Kendaraan elektrifikasi di Indonesia memang terus bergerak, tetapi arah perubahannya belum berlangsung serba cepat. Di satu sisi, mobil listrik murni mulai mendapat tempat, namun di sisi lain mesin pembakaran internal atau ICE masih menjadi kekuatan terbesar di pasar mobil penumpang.
Gambaran itu menunjukkan bahwa transisi energi otomotif di Tanah Air masih berada pada fase bertahap. Karena itu, teknologi hybrid dan PHEV kini banyak dipandang sebagai pilihan yang paling aman untuk menjembatani kebiasaan pengguna dengan arah elektrifikasi yang sedang tumbuh.
ICE masih mendominasi pasar
Data yang disampaikan CEO GAC Indonesia Andri Ciu memperlihatkan bahwa pasar mobil penumpang berada di kisaran 650.000 unit. Dari jumlah tersebut, lebih dari 500.000 unit masih berasal dari ICE, sedangkan kendaraan listrik murni atau EV baru mencapai sekitar 17 persen atau kurang lebih 100.000 unit.
Komposisi itu menegaskan bahwa ICE belum tergeser secara berarti. Meski porsinya perlahan menurun, teknologi ini tetap menjadi fondasi utama pasar otomotif nasional karena volumenya masih jauh melampaui pilihan penggerak lain.
Situasi tersebut juga menggambarkan bahwa perubahan perilaku konsumen berjalan pelan. Banyak pembeli masih mengandalkan mobil bensin atau diesel karena sudah terbiasa, lebih praktis untuk kebutuhan harian, dan tidak menuntut penyesuaian besar dalam penggunaan.
Hybrid dan PHEV mulai menjadi penghubung
Di tengah dominasi ICE, hybrid dan PHEV muncul sebagai opsi peralihan yang dinilai paling masuk akal. Andri menilai kedua teknologi itu punya peran strategis dalam mempercepat penerimaan masyarakat terhadap kendaraan elektrifikasi tanpa membuat transisi terasa terlalu mendadak.
GAC melihat pendekatan bertahap sebagai langkah yang realistis untuk pasar Indonesia. Hybrid dan PHEV memadukan mesin konvensional dengan sistem elektrifikasi, sehingga konsumen tetap mendapat rasa aman saat mulai beralih dari kendaraan berbahan bakar fosil.
“Teknologi hybrid dan PHEV ini berperan sebagai jembatan untuk mempercepat penerimaan masyarakat terhadap kendaraan elektrifikasi,” ujar Andry. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa elektrifikasi bukan hanya soal mengganti sumber tenaga, tetapi juga membangun kepercayaan konsumen secara perlahan.
Hybrid menunjukkan pertumbuhan yang stabil
Dari sisi penjualan, hybrid memperlihatkan kinerja yang cukup positif sepanjang 2025. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo, penjualan mobil hybrid mencapai 65.943 unit.
Angka itu naik 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di level 59.903 unit. Pertumbuhan tersebut memberi sinyal bahwa konsumen mulai melihat hybrid sebagai pilihan yang efisien, tetapi tetap praktis untuk dipakai sehari-hari.
Kenaikan ini juga menunjukkan bahwa pasar Indonesia tidak bergerak dalam pilihan yang sepenuhnya hitam atau putih antara ICE dan EV. Ada ruang besar untuk teknologi peralihan yang menawarkan efisiensi tanpa menghilangkan fleksibilitas penggunaan kendaraan konvensional.
PHEV melonjak dari basis kecil
Berbeda dengan hybrid yang tumbuh lebih stabil, PHEV mencatat lonjakan yang jauh lebih tajam. Sepanjang 2025, penjualan wholesales mobil PHEV mencapai 5.270 unit, naik 3.775 persen dibandingkan 2024 yang hanya 136 unit.
Lonjakan tersebut memang berangkat dari basis yang kecil, tetapi tetap penting untuk dilihat sebagai sinyal pasar. PHEV menawarkan jarak tempuh elektrifikasi yang lebih panjang, sambil tetap mengandalkan mesin bensin ketika dibutuhkan.
Kombinasi itu membuat PHEV mulai menarik perhatian konsumen yang masih ragu pada kendaraan listrik murni. Bagi sebagian pembeli, fleksibilitas seperti ini lebih sesuai dengan kebutuhan mobilitas harian dan proses adaptasi yang belum sepenuhnya selesai.
Arah transisi masih bertahap
Jika seluruh komposisi pasar dilihat secara utuh, Indonesia masih berada di jalur transisi energi otomotif yang perlahan. ICE tetap memimpin volume terbesar, EV terus bertumbuh, sementara hybrid dan PHEV mengisi ruang penghubung di tengah perubahan preferensi konsumen.
Kondisi ini membuat strategi elektrifikasi tidak bisa bergantung pada satu jalur saja. Hybrid dan PHEV masih memiliki ruang untuk berkembang karena keduanya menjawab kebutuhan pembeli yang ingin masuk ke era elektrifikasi tanpa langsung meninggalkan sistem penggerak konvensional sepenuhnya.
Selama ICE masih menguasai porsi terbesar, kendaraan hybrid dan PHEV akan tetap memegang peran penting sebagai pilihan transisi. Keduanya menjaga keseimbangan antara efisiensi, kenyamanan, dan rasa aman di tengah pasar yang masih bergerak hati-hati menuju elektrifikasi.
Source: otomotif.kompas.com




