Harga ekspor beras Indonesia ke Malaysia tengah dibahas dengan patokan di atas harga eceran tertinggi di dalam negeri. Skema itu disiapkan agar petani tidak hanya menerima pasar yang lebih luas, tetapi juga memperoleh nilai jual yang lebih tinggi dari komoditas beras.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyebut arahan Presiden Prabowo Subianto menekankan agar beras Indonesia tidak dijual terlalu murah di pasar internasional. Dalam pembahasan awal, angka harga ekspor disebut berada di atas Rp16.000 per kilogram, sementara penawaran dari pihak Malaysia masih berada di kisaran tersebut.
Fokus pada nilai tambah
Bulog menempatkan harga sebagai unsur penting dalam rencana ekspor ini. Menurut Rizal, kebijakan tersebut tidak boleh berhenti pada transaksi dagang semata, karena harus memberi nilai tambah bagi sektor pertanian dan manfaat yang lebih luas bagi negara.
Di dalam negeri, harga beras premium saat ini berada di kisaran Rp14.900 hingga Rp15.800 per kilogram. Kisaran itu mengikuti wilayah penjualan sesuai regulasi Badan Pangan Nasional, sehingga selisih harga dengan skema ekspor memberi ruang keuntungan yang lebih besar.
Dengan patokan di atas Rp16.000 per kilogram, ekspor dinilai bisa memberi posisi tawar yang lebih baik bagi petani. Pada saat yang sama, negara juga berpeluang memperoleh penerimaan yang lebih besar dari sektor pangan.
Pembahasan belum mengerucut
Meski arahnya sudah jelas, Bulog belum memutuskan skema tersebut secara final. Pembahasan masih berjalan bersama sejumlah pihak, termasuk jajaran internal Bulog dan Menteri Pertanian yang juga Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman.
Koordinasi itu diperlukan untuk mencari harga terbaik sebelum kesepakatan resmi dibuat. Rizal menegaskan, ekspor beras Indonesia harus berjalan dengan tujuan awal yang utuh, yakni memberi manfaat bagi petani, negara, dan perdagangan pangan nasional sekaligus.
Rencana kunjungan ke Sarawak
Tahap berikutnya akan dibahas dalam kunjungan ke Sarawak, Malaysia, usai Idul Adha 2026. Bulog bersama tim dari Kementerian Pertanian dijadwalkan hadir untuk membicarakan kebutuhan volume beras, harga final, dan detail teknis lain yang masih perlu disepakati.
Dalam pertemuan itu, opsi distribusi juga akan diputuskan. Dua skema yang dipertimbangkan adalah pengiriman dari pelabuhan ke pelabuhan atau pembelian langsung oleh pihak Malaysia melalui Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.
Peluang di pasar regional
Bulog memandang ekspor ke Malaysia sebagai peluang untuk memperkuat posisi Indonesia di pasar pangan regional. Langkah ini juga dinilai dapat menaikkan daya saing beras Indonesia di luar negeri tanpa mengorbankan nilai ekonomi di dalam negeri.
Dorongan agar beras ekspor tidak dijual murah sejalan dengan pernyataan Presiden Prabowo Subianto sebelumnya. Saat peluncuran 1.061 gerai Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Presiden meminta Bulog memastikan manfaat ekonominya lebih besar bagi petani dan negara.
Karena itu, pembahasan harga menjadi kunci utama dalam ekspor beras ke Malaysia. Jika skema di atas HET akhirnya disepakati, petani berpeluang menikmati margin yang lebih baik dari perdagangan beras ke pasar luar negeri.
Source: www.suara.com




