Kredit Jatim Masih Lesu, DPK Justru Melaju Lebih Kencang di Awal 2026

Penguatan Dana Pihak Ketiga menjadi penanda paling menonjol dari pergerakan perbankan Jawa Timur pada awal 2026. Saat penyaluran kredit masih melaju lambat, dana masyarakat yang dihimpun bank justru tumbuh lebih cepat dan menunjukkan kepercayaan publik terhadap industri perbankan di daerah itu masih terjaga.

Kondisi ini membuat arah intermediasi bank di Jawa Timur perlu dibaca dengan hati-hati. Di satu sisi, likuiditas masih longgar dan modal bank tetap kuat, tetapi di sisi lain pembiayaan belum bergerak secepat dana yang masuk sehingga ruang ekspansi kredit belum benar-benar lepas dari tekanan.

Pada Februari 2026, Dana Pihak Ketiga di Jawa Timur tercatat Rp830,757 triliun. Angka itu naik 4,19 persen secara tahunan, lebih tinggi dibanding pertumbuhan pada Desember 2025 yang berada di level 3,50 persen.

Otoritas Jasa Keuangan Jawa Timur menilai kenaikan tersebut mencerminkan masih kuatnya minat masyarakat menyimpan dana di perbankan. Saat dana tumbuh lebih cepat daripada kredit, rasio Loan to Deposit Ratio atau Financing to Deposit Ratio ikut turun menjadi 74,64 persen dari 76,52 persen pada Desember 2025.

Kredit belum mengejar laju dana

Berbeda dengan DPK, kredit perbankan di Jawa Timur belum menunjukkan akselerasi yang sama. Pada Februari 2026, penyaluran kredit tercatat Rp620,090 triliun dengan pertumbuhan tahunan 1,97 persen.

Laju itu memang sedikit lebih baik dibanding Desember 2025 yang sebesar 1,90 persen. Namun, pertumbuhannya masih jauh di bawah capaian Desember 2024 yang mencapai 8,62 persen.

Secara tahun berjalan, kredit masih terkontraksi minus 0,89 persen. OJK menjelaskan kondisi tersebut masih berkaitan dengan penyesuaian penyaluran kredit yang lazim terjadi pada awal tahun.

Kepala OJK Jawa Timur Yunita Linda Sari menyebut stabilitas sektor jasa keuangan tetap penting untuk menopang pertumbuhan ekonomi daerah. Ia juga menilai tekanan inflasi yang meningkat pada awal 2026 ikut memengaruhi kondisi pembiayaan perbankan.

Selain itu, melambatnya kredit juga memperlihatkan dunia usaha dan rumah tangga masih beradaptasi dengan tingkat suku bunga. Permintaan domestik yang lemah dan ketidakpastian ekonomi global turut membuat bank lebih selektif dalam menyalurkan pembiayaan.

Kualitas aset masih aman, tetapi perlu waspada

Dari sisi risiko, kualitas kredit perbankan Jawa Timur masih berada dalam batas aman. Meski begitu, indikator non performing loan menunjukkan kenaikan yang patut dicermati di tengah pembiayaan yang belum kuat.

NPL Gross naik menjadi 3,63 persen dari 3,37 persen pada Desember 2025. Sementara itu, NPL Net ikut meningkat menjadi 1,57 persen dari sebelumnya 1,47 persen.

Pergerakan tersebut menandakan perlunya kewaspadaan terhadap risiko kredit. Kondisi ini menjadi penting karena pertumbuhan kredit belum cukup kuat untuk mengimbangi kenaikan dana pihak ketiga yang masuk ke perbankan.

Modal bank masih sangat kuat

Di tengah perlambatan pembiayaan, permodalan bank di Jawa Timur tetap berada pada level yang kokoh. Rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio tercatat 30,48 persen pada Februari 2026.

Angka itu memang turun tipis dari 31,38 persen pada Desember 2025. Namun, OJK menilai posisi tersebut masih sangat kuat untuk menopang ekspansi bisnis dan menyerap potensi risiko.

Dengan likuiditas yang memadai dan struktur modal yang kuat, industri perbankan Jawa Timur pada Februari 2026 masih dianggap solid. Meski demikian, pertumbuhan pembiayaan yang terbatas membuat sikap hati-hati tetap diperlukan agar risiko kredit tidak memburuk.

Source: duta.co

Baca Juga

Back to top button