Harga Plastik Naik Karena Gejolak Timur Tengah, UMKM Beralih Ke Isi Ulang Dan Daur Ulang

Di tengah harga plastik yang naik cepat, sebagian pelaku usaha mulai mencari cara agar tidak terus bergantung pada kemasan sekali pakai. Tekanan itu datang bukan dari pasar lokal saja, melainkan juga dari gejolak geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu pasokan bahan baku minyak bumi.

Dampaknya terasa langsung di lapangan, terutama bagi pedagang plastik dan UMKM yang harus menjaga harga tetap masuk akal bagi pembeli. Di Jawa Barat, perubahan harga bahkan disebut bisa terjadi dalam hitungan jam sehingga stok dan harga jual makin sulit dipastikan.

Harga berubah cepat, pedagang ikut tertekan

Neneng, penjual plastik di Pasar Kosambi, Bandung, sempat tidak memahami mengapa perang di luar negeri bisa berpengaruh ke usahanya. Namun, ia kemudian melihat bahwa lonjakan biaya operasionalnya berkaitan dengan bahan baku yang ikut terdampak konflik.

Situasi serupa dialami Zainuddin, penjual plastik di Pasar SBS, Bekasi. Ia mengatakan distributor kerap mengubah daftar harga secara mendadak, bahkan sering mengirim price list baru pada malam hari lalu kembali mengubah harga keesokan paginya.

Perubahan yang terlalu cepat membuat pengecer kesulitan membaca pasar. Mereka harus menjaga margin tetap aman, tetapi pada saat yang sama tidak bisa terlalu tinggi saat menjual ke konsumen akhir.

Kemasan isi ulang mulai dilirik

Di tengah tekanan tersebut, sejumlah pelaku usaha mulai melihat kemasan isi ulang sebagai pilihan yang lebih tahan terhadap gejolak harga. Sistem refill juga dinilai memberi jalan untuk mengurangi ketergantungan pada kemasan sekali pakai.

Alner menjadi salah satu perusahaan rintisan yang mengembangkan model itu dengan konsep ekonomi sirkular. Perusahaan ini memberi cashback kepada konsumen yang mengembalikan kemasan kosong agar kemasan tidak langsung berakhir sebagai sampah.

Founder dan CEO Alner, Bintang Ekananda, mengatakan perusahaan ingin menyediakan alternatif supaya kemasan produk tidak berujung di tempat pembuangan. Menurut dia, kemudahan pengembalian kemasan disertai insentif bisa membantu masyarakat mengubah kebiasaan belanja.

Jaringan distribusi dan pemasok ikut berkembang

Alner juga memperluas jaringannya bersama Enviu Indonesia. Saat ini, perusahaan itu disebut telah memiliki 754 mitra di wilayah Jabodetabek.

Selain itu, Alner membuka gerai fisik seperti Circular Stand di Jakarta dan Zero di Tangerang Selatan. Kehadiran jaringan ini membuat model isi ulang tidak hanya berjalan lewat sistem distribusi, tetapi juga bisa diakses langsung oleh konsumen.

Di sisi pemasok, Alner berupaya melibatkan produsen lokal agar masuk ke rantai pasok yang lebih berkelanjutan. Bintang menilai model tersebut dibuat agar memberi manfaat ke banyak pihak, mulai dari konsumen, bisnis, lingkungan, hingga produsen kecil yang tetap bisa berproduksi dengan harga yang masuk akal.

Limbah bernilai rendah diolah jadi produk baru

Jalur lain datang dari Repair Project dan Waste4Change yang mengolah limbah plastik bernilai rendah menjadi papan River Recycle atau RR Board. Proyek ini berawal dari pembersihan Sungai Citarum dan fokus pada sampah saset serta kresek yang kerap diabaikan industri daur ulang konvensional.

Sales and Fundraising Lead Repair Project, Carissa Eukairin, menjelaskan bahwa jenis plastik seperti ini sulit dikumpulkan karena dianggap tidak bernilai. Karena itu, timnya memberi kompensasi finansial kepada warga sekitar agar mau mengumpulkan plastik tersebut dan mencegahnya masuk ke lingkungan atau sungai.

Di pabrik mereka di Kabupaten Bandung Barat, limbah itu kemudian diproses menjadi papan fungsional. Material tersebut bisa dipakai untuk furnitur seperti meja dan kursi, sehingga memberi alternatif selain penggunaan kayu hutan.

Tekanan harga jadi dorongan perubahan

Kenaikan harga plastik kini tidak hanya dipandang sebagai masalah biaya, tetapi juga sebagai pemicu perubahan perilaku. Saat pasokan tidak stabil dan harga bergerak cepat, upaya mengurangi kemasan plastik dan memperluas daur ulang mendapat alasan yang semakin kuat.

Carissa menilai kondisi ini menjadi momentum baik bagi lingkungan karena masyarakat mendapat dorongan tambahan untuk mengurangi plastik sekali pakai. Di tengah pasar yang bergerak tidak pasti, kemasan ulang dan pengolahan limbah bernilai rendah mulai menemukan ruangnya sendiri.

Baca Juga

Back to top button