Kepergian Tomi Reichental pada usia 90 tahun memicu penghormatan luas di Irlandia, tempat ia lama dikenal sebagai salah satu suara paling gigih yang mengingatkan publik tentang Bergen-Belsen dan Holocaust. Selama bertahun-tahun, ia membawa pengalaman hidupnya sendiri ke sekolah, komunitas, dan ruang-ruang publik agar ingatan tentang kekejaman itu tidak memudar.
Reichental tidak hanya dikenang sebagai penyintas, tetapi juga sebagai sosok yang menjadikan kesaksian sebagai tanggung jawab hidup. Ia berulang kali menegaskan bahwa ia berbicara untuk para korban, karena ia melihat tanda-tanda bahwa pelajaran dari masa kelam itu mulai dilupakan.
Perjalanan hidupnya dibentuk oleh tragedi yang terjadi sejak usia sangat muda. Ia lahir dari keluarga petani Yahudi di Cekoslowakia pada 1935, lalu dideportasi bersama keluarganya ke kamp konsentrasi Bergen-Belsen di Jerman pada 1944.
Pengalaman di kamp meninggalkan luka yang dalam dan menjadi pusat dari seluruh kerja ingatannya di kemudian hari. Reichental kehilangan 35 anggota keluarga dekat dalam Holocaust, dan kehilangan itu mendorongnya terus berbicara kepada generasi berikutnya.
Setelah pindah ke Republik Irlandia pada 1959, ia membesarkan keluarganya di Dublin. Dari kota itu pula, ia tumbuh menjadi figur yang dikenal luas karena kesediaannya hadir di depan siswa sekolah dan berbagai kelompok masyarakat.
Salah satu penampilannya yang paling diingat terjadi pada 2019, saat ia menghabiskan dua pekan di Irlandia Utara untuk berbicara kepada anak-anak sekolah dan komunitas menjelang Holocaust Memorial Day. Ratusan siswa mendengar kesaksiannya bersama penyintas lain, Susan Pollock, dalam rangka berbagi pengalaman tentang Holocaust.
Dalam kesempatan yang sama, Reichental juga bertemu Pollock untuk pertama kalinya di sebuah sinagoge di Belfast pada 2019. Seusai pertemuan itu, keduanya berbagi pengalaman di hadapan ratusan pelajar dari Irlandia Utara.
Upaya Reichental menjaga ingatan publik tidak berhenti pada pertemuan tatap muka. Pada 2011, ia menerbitkan autobiografi berjudul I Was a Boy in Belsen, yang memperluas jangkauan kisah hidupnya ke pembaca yang lebih luas.
Ia juga menjadi subjek dua dokumenter yang mengangkat pengalamannya di Bergen-Belsen pada 1944 dan 1945. Melalui buku dan film itu, kesaksiannya menjangkau audiens yang tidak selalu hadir dalam forum sekolah atau komunitas.
Bergen-Belsen sendiri memiliki sejarah kelam yang membuat kesaksian Reichental begitu berat maknanya. Kamp di Jerman utara itu awalnya digunakan untuk tawanan perang Sekutu, lalu pada 1943 diubah menjadi kamp konsentrasi Nazi.
Ketika pasukan Inggris membebaskan kamp itu pada April 1945, mereka menemukan 60.000 tahanan di dalamnya. Para tahanan menghadapi kekurangan gizi, penyakit, dan perlakuan brutal, sementara sekitar 70.000 orang tewas di Belsen, termasuk Anne Frank.
Di Irlandia, wafatnya Reichental disambut dengan duka mendalam dari sejumlah tokoh dan lembaga. Presiden Irlandia Catherine Connolly memimpin penghormatan dengan menyebut Reichental memberi kontribusi luar biasa bagi masyarakat Irlandia melalui kesaksiannya tentang Bergen-Belsen dan penderitaan keluarganya.
Taoiseach Micheál Martin juga menyampaikan belasungkawa dan menggambarkan Reichental sebagai sosok yang mendedikasikan hidupnya untuk mengajarkan generasi baru tentang kejahatan Holocaust. Ia menyebut warisan Reichental, sebagai anggota tercinta komunitas Yahudi Irlandia, sebagai warisan yang membawa martabat, keberanian, serta pencerahan tentang bahaya kebencian dan antisemitisme.
Dewan Perwakilan Yahudi Irlandia turut menyampaikan kesedihan mendalam atas kematiannya. Mereka menyebut Reichental sebagai salah satu suara paling luar biasa di Irlandia dalam peringatan, pendidikan, dan kemanusiaan.





