Mauricio Souza Waspadai Titik Rapuh Persija, Laga Lawan Persib Harus Selesai Dengan 11 Pemain

Mauricio Souza menaruh satu perhatian besar menjelang duel Persija Jakarta kontra Persib Bandung: timnya tidak boleh lagi kehilangan pemain. Bagi pelatih asal Brasil itu, menjaga sebelas pemain tetap utuh adalah syarat penting agar Persija bisa bersaing penuh sepanjang laga.

Fokus itu muncul setelah Persija merasakan sendiri bagaimana satu kartu merah dapat mengubah jalannya pertandingan. Dalam pertemuan pertama, Macan Kemayoran sempat tampil seimbang bahkan lebih dominan pada beberapa momen, tetapi situasi berubah drastis setelah Bruno Tubarao diganjar kartu merah pada menit ke-54.

Kartu merah yang mengubah arah laga

Souza melihat laga pertama sebenarnya masih berada dalam kendali Persija sampai momen tersebut datang. Setelah bermain dengan sepuluh orang, timnya kesulitan menjaga ritme dan menghadapi lawan yang punya struktur bertahan kuat.

Karena itu, ia menilai disiplin menjadi aspek yang tidak bisa ditawar. Persija, menurutnya, harus bisa menyelesaikan pertandingan dengan 11 pemain agar peluang tetap terjaga sampai akhir.

Souza juga menyoroti gol Persib yang lahir dari kesalahan timnya. Dari situ, ia menempatkan ketelitian dan konsentrasi sebagai dua pekerjaan rumah yang harus dibenahi sebelum pertemuan berikutnya.

Persib dinilai rapat dan sulit ditembus

Di mata Souza, Persib bukan lawan yang mudah dibongkar. Ia menggambarkan tim asuhan lawan sebagai kesebelasan tangguh yang lebih banyak bertahan dibanding menyerang.

Situasi itu membuat Persija dituntut bekerja lebih keras untuk menembus blok pertahanan lawan. Peluang mencetak gol akan menjadi faktor penting, terutama bila Persija mampu mencuri keunggulan lebih dulu.

Namun, dorongan untuk terus menekan tidak boleh membuat fokus tim menurun. Souza ingin anak asuhnya tetap tenang dalam mengambil keputusan, karena sedikit saja kelengahan bisa mengubah hasil pertandingan.

Pelajaran dari laga pertama

Pertemuan pertama memberi gambaran bahwa Persija sebenarnya mampu menandingi Persib sebelum kartu merah memengaruhi jalannya laga. Itu menjadi modal sekaligus peringatan bagi tim ibu kota agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Bagi Souza, masalah utama bukan hanya soal taktik, melainkan juga kedisiplinan dalam menjalankan pertandingan. Jika aspek itu terjaga, Persija dinilai punya peluang lebih baik untuk menjaga intensitas permainan sampai menit akhir.

Jelang pertemuan berikutnya

Persija dan Persib akan kembali bertemu dalam lanjutan Super League 2025/2026 pada 10 Mei di Stadion Segiri, Samarinda. Laga itu akan menjadi panggung untuk melihat sejauh mana Persija menyerap pelajaran dari pertemuan sebelumnya.

Dua hal akan sangat menentukan bagi Persija, yaitu menjaga jumlah pemain tetap utuh dan memaksimalkan dominasi permainan. Jika keduanya berjalan bersamaan, peluang untuk menembus pertahanan rapat Persib akan terbuka lebih besar.

Source: www.suara.com
Exit mobile version