Keputusan pemerintah menahan harga BBM bersubsidi hingga akhir tahun mendapat dukungan dari Komisi XI DPR RI. Lembaga ini menilai APBN masih berada dalam posisi yang cukup kuat untuk menanggung tekanan subsidi, meski harga minyak dunia sudah menembus 100 dolar AS per barel.
Ketua Komisi XI DPR RI M. Misbakhun mengatakan kemampuan fiskal negara masih dapat menjaga stabilitas harga BBM bersubsidi. Menurut dia, beban anggaran memang naik, tetapi ruang fiskal Indonesia tetap dinilai aman karena sudah dihitung bersama pemerintah dan DPR.
Tekanan minyak dan ruang fiskal
Misbakhun menjelaskan, asumsi awal APBN mematok harga minyak di kisaran 70 dolar AS per barel. Kondisi pasar saat ini jelas sudah melampaui patokan itu, sehingga wajar jika muncul pertanyaan soal daya tahan anggaran negara.
Meski begitu, ia menilai tekanan tersebut masih dapat ditanggung selama rata-rata harga minyak dunia sampai akhir tahun tidak bergerak jauh dari posisi saat ini. Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia pernah menghadapi periode harga minyak di bawah 70 dolar AS per barel, sehingga secara rata-rata fiskal masih ada ruang yang dianggap aman.
Mengapa harga BBM ditahan
Bagi Komisi XI, kebijakan menahan harga BBM bersubsidi bukan keputusan spontan. Misbakhun menyebut langkah itu terkait dengan upaya melindungi daya beli masyarakat, menahan inflasi, dan menjaga pertumbuhan ekonomi.
Ia menilai Presiden Prabowo memiliki dorongan kuat agar beban kenaikan harga tidak langsung dipikul masyarakat lapisan tertentu. Karena itu, pemerintah memilih menanggung sebagian beban subsidi meski konsekuensinya menambah tekanan pada anggaran negara.
Rupiah ikut menentukan beban
Di luar harga minyak, Komisi XI juga menyoroti pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Misbakhun menilai pergerakan kurs ini dapat memicu inflasi, terutama melalui kenaikan harga barang impor.
Ia meminta Bank Indonesia mengambil langkah konkret untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Misbakhun juga menyebut Gubernur Bank Indonesia telah mengakui bahwa posisi rupiah saat ini berada di bawah nilai fundamentalnya.
Dampak impor dan inflasi perlu diawasi
Menurut Misbakhun, selisih harga akibat pelemahan rupiah tidak bisa dianggap ringan. Kenaikan pada barang impor berpotensi merembet ke harga barang lain dan menambah tekanan inflasi di dalam negeri.
Karena itu, stabilisasi nilai tukar menjadi salah satu faktor penting agar dampaknya tidak meluas. Pada saat yang sama, daya tahan APBN dalam menopang subsidi BBM tetap bergantung pada dua tekanan besar sekaligus, yakni harga minyak dan kurs rupiah.
Hitungan yang dinilai sudah matang
Misbakhun juga menanggapi keraguan pihak-pihak yang mempertanyakan kemampuan fiskal negara bila subsidi BBM terus dipertahankan. Ia menilai kekhawatiran itu wajar, tetapi kebijakan pemerintah tetap berdiri di atas perhitungan yang cermat, bukan perkiraan kasar.
Dengan dasar itu, Komisi XI DPR RI masih melihat APBN sebagai penopang utama subsidi BBM selama rata-rata harga minyak dunia tidak melampaui skenario yang sudah diperhitungkan. Stabilitas rupiah pun menjadi faktor yang semakin penting dalam menentukan seberapa besar tekanan fiskal dan inflasi ke depan.
Source: mediaindonesia.com




