Konflik Timur Tengah Memukul Pasar, Rupiah Dekati Rp 18.000 Dan APBN 2026 Kian Tertekan

Ancaman rupiah menembus Rp 18.000 per dollar AS kini tidak lagi sekadar skenario pasar. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali membuat pelaku pasar waspada, terutama karena jalur distribusi minyak dunia berada dalam sorotan.

Kondisi itu langsung menekan sentimen di pasar domestik. IHSG ditutup turun 2,86 persen ke 6.969,40 pada perdagangan Jumat (8/5/2026), sementara rupiah sempat bergerak ke area Rp 17.382 per dollar AS.

Selat Hormuz jadi titik rawan

Fokus kekhawatiran pasar tertuju pada memanasnya hubungan diplomatik Amerika Serikat dan Iran di wilayah Selat Hormuz. Jalur ini memegang peran penting dalam distribusi minyak mentah dunia, sehingga setiap potensi gangguan segera memicu kekhawatiran baru.

Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai koreksi tajam di saham sudah menghapus sebagian penguatan sebelumnya. Ia melihat pasar kini dibayangi risiko pasokan minyak terganggu, inflasi global naik, dan kebijakan yang lebih agresif dari bank sentral Amerika Serikat.

Investor juga menunggu respons The Fed di tengah ketidakpastian yang berkembang. Spekulasi mengenai sikap yang lebih agresif ikut menambah tekanan pada aset berisiko di pasar keuangan.

Aksi jual muncul di saham dan rupiah

Pelemahan indeks saham terjadi hampir merata di banyak sektor. Pertambangan, keuangan, dan industri dasar menjadi kelompok yang paling tertekan di lantai bursa, sementara sektor kesehatan masih bertahan di zona positif.

Penguatan sektor kesehatan ditopang oleh saham defensif seperti PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA), dan PT Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA). Di saat yang sama, rupiah yang melemah ke area Rp 17.382 per dollar AS ikut mencerminkan derasnya arus keluar modal dari pasar negara berkembang.

Investor global tercatat membukukan aksi jual bersih senilai Rp 485 miliar pada akhir pekan lalu. Angka itu menunjukkan minat terhadap aset berisiko sedang menurun.

APBN 2026 mulai ikut dihitung risikonya

Selain tekanan eksternal, pasar juga mulai menyoroti kerentanan fiskal dalam APBN 2026. Defisit anggaran dipantau semakin mendekati batas aman karena belanja negara naik sementara realisasi penerimaan melambat.

Hendra menyebut pemerintah sudah memakai sekitar 34,8 persen target defisit tahunan hanya dalam tiga bulan pertama tahun ini. Tekanan itu dipicu oleh lonjakan belanja konsumsi seperti THR dan program Makan Bergizi Gratis.

Risiko fiskal akan bertambah berat jika harga minyak Brent bertahan di atas 100 dollar AS per barrel. Dalam situasi tersebut, beban subsidi energi nasional berpotensi membesar dan menambah tekanan pada keuangan negara.

Tambang, manufaktur, dan biaya energi ikut tertekan

Sentimen negatif juga merambat ke saham emiten tambang setelah muncul rencana revisi tarif royalti atau windfall profit untuk batu bara dan mineral. Saham seperti PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) ikut terdampak aksi ambil untung.

Perubahan tarif itu mencakup nikel dengan batas harga royalti turun dari 31.000 ke 26.000 dollar AS per ton dan tarif naik ke 19 persen. Untuk timah, tarif tertinggi melonjak dari 10 persen menjadi 20 persen, sedangkan emas mengalami kenaikan tarif dasar dari 7 persen menjadi 14 persen.

Tekanan tidak berhenti di pasar modal karena data Indeks Kepercayaan Bisnis Manufaktur (IKBM) juga menunjukkan penurunan indeks pengiriman pemasok ke level 49,01. Kondisi itu menandakan gangguan rantai pasok dan mengindikasikan perlambatan aktivitas produksi industri domestik hingga semester II-2026.

Dalam situasi seperti ini, pelemahan rupiah, tekanan saham, dan risiko biaya energi yang lebih tinggi saling memperkuat satu sama lain. Pasar kini melihat konflik Timur Tengah bukan hanya sebagai isu geopolitik, tetapi juga sebagai faktor yang bisa merembet ke stabilitas fiskal dan aktivitas usaha di dalam negeri.

Baca Juga

Back to top button