Hilirisasi Sawit Di Sei Mangkei Didorong Naik Kelas, Nilai Ekonominya Bisa Meroket Belasan Kali Lipat

Di Sei Mangkei, sawit sedang diarahkan keluar dari peran lamanya sebagai bahan mentah. Kawasan ini dibentuk menjadi pusat hilirisasi yang menghubungkan industri pangan dan energi dalam satu ekosistem terpadu.

Arah pengembangan itu membuat nilai sawit tidak berhenti di kebun atau di penjualan bahan baku. Saat diolah di dalam negeri, komoditas ini masuk ke produk bernilai lebih tinggi dan membuka ruang manfaat yang jauh lebih luas bagi industri nasional.

Dua industri dalam satu kawasan

Penguatan hilirisasi di KEK Sei Mangkei dijalankan melalui proyek yang digarap sub-holding PTPN III, PTPN IV PalmCo. Skema ini menempatkan pengolahan pangan dan energi berdampingan agar rantai nilai sawit tersambung dari hulu ke hilir.

Di sisi pangan, kawasan tersebut akan memiliki pabrik oleofood. Fasilitas itu ditargetkan memproduksi margarin dan shortening dengan kapasitas 35 ribu ton per tahun, sekaligus menghasilkan cocoa butter substitusi sekitar 25 ribu ton per tahun.

Di sisi energi, kawasan yang sama juga disiapkan untuk pabrik biodiesel. Kapasitasnya mencapai 450 ribu ton per tahun dan ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada 2028.

Nilai tambah yang jauh lebih besar

Poin terpenting dari proyek ini ada pada lonjakan nilai ekonomi setelah sawit diproses di dalam negeri. Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K Santosa, menyebut pengolahan sawit di dalam negeri dapat menaikkan nilainya hingga belasan kali lipat.

Perbedaan itu menunjukkan jarak besar antara menjual sawit sebagai komoditas mentah dan mengubahnya menjadi produk industri. Dalam skema hilirisasi, manfaatnya tidak hanya muncul pada produk akhir, tetapi juga pada lapangan kerja, teknologi, dan aktivitas manufaktur.

Sawit dan kebutuhan energi nasional

Dorongan untuk mengembangkan produk turunan sawit juga terkait kebutuhan energi. Direktur Bisnis PTPN III (Persero), Ryanto Wisnuardhy, menegaskan bahwa pengembangan industri turunan sawit penting untuk membantu mengurangi ketergantungan impor energi.

Ia menyoroti kebutuhan solar nasional yang masih sangat besar. Menurutnya, kebutuhan itu diperkirakan akan terus meningkat seiring rencana penerapan campuran biodiesel B50 dalam waktu dekat.

Karena itu, sawit dipilih bukan hanya karena volume produksinya, tetapi juga karena rantai turunannya panjang. Jika diolah di dalam negeri, komoditas ini dapat masuk ke produk siap pakai yang punya nilai ekonomi lebih tinggi dibanding bahan baku awal.

Bagian dari percepatan hilirisasi nasional

Proyek di Sei Mangkei tidak berdiri sendiri. Pengembangannya menjadi bagian dari dorongan pemerintah untuk mempercepat hilirisasi nasional melalui 13 proyek strategis dengan total investasi Rp116 triliun.

Dukungan pembiayaan dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara juga ikut menguatkan pembangunan proyek-proyek tersebut pada tahun ini. Dengan dukungan itu, hilirisasi sawit ditempatkan sebagai salah satu penopang pertumbuhan industri baru.

Model yang dibangun di Sei Mangkei memperlihatkan arah baru bagi sawit sebagai bahan baku domestik. Komoditas ini diarahkan bukan sekadar untuk pasar mentah, tetapi untuk masuk ke ekosistem industri yang lebih terhubung dan memberi nilai tambah lebih besar bagi perekonomian nasional.

Source: www.viva.co.id

Baca Juga

Back to top button