Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Irene Umar. Ia mengapresiasi konsistensi Pagelaran Sabang Merauke dan menyebut ajang itu sebagai ruang pelestarian budaya Indonesia yang kuat secara semangat kebangsaan.
Dari sisi produksi, Vice President Director & Deputy CEO of iForte sekaligus Executive Producer Pagelaran Sabang Merauke, Silvi Liswanda, menjelaskan bahwa lagu “Inspirasi Diri” menjadi benang merah yang menyatukan para peserta dan pelaku seni. Lagu tersebut kemudian dihidupkan lewat tarian bertema Nusantara yang dibawakan dengan penghayatan, sehingga budaya hadir dalam format yang lebih dekat dengan generasi muda tanpa kehilangan nilai dasarnya.
Source: lifestyle.bisnis.com




