Banyak pemilik motor listrik baru fokus pada kebiasaan mengisi daya, padahal daya tahan baterai justru sering lebih ditentukan oleh cara penggunaan sehari-hari. Kebiasaan sederhana seperti membiarkan baterai terlalu penuh, menunggu terlalu lama sebelum mengisi, hingga mencuci motor dengan semprotan yang terlalu kuat dapat memengaruhi performa dalam jangka panjang.
Perhatian pada suhu, cara penyimpanan, dan perlakuan saat motor tidak dipakai juga sama pentingnya. Hal-hal yang terlihat sepele ini bisa membuat sistem kendaraan bekerja tidak optimal atau memicu proteksi pada baterai.
Jaga rentang kapasitas, jangan tunggu habis
Salah satu pola yang paling sering keliru adalah membiarkan baterai berada di 100 persen terlalu lama saat motor akan diparkir lama. Untuk baterai lithium, kondisi penuh seperti ini tidak dianjurkan jika kendaraan tidak segera digunakan lagi.
Danang Priyo Kumoro, Technical Training Coordinator Astra Motor Yogyakarta, menyarankan baterai dijaga di kisaran 30 persen sampai 80 persen. Ia juga menegaskan bahwa baterai sebaiknya tidak dibiarkan terlalu rendah saat disimpan.
Isi daya sebelum indikator terlalu rendah
Kesalahan lain yang kerap terjadi adalah menunda pengisian sampai kapasitas benar-benar menipis. Menurut Danang, pengisian sebaiknya mulai dilakukan ketika sisa daya masih sekitar 30 persen.
Saat kapasitas sudah turun ke 20 persen, pengisian tidak seharusnya ditunda lagi. Membiarkan baterai mendekati habis, apalagi sampai 0 persen, dinilai tidak baik untuk menjaga kesehatan baterai.
Baterai tidak perlu dicabut saat motor lama diam
Kebiasaan melepas aki pada kendaraan konvensional sering ikut diterapkan pada motor listrik. Namun, langkah itu tidak bisa disamakan karena mencabut baterai justru dapat mengganggu sistem kendaraan.
Danang menjelaskan, tindakan tersebut bisa membuat sistem seperti mengalami reset. Karena itu, baterai lebih aman dibiarkan tetap terpasang dengan kondisi daya yang ideal saat motor tidak digunakan.
Panas berlebih ikut memengaruhi tenaga
Suhu tinggi juga menjadi faktor yang perlu diwaspadai. Motor yang terlalu lama diparkir di bawah panas ekstrem atau digunakan dalam kondisi suhu berlebih dapat memicu sistem proteksi bekerja.
Danang menyebut, saat suhu terlalu panas terdeteksi, battery management unit akan mengirim sinyal ke ECU. Sinyal itu kemudian dibaca sebagai masalah pada baterai lithium, lalu ECU membatasi daya yang bisa dikeluarkan baterai untuk menggerakkan motor.
Cara mencuci juga tidak boleh sembarangan
Perlakuan terhadap air sering disalahpahami pemilik motor listrik. Ada anggapan bahwa karena motor bisa melewati genangan, seluruh bagian kendaraan aman disemprot air bertekanan tinggi saat dicuci.
Danang menyarankan pencucian tidak dilakukan dengan metode steam. Area baterai dan kontroler sebaiknya dibersihkan memakai air mengalir bertekanan rendah agar komponen sensitif tetap aman.
Tekanan air yang terlalu kuat bisa menembus sela-sela komponen kelistrikan meski sistem sudah dirancang kedap. Kemampuan motor saat melintasi genangan juga tidak bisa disamakan dengan paparan air bertekanan tinggi yang diarahkan langsung ke bagian sensitif.
Berdasarkan pengetesan Astra Honda Motor, Honda EM1 e: dinyatakan aman menerjang genangan air hingga 30 cm. Namun kemampuan itu tetap berbeda dengan cara mencuci yang keliru dan berisiko pada komponen kelistrikan.
Jika lima kebiasaan ini dihindari, umur baterai motor listrik lebih berpeluang bertahan stabil. Perawatan yang tepat bukan hanya soal rutin mengecas, tetapi juga menjaga kapasitas, suhu, penyimpanan, dan cara membersihkan kendaraan.
Source: www.suara.com




